Climate Anxiety di Tengah Realitas Bencana
INFO BANDUNG BARAT — Akhir-akhir ini, pemberitaan mengenai bencana alam di Sumatra semakin marak menghiasi berbagai media. Banjir, tanah longsor, dan kerusakan lingkungan yang terjadi secara berulang menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman yang bersifat abstrak, melainkan realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari. Dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan secara fisik melalui kerusakan lingkungan dan hilangnya tempat tinggal, tetapi juga berdampak signifikan terhadap kondisi psikologis masyarakat.
Paparan tidak langsung melalui berita dan media sosial mengenai bencana, kerusakan lingkungan, serta dugaan kelalaian pemerintah dalam penanganannya dapat meningkatkan tingkat stres. Informasi yang diterima secara terus-menerus berpotensi memicu kecemasan, depresi, hingga hilangnya harapan terhadap masa depan. Dalam situasi seperti ini, individu tidak hanya merasa terancam secara fisik, tetapi juga secara emosional dan mental.
Kondisi tersebut tercermin dalam sebuah kasus yang sempat viral di media sosial, ketika seorang psikolog membagikan pengalamannya menangani klien yang mengalami distres akibat situasi negara. Secara umum, kesehatan mental memang memiliki keterkaitan erat dengan isu struktural, seperti kebijakan publik dan tata kelola pemerintahan. Namun, sering kali klien tidak menyadari bahwa tekanan psikologis yang dialaminya bersumber dari persoalan-persoalan tersebut.
Berbeda dengan kasus pada umumnya, klien dalam peristiwa ini secara jelas mengaitkan kondisi emosionalnya dengan cara pemerintah menangani korban bencana di Sumatra. Klien mengungkapkan rasa kecewa dan putus asa setelah menyaksikan pemerintah yang dinilai tidak cukup sigap dan serius dalam menangani bencana. Perasaan tersebut berkembang menjadi keyakinan bahwa masyarakat seolah tidak memiliki nilai dan suaranya tidak didengarkan. Ungkapan seperti, “Putus asa rasanya menjadi warga negara,” mencerminkan krisis kepercayaan terhadap negara yang berdampak langsung pada kondisi emosional individu. Rasa tidak diakui dan diabaikan ini dapat memperparah perasaan tidak berdaya serta melemahkan ketahanan psikologis.
Stres yang dipicu oleh situasi politik atau kebijakan pemerintah sebenarnya bukan fenomena baru. Di Amerika Serikat, Robert Wood Johnson Foundation pada 2014 menemukan bahwa hampir 40 persen responden menganggap politisi dan pejabat pemerintah sebagai sumber utama stres. Selain itu, lebih dari 30 persen responden mengaku bahwa membaca berita mengenai kondisi politik turut memperburuk tekanan psikologis yang mereka rasakan.
Dalam konteks krisis lingkungan global, tekanan psikologis ini dikenal dengan istilah climate anxiety atau kecemasan iklim. Istilah tersebut menggambarkan perasaan gelisah, takut, dan tidak berdaya akibat memikirkan perubahan iklim yang terus berlangsung beserta ancaman yang ditimbulkannya di masa depan. Kecemasan iklim banyak dialami oleh generasi muda yang merasa harus mewarisi dunia dengan kondisi ekologis yang semakin tidak stabil.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Planetary Health pada 2021 memperkuat gambaran tersebut. Penelitian yang melibatkan 10.000 responden muda di sepuluh negara menunjukkan bahwa 59 persen responden merasa sangat atau amat khawatir terhadap perubahan iklim. Sebagian besar responden juga menilai bahwa pemerintah belum bertindak secara memadai dalam menghadapi krisis ini, sehingga memperburuk kecemasan yang mereka rasakan.
Climate anxiety dapat memunculkan berbagai gejala, seperti gangguan tidur, perasaan tidak berdaya, serta kelelahan emosional. Meskipun belum tergolong sebagai gangguan mental formal, kondisi ini tidak dapat diabaikan. Apabila berlangsung dalam jangka waktu lama tanpa penanganan yang tepat, climate anxiety dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang secara signifikan.
Dengan demikian, kesehatan mental dan perubahan iklim bukanlah dua isu yang berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan saling memengaruhi. Kerusakan lingkungan, meningkatnya bencana alam, serta ketidakpastian akibat krisis iklim secara perlahan membentuk tekanan psikologis yang dirasakan banyak orang. Oleh karena itu, upaya menjaga kelestarian alam menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental masyarakat.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah