38°C
11/03/2026
Media

Ketika Tagar #BOIKOTTRANS7 Menguji Pemahaman Budaya Pesantren

  • Oktober 15, 2025
  • 2 min read
Ketika Tagar #BOIKOTTRANS7 Menguji Pemahaman Budaya Pesantren

INFO BANDUNG BARAT — Tagar #BOIKOTTRANS7 sempat memicu gelombang perbincangan di media sosial setelah sebuah program televisi dianggap menyinggung kehidupan pesantren. Tayangan tersebut dinilai tidak sensitif terhadap nilai-nilai yang hidup di lingkungan pondok, terutama dalam menggambarkan interaksi santri dan kiai. Banyak kalangan, khususnya dari komunitas pesantren, menilai penggambaran itu jauh dari realitas keseharian mereka.

Bagi masyarakat pesantren, tradisi seperti mencium tangan kiai atau berebut sisa air minum bukanlah perilaku berlebihan, melainkan bentuk penghormatan dan keberkahan yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, bagi masyarakat di luar pesantren yang tidak memahami konteksnya, kebiasaan tersebut sering kali disalahartikan. Di sinilah pentingnya pemahaman lintas budaya agar nilai-nilai lokal tidak ditafsirkan secara keliru.

Pesantren sendiri memiliki peran yang besar dalam sejarah sosial Indonesia. Ia bukan hanya lembaga pendidikan agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter, moralitas, dan kemandirian. Dalam sejarahnya, pesantren turut berperan dalam perjuangan kemerdekaan dan penyebaran nilai-nilai kebangsaan. Hingga kini, pesantren tetap menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga harmoni sosial dan keagamaan di Indonesia.

Kasus #BOIKOTTRANS7 membuka ruang refleksi tentang bagaimana media berperan dalam menghadirkan keberagaman budaya secara utuh. Dalam proses produksi konten, kepekaan terhadap simbol, bahasa, dan kebiasaan masyarakat sangat diperlukan. Kesalahan dalam memahami konteks budaya dapat menimbulkan jarak antara media dan masyarakat yang seharusnya mereka representasikan.

Perdebatan seputar #BOIKOTTRANS7 juga mengingatkan bahwa dialog antara media dan masyarakat pesantren sangat penting untuk membangun saling pengertian. Dengan keterbukaan dan kesadaran budaya, keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia dapat terus dirawat tanpa menimbulkan kesalahpahaman atau prasangka.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *