38°C
27/07/2026
Edukasi

Menembus Top 10 Global: Membedah 7 Isu Kebijakan Publik dalam Serial ‘Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams

  • Juli 3, 2024
  • 5 min read
Menembus Top 10 Global: Membedah 7 Isu Kebijakan Publik dalam Serial ‘Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams

INFO BANDUNG BARATSerial terbaru besutan sutradara kondang Joko Anwar yang tayang di Netflix sukses mencatatkan prestasi gemilang dengan ditonton lebih dari 20 juta kali. Pencapaian ini mengantarkan mahakarya bergenre fiksi ilmiah-supernatural tersebut menembus daftar 10 besar serial terlaris internasional (Top 10 TV Shows Non-English) di platform penyedia layanan media penstriman tersebut.

Sebuah sinema yang baik tidak hanya berfungsi sebagai medium hiburan, tetapi juga mampu mengemban fungsi pemantik kesadaran lewat pesan sosiopolitik yang disisipkan. Komitmen itulah yang tersaji dalam serial antologi ini. Mengutip analisis dari Think Policy, berikut adalah bedah mendalam mengenai tujuh isu sosial di Indonesia yang disorot tajam, serta bagaimana kebijakan publik seharusnya hadir sebagai solusi sistemik:

1. Perlindungan Lansia dan Jaminan Hari Tua

Pada Episode 1 yang berjudul Old House, penonton disajikan kisah Panji, seorang sopir taksi yang terpaksa menitipkan ibunya yang mengidap demensia di sebuah panti jompo misterius demi melindungi balitanya.

  • Nightmare (Realitas Pahit): Episode ini merefleksikan kecemasan riil masyarakat urban: tidak adanya opsi fasilitas publik yang layak, terjangkau, dan manusiawi untuk memastikan kualitas hidup populasi lanjut usia (lansia) di Indonesia.

  • Daydream (Solusi Kebijakan): Manifestasi harapan publik akan lahirnya kebijakan komprehensif terkait reformasi jaminan hari tua dan penyediaan infrastruktur perawatan lansia (elderly care) yang diintegrasikan ke dalam sistem jaminan sosial nasional.

2. Krisis Pengelolaan Sampah dan Keselamatan Pekerja

Episode 2, The Orphan, mengisahkan sepasang suami istri pemulung yang nekat mengadopsi anak yatim piatu demi mendatangkan kekayaan instan. Alur cerita mencapai klimaks saat anak tersebut hampir tewas tertimbun longsoran gunung sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

  • Nightmare (Realitas Pahit): Kelebihan kapasitas (overcapacity) TPA di berbagai kota besar Indonesia sering kali memicu bencana sekunder, mulai dari longsor, pencemaran lindi, pelepasan gas metana berbahaya, hingga kebakaran hebat.

  • Daydream (Solusi Kebijakan): Diperlukannya implementasi kebijakan tata kelola sampah dari hulu ke hilir yang ketat, modernisasi fasilitas pengolahan, serta jaminan perlindungan kesehatan kerja bagi para pemulung dan warga di sekitar TPA.

3. Penegakan Hukum dan Perlindungan Korban KDRT

Poems and Pains (Episode 3) menyoroti kehidupan seorang novelis perempuan yang tengah menulis kisah tentang korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Secara misterius, ia merasakan langsung setiap siksaan fisik yang dialami oleh karakter rekaannya tersebut.

  • Nightmare (Realitas Pahit): Merepresentasikan hambatan struktural di mana korban KDRT di dunia nyata sering kali menghadapi stigma sosial dan kesulitan berlapis saat mengakses perlindungan hukum, sementara pelaku kerap melenggang tanpa konsekuensi pidana yang setimpal.

  • Daydream (Solusi Kebijakan): Reformasi penegakan hukum yang berpihak penuh pada korban, optimalisasi sistem rumah aman (shelter), serta penegakan regulasi UU Penghapusan KDRT (PKDRT) secara konsisten dan tanpa pandang bulu.

4. Konflik Agraria dan Hak Atas Tanah Rakyat

Dalam Episode 4, The Encounter, Joko Anwar mengangkat potret konflik vertikal di sebuah kampung nelayan yang digusur sepihak atas klaim kepemilikan lahan oleh pemerintah, padahal komunitas tersebut telah bermukim di sana secara turun-temurun sejak sebelum era kemerdekaan.

  • Nightmare (Realitas Pahit): Sengketa batas lahan, tumpang tindih regulasi, perampasan hak atas tanah adat, serta represi aparat dalam konflik agraria masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat kelas bawah di Indonesia.

  • Daydream (Solusi Kebijakan): Realisasi reforma agraria yang berkeadilan sosial, pengakuan legalitas tanah ulayat, serta penyusunan kebijakan tata ruang yang mengedepankan kesejahteraan rakyat di atas kepentingan ekonomi korporasi.

5. Fasilitas Kesehatan bagi Pasien Gangguan Jiwa

Episode 5, The Other Side, mengikuti perjalanan Bandi yang masuk ke dalam bioskop tua dan terjebak di masa lalu. Tragisnya, di akhir cerita Bandi digambarkan berakhir menjadi Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang menggelandang telantar di jalanan.

  • Nightmare (Realitas Pahit): Akses terhadap fasilitas kesehatan mental di Indonesia masih sangat timpang. Populasi ODGJ kerap mengalami diskriminasi, minim perawatan medis penunjang yang layak, hingga tindakan tidak manusiawi seperti pemasungan.

  • Daydream (Solusi Kebijakan): Penguatan payung hukum hak asasi manusia bagi penyandang disabilitas mental, pemerataan fasilitas rehabilitasi kejiwaan di tiap daerah, serta pembiayaan layanan kesehatan mental yang terjangkau lewat BPJS Kesehatan.

6. Inklusi dan Akses Lapangan Kerja Penyandang Disabilitas

Episode 6 yang berjudul Hypnotized menceritakan seorang pria dengan kondisi buta warna parsial yang kesulitan mendapatkan pekerjaan formal. Impitan ekonomi yang mendesak akhirnya memaksa dia melakukan tindak kriminal berhipnosis yang berujung petaka.

  • Nightmare (Realitas Pahit): Data ketenagakerjaan menunjukkan potret diskriminasi yang nyata: dari total sekitar 17 juta populasi penyandang disabilitas usia produktif di Indonesia, hanya sekitar 7,6 juta yang aktif terserap di dunia kerja.

  • Daydream (Solusi Kebijakan): Penerapan kuota kerja wajib bagi penyandang disabilitas di instansi pemerintahan dan swasta sesuai amanat undang-undang, disertai penyediaan fasilitas kerja yang inklusif dan aksesibel.

7. Tingginya Angka Pengangguran Muda (Youth Unemployment)

Sebagai konklusi dari keseluruhan jalinan cerita, Episode 7 (P.O. Box) mengisahkan perjuangan Valdya yang melamar pekerjaan di sebuah perusahaan misterius demi mencari kakak perempuannya yang hilang misterius selepas wawancara kerja di tempat tersebut.

  • Nightmare (Realitas Pahit): Fenomena ini berakar dari data riil ketenagakerjaan Indonesia. Kementerian Ketenagakerjaan mencatat hampir 10 juta penduduk usia produktif muda (15–24 tahun) masuk ke dalam kategori menganggur, atau menyentuh angka sekitar 25 persen dari total angkatan kerja muda.

  • Daydream (Solusi Kebijakan): Reformasi kurikulum pendidikan yang selaras dengan kebutuhan industri (link and match), penciptaan lapangan kerja baru yang lestari (green jobs), serta stimulus program kewirausahaan bagi generasi muda.

Kesimpulan

Melalui ketujuh episodenya, Joko Anwar’s Nightmares and Daydreams berhasil membuktikan bahwa sinema fantasi-thriller dapat menjadi cermin kritis bagi realitas sosial sebuah bangsa. Namun, segala bentuk keluhan masyarakat (nightmare) dan harapan kolektif (daydream) tersebut tidak akan pernah menemui jalan keluar jika hanya menjadi wacana. Dibutuhkan intervensi kebijakan publik yang memadai pada tingkat sistemik, yang dirumuskan berdasarkan riset ilmiah yang kuat serta bukti empiris yang valid di lapangan.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *