38°C
20/02/2026
Bhineka

Renungan Keberagaman Ketika Imlek, Ramadan dan Prapaskah Bertemu dalam Satu Waktu

  • Februari 20, 2026
  • 3 min read
Renungan Keberagaman Ketika Imlek, Ramadan dan Prapaskah Bertemu dalam Satu Waktu

INFO BANDUNG BARAT — Untuk pertama kalinya sejak 1863, Tahun Baru Imlek, Ramadan, dan Masa Prapaskah dimulai dalam rentang waktu yang hampir bersamaan pada 17–18 Februari 2026. Fenomena langka ini terjadi karena pertemuan tiga sistem kalender berbeda, yaitu kalender Tionghoa yang bersifat lunisolar, kalender Hijriah berbasis peredaran bulan, serta kalender liturgi Kristen yang mengikuti perhitungan kalender Gregorian menuju Paskah. Peristiwa ini diperkirakan baru akan terulang kembali pada 2189.

Tahun Baru Imlek 2577 yang dimulai pada 17 Februari 2026 menjadi simbol pembaruan, harapan, dan penghormatan kepada leluhur dalam tradisi Tionghoa. Perayaan ini identik dengan pertemuan keluarga, doa bersama, serta penguatan identitas budaya lintas generasi. Dalam konteks Indonesia, Imlek memiliki perjalanan sejarah yang tidak sederhana. Seperti dijelaskan dalam Kompas.com (2024), perayaan ini pernah dibatasi pada masa Orde Baru sebelum akhirnya kembali diakui sebagai hari libur nasional pada era Reformasi. Fakta tersebut menunjukkan bahwa ekspresi budaya merupakan bagian penting dari dinamika sosial dan pengakuan terhadap keberagaman warga negara.

Di waktu yang hampir bersamaan, sebagian umat Islam memasuki Ramadan pada malam 17 Februari dengan puasa pertama pada 18 Februari 2026, sebagian lagi memulai Ramadan di hari setelahnya. Ramadan bukan sekadar praktik menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembentukan karakter melalui pengendalian diri, refleksi spiritual, serta penguatan solidaritas sosial lewat zakat dan sedekah. Dalam masyarakat majemuk, Ramadan sering menjadi ruang perjumpaan lintas iman melalui tradisi buka puasa bersama atau kegiatan sosial yang melibatkan berbagai komunitas. Praktik dialog dan interaksi antarumat ini juga disoroti dalam Houston Chronicle (2026), yang menekankan bagaimana momentum spiritual dapat membuka ruang saling memahami.

Pada 18 Februari 2026, umat Kristiani memulai Masa Prapaskah yang diawali dengan Rabu Abu. Selama 40 hari menjelang Paskah, umat menjalani masa doa, puasa, dan pertobatan sebagai refleksi spiritual. Nilai kesederhanaan, disiplin diri, dan kepedulian terhadap sesama yang hadir dalam Prapaskah memiliki irisan makna dengan Ramadan, meskipun keduanya berada dalam tradisi teologis yang berbeda. Sebagaimana dibahas dalam The Star (2026), kesamaan nilai ini memperlihatkan bahwa praktik spiritual lintas agama kerap bertemu dalam pesan kemanusiaan yang universal.

Secara ilmiah, pertemuan tiga momentum ini dipengaruhi oleh perbedaan panjang tahun dalam kalender lunar dan solar. Kalender Hijriah yang lebih pendek sekitar 10–11 hari dari kalender matahari menyebabkan Ramadan terus bergeser setiap tahun, sementara kalender Tionghoa menyesuaikan siklus bulan dengan musim. Penentuan Paskah dan Prapaskah pun bergantung pada siklus bulan purnama setelah ekuinoks musim semi. Interaksi kompleks tersebut, seperti kembali diuraikan dalam Leetmedia.id (2026), menjadikan pertemuan ketiganya sebagai peristiwa yang sangat jarang.

Momentum bertemunya Imlek, Ramadan, dan Prapaskah pada 2026 bukan hanya catatan sejarah penanggalan, melainkan refleksi tentang bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan dalam harmoni waktu. Dari sinilah muncul kesadaran bahwa perbedaan tradisi bukanlah batas pemisah, melainkan bagian dari kekayaan kemanusiaan yang saling melengkapi.***

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *