65 Rumah Rusak di Padalarang Diterjang Puting Beliung, Kenali Fenomena Cuaca Ekstrem Ini
INFO BANDUNG BARAT — Angin puting beliung menerjang wilayah Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pada Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 15.00 WIB. Peristiwa cuaca ekstrem tersebut menyebabkan sedikitnya 65 rumah warga mengalami kerusakan. Kerusakan paling banyak terjadi di RW 4 dengan sekitar 50 rumah terdampak, sementara empat rumah dilaporkan rusak di RW 5 dan 11 rumah di RW 9. Selain rumah warga, bangunan Pondok Pesantren Nurul Falah Almusri 1 juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat terjangan angin kencang. Informasi mengenai kejadian ini dilaporkan oleh Jabar Ekspres dalam pemberitaannya mengenai dampak angin puting beliung di wilayah Padalarang.
Sebelum kejadian, wilayah Padalarang sempat diguyur hujan dalam waktu singkat. Meski hujan telah reda, kondisi langit masih terlihat gelap sebelum akhirnya angin kencang datang secara tiba-tiba dan menerjang kawasan permukiman warga. Di wilayah lain seperti Desa Cimerang, kejadian angin kencang juga menyebabkan pohon tumbang di kawasan industri Cimareme dan beberapa jalan lingkungan. Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana fenomena cuaca ekstrem dapat muncul secara mendadak dan berdampak langsung pada aktivitas masyarakat.
Angin puting beliung merupakan fenomena angin kencang yang berputar membentuk pusaran menyerupai belalai dan biasanya terjadi dalam waktu singkat. Fenomena ini umumnya terbentuk dari awan cumulonimbus, yaitu awan badai yang dapat memicu hujan lebat, petir, serta angin kencang. Menurut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puting beliung terbentuk ketika udara panas dan lembap di permukaan bumi naik ke atmosfer lalu bertemu dengan udara yang lebih dingin. Perbedaan suhu dan tekanan udara tersebut kemudian memicu terbentuknya pusaran angin yang bergerak cepat hingga menyentuh permukaan tanah.
Meski biasanya berlangsung singkat, angin puting beliung dapat menimbulkan kerusakan yang cukup besar, terutama pada bangunan dengan struktur ringan seperti rumah dengan atap seng atau genteng. Selain merusak bangunan, angin kencang juga dapat menyebabkan pohon tumbang dan mengganggu aktivitas masyarakat di wilayah yang dilaluinya. Dalam berbagai kajian meteorologi, fenomena ini juga dikenal sebagai badai lokal yang terbentuk dari pertumbuhan awan badai dalam waktu singkat.
Di Indonesia, angin puting beliung lebih sering terjadi pada masa pancaroba atau peralihan musim. Pada periode ini kondisi atmosfer cenderung tidak stabil sehingga memicu pertumbuhan awan cumulonimbus yang dapat menghasilkan hujan lebat, petir, dan angin kencang. BMKG menyebutkan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melihat tanda-tanda perubahan cuaca seperti langit tiba-tiba gelap, udara terasa panas atau gerah, serta angin yang mulai bertiup kencang sebelum hujan turun.
Peristiwa puting beliung di Padalarang menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem dapat terjadi secara tiba-tiba dan berdampak langsung pada permukiman warga. Memantau informasi cuaca resmi, memperkuat bagian rumah yang rentan terhadap angin kencang, serta menghindari berteduh di bawah pohon besar saat cuaca buruk menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko ketika fenomena ini terjadi.***