38°C
16/01/2026
Bhineka Hiburan

Doraemon dan MTV Berhenti Tayang, Budaya Nonton Bareng Terancam Hilang?

  • Januari 9, 2026
  • 3 min read
Doraemon dan MTV Berhenti Tayang, Budaya Nonton Bareng Terancam Hilang?

INFO BANDUNG BARAT — Awal 2026 menjadi penanda penting dalam sejarah media populer. Dua nama besar yang selama puluhan tahun melekat dalam kehidupan penonton, Doraemon dan MTV, mengalami nasib serupa. Di Indonesia, Doraemon resmi berhenti tayang di RCTI setelah menemani pemirsa selama sekitar 35 tahun. Sementara itu, secara global, MTV menutup sejumlah kanal musik yang selama ini menayangkan video musik selama 24 jam nonstop. Dua peristiwa ini menunjukkan perubahan besar dalam dunia media yang tidak lagi berpihak pada kebiasaan menonton kolektif.

Sejak pertama kali tayang pada 9 Desember 1990, Doraemon hadir sebagai tontonan keluarga yang dinantikan setiap Minggu pagi. Ia bukan sekadar animasi anak, tetapi ruang kebersamaan yang mempertemukan berbagai generasi di depan satu layar. Nilai persahabatan, empati, dan penerimaan terhadap perbedaan karakter yang dihadirkan Doraemon ikut membentuk pengalaman sosial anak-anak dari beragam latar belakang. Hal serupa juga pernah dilakukan MTV. Sejak mengudara pada 1981, MTV menjadi medium yang memperkenalkan musik, budaya pop, dan ekspresi identitas lintas negara secara kolektif melalui televisi, sebelum akhirnya format siaran tersebut ditinggalkan karena perubahan kebiasaan audiens.

Berhentinya Doraemon di RCTI diduga berkaitan dengan berakhirnya kontrak hak siar, meski belum ada penjelasan resmi dari pihak stasiun televisi. Penutupan kanal musik MTV secara global secara terbuka dikaitkan dengan pergeseran konsumsi media ke platform digital dan layanan streaming. Dalam konteks ini, televisi konvensional semakin tersisih oleh logika industri yang mengutamakan efisiensi, personalisasi, dan distribusi konten berbasis algoritma.

Perubahan tersebut membawa dampak sosial yang lebih luas. Budaya nonton bareng yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari perlahan menghilang, digantikan oleh konsumsi media yang semakin individual melalui gawai pribadi. Ruang tamu yang dulu menjadi titik temu kini tergantikan oleh layar-layar kecil yang memisahkan pengalaman menonton satu sama lain. Padahal, menonton bersama bukan hanya soal hiburan, tetapi juga tentang berbagi waktu, percakapan, dan pengalaman emosional antargenerasi.

Dalam kajian akademik, media dipahami sebagai ruang penting pembentukan identitas sosial. Hal ini dijelaskan dalam berbagai artikel yang dimuat di Journal of Children and Media (2018), yang menegaskan bahwa paparan terhadap tayangan dengan karakter dan representasi yang beragam membantu anak memahami perbedaan budaya dan sosial, sekaligus mengembangkan empati. Ketika konsumsi media menjadi semakin terfragmentasi dan individual, proses pembelajaran sosial yang selama ini terjadi secara kolektif berpotensi melemah.

Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian komunikasi di Indonesia. Studi yang dipublikasikan dalam Jurnal Ilmu Komunikasi (2020) menunjukkan bahwa kualitas dan konteks konsumsi tontonan, khususnya tayangan anak dan hiburan populer, berpengaruh terhadap perilaku sosial dan kemampuan interaksi. Tontonan yang dikonsumsi bersama cenderung membuka ruang diskusi dan refleksi, sementara konsumsi individual berisiko mengurangi intensitas interaksi sosial.

Berhentinya Doraemon dan MTV pada akhirnya bukan sekadar soal program yang tidak lagi tayang, melainkan tentang berubahnya cara kita hidup bersama melalui media. Seperti dijelaskan dalam buku Children and Media: A Global Perspective (2015), media memiliki peran penting dalam membentuk cara manusia memahami dirinya sendiri dan orang lain. Di tengah arus digitalisasi yang tak terelakkan, tantangan ke depan bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana menjaga media tetap menjadi ruang bersama yang mempertemukan, mencerminkan keberagaman manusia, dan memperkuat rasa kebersamaan.***

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *