38°C
10/09/2026
Budaya

Melampaui Pandangan Animisme melalui Jejak Monoteisme Sunda Kuno dalam Pantun Bogor

  • September 10, 2026
  • 7 min read
Melampaui Pandangan Animisme melalui Jejak Monoteisme Sunda Kuno dalam Pantun Bogor

INFO BANDUNG BARAT — Kesadaran spiritual masyarakat Sunda pada masa pra-Islam acap kali direduksi secara sepihak. Banyak pihak memandangnya sekadar jatuh ke dalam bingkai animisme dan dinamisme semata. Konstruksi sejarah yang kerap dipengaruhi oleh sudut pandang simplistis ini sesungguhnya mengabaikan kekayaan ontologis lokal. Pandangan tersebut menafikan kompleksitas pemikiran Nusantara yang sejatinya telah memiliki diskursus filsafat yang mapan sejak berabad-abad lampau.

Premis usang tersebut dibantah secara empiris melalui pembacaan hermeneutik dalam riset Sistem Kepercayaan Monoteistik Masyarakat Sunda Sebelum Kedatangan Islam dalam Pantun Bogor. Penelitian karya Usman Supendi dan Ilham Maulana yang dipublikasikan dalam Jurnal Dialektika Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati ini membuka ruang dialektika baru. Penelusuran filologis mereka secara spesifik sukses menyingkap kedalaman pemikiran teologis kebudayaan Sunda purba.

Tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun ini terbukti tidak hanya berisi epik naratif biasa. Di dalamnya terekam jejak pemikiran monoteistik purba yang sangat terstruktur dan murni. Temuan tekstual dalam publikasi tersebut menjadi argumentasi kuat bahwa leluhur masyarakat Sunda berpegang teguh pada konsepsi ketuhanan yang absolut. Mereka meyakini eksistensi satu kekuatan ilahi yang mengatasi segala materi alam semesta.

Penelitian Supendi dan Maulana membedah Pantun Bogor sebagai instrumen filologis utama dalam mengungkap sejarah spiritual tersebut. Epik naratif lisan ini dianalisis tidak sekadar sebagai instrumen kesenian, melainkan medium transendental yang mengurai sejarah penciptaan jagat raya. Melalui bedah naskah yang ketat inilah, gagasan mengenai ketunggalan Tuhan terekam dengan amat terang benderang dan siap diuji secara akademis.

Ontologi Sang Hyang Tunggal dalam Kosmologi Sunda

Dalam berbagai suluk, narasi, dan mantra yang dikaji dalam publikasi UIN Sunan Gunung Djati tersebut, kekuatan tertinggi memiliki nama definitif. Supendi dan Maulana memaparkan temuan bahwa kekuatan gaib ini bermanifestasi melalui sebutan Sang Hyang Tunggal atau Sang Hyang Kersa. Penyebutan spesifik ini adalah wujud pengakuan ontologis yang tegas terhadap entitas tunggal sang penguasa kosmos.

Konsepsi ini dibuktikan secara akademis melalui investigasi teks atas Sahadat Pajajaran. Hasil analisis kedua peneliti menunjukkan bahwa entitas ilahi dalam pandangan Sunda kuno sama sekali tidak terikat oleh wujud yang fana. Sang Hyang Tunggal dipahami sebagai entitas yang tidak memiliki jasad fisik serta terbebas dari segala bentuk batasan ruang maupun waktu duniawi.

Temuan tekstual ini sejalan dengan analisis mendalam budayawan Jakob Sumardjo dalam bukunya, Sunda: Pola Rasionalitas Budaya. Sumardjo menjelaskan bahwa rasionalitas masyarakat Sunda tradisional bermuara pada konsep Tritangtu, di mana segala dualisme alam semesta pada akhirnya melebur dalam satu ketunggalan. Ketunggalan inilah yang direpresentasikan sebagai Sang Hyang Tunggal, entitas kausa prima yang tidak berwujud namun menjadi sumber mutlak dari segala wujud.

Konsep ketuhanan yang nirrupa dan nirjasad ini memperlihatkan tingkat abstraksi pemikiran teologis yang paripurna dari masyarakat di masa lampau. Fakta tekstual yang disajikan Supendi dan Maulana mematahkan asumsi lawas peninggalan literatur masa kolonial. Spiritualitas Sunda kuno terbukti tidak memusatkan pemujaan utamanya pada roh atau benda mati, melainkan pada pencipta tertinggi.

Kajian dalam jurnal tersebut, yang juga beririsan kuat dengan diskursus pemikiran Sumardjo, mengonfirmasi bahwa hierarki spiritual Sunda bertumpu mutlak pada ketunggalan kekuasaan. Keyakinan tingkat tinggi ini telah mengakar kuat di tengah masyarakat jauh sebelum tatar Sunda bersentuhan masif dengan ajaran agama samawi. Eksistensi ilahiah tunggal ini menjadi payung epistemologis murni yang menaungi seluruh aktivitas kebudayaan manusia.

Harmoni Ekologis dan Relasi Makrokosmos

Investigasi Supendi dan Maulana terhadap naskah lisan ini membawa penjelasan eksistensial yang luas. Pantun Bogor tidak hanya menguraikan perihal ketuhanan secara vertikal kepada entitas Sang Pencipta semata. Lebih jauh, riset ini membedah fondasi filsafat hidup holistik mengenai posisi manusia di muka bumi dalam kacamata leluhur Sunda.

Penelitian ini menyoroti bahwa tatanan hidup masyarakat Sunda tradisional bertumpu secara esensial pada prinsip keselarasan kosmis. Argumentasi tekstual ini ditopang secara historis oleh sejarawan Edi S. Ekajati dalam literatur babonnya, Kebudayaan Sunda: Zaman Pajajaran. Ekajati secara gamblang memaparkan bahwa kosmologi Sunda tidak pernah memberikan privilese bagi manusia untuk mengeksploitasi alam sekitarnya secara serampangan.

Manusia sama sekali tidak dikonstruksi sebagai entitas superior yang bebas merusak bumi demi memenuhi syahwat kebendaan belaka. Sebaliknya, baik analisis teks dalam Jurnal Dialektika maupun penelusuran literatur Ekajati sepakat bahwa manusia diposisikan sekadar sebagai mikrokosmos atau jagat alit. Posisi ini menuntut manusia agar senantiasa tunduk, patuh, dan menyelaraskan ritme napasnya pada hukum keseimbangan makrokosmos atau jagat ageung.

Sikap rendah hati ini teraplikasi dengan presisi melalui serangkaian tindakan ekologis masyarakat. Elemen dasar pembentuk semesta seperti gunung, hutan atau leuweung, air atau cai, dan tanah atau taneuh dijauhkan dari kacamata komoditas yang eksploitatif. Alam diposisikan sebagai ruang komunal sakral sekaligus ruang pembuktian dari keagungan ciptaan Sang Hyang Tunggal.

Merusak kelestarian lingkungan membawa konsekuensi teologis yang amat berat bagi keberlangsungan hidup. Tindakan destruktif tersebut berakar pada penentangan terhadap tatanan agung yang digariskan oleh kekuasaan mahatinggi. Temuan komprehensif ini menguraikan dengan logis bagaimana berbagai pantangan adat Sunda bekerja sebagai instrumen perlindungan ekologis yang dibalut keanggunan teologi alam.

Epistemologi Karuhun dan Batas Penghormatan Teologis

Selain mengatur tata hubungan dengan lingkungan, pembacaan riset kepantunan ini juga membedah batasan sosiologis dan genealogis di ranah kultural. Naskah Pantun Bogor memberikan kerangka epistemologis yang sangat jernih mengenai porsi posisi para pendahulu bangsa. Sosok perintis yang berjasa meletakkan tonggak peradaban ini lazim dihormati oleh masyarakat adat sebagai leluhur atau karuhun.

Penghormatan luhur masyarakat tradisional terhadap leluhur sering kali dilabeli secara serampangan oleh pengamat luar sebagai wujud kemusyrikan murni. Analisis tekstual yang dipublikasikan Supendi dan Maulana mengurai kekeliruan tersebut dengan sangat elegan. Kepercayaan Sunda kuno dioperasikan melalui garis demarkasi yang tegas antara kepatuhan sosial dan ketuhanan absolut.

Kerangka berpikir ini berjalan sinkron dengan anatomi naskah kuno Sanghyang Siksakanda Ng Karesian yang kerap diulas oleh sejarawan Saleh Danasasmita. Dalam kajian-kajian filologisnya, Danasasmita selalu menitikberatkan pada pemisahan yang terukur antara hierarki etika kemasyarakatan dan hierarki ketuhanan. Leluhur atau peletak dasar peradaban dihormati pada porsi kemanusiaannya sebagai guru kehidupan, bukan sebagai tuhan baru.

Leluhur diposisikan sebagai fondasi tegaknya nilai moral, muara petuah, dan pelita kultural bagi generasi muda dalam memecahkan permasalahan empiris. Mereka dihormati secara takzim karena rekam jejak panjangnya dalam merintis serta mewariskan peradaban kemanusiaan bagi anak cucu. Praktik penghormatan ini lahir dari mekanisme etika kelanjutan genealogis guna merawat ingatan kolektif suatu identitas bangsa.

Namun, baik rumusan di dalam Pantun Bogor maupun struktur sejarah naskah karesian membatasi laku tersebut pada tatanan sosial duniawi semata. Penyerahan diri atas hakikat takdir hanya bermuara pada satu entitas pencipta, bertumpu sepenuhnya pada kehendak Sang Hyang Tunggal. Karuhun dibatasi fungsinya hanya sebagai entitas perantara kebijaksanaan duniawi yang mewariskan kearifan hidup empiris.

Transmisi Pengetahuan Filosofis Melalui Sastra Lisan

Pembacaan kritis terhadap naskah dan literatur sejarah pada akhirnya membuka tabir mengenai bagaimana pemikiran teologis ini menyebar di masa silam. Sistem kepercayaan lokal yang bertumpu pada ketunggalan ini tidak diturunkan melalui teks-teks dogmatis yang kaku, melainkan dioperasikan melalui institusi sastra lisan yang dinamis. Tradisi lisan peninggalan leluhur difungsikan sebagai ruang kelas epistemologis bagi masyarakat awam untuk mencerna konsep ketuhanan yang berdimensi sangat abstrak.

Dalam mekanisme transmisi pengetahuan ini, sosok juru pantun memegang otoritas yang amat vital. Mereka beroperasi bukan sekadar sebagai penghibur rakyat yang melantunkan tembang di kesunyian malam, melainkan difungsikan sebagai penjaga gawang pemikiran filsafat Sunda. Melalui medium dawai kecapi dan ketahanan narasi Pantun Bogor, seorang juru pantun mentransfer kesadaran ontologis mengenai Sang Hyang Tunggal langsung ke dalam sel-sel memori kolektif para pendengarnya.

Proses resitasi narasi sakral ini memastikan bahwa gagasan ketuhanan yang nirrupa dan nirjasad dapat dicerna oleh logika komunal tanpa harus mereduksinya menjadi berhala wujud fisik. Lantunan Sahadat Pajajaran di dalam epos tersebut bekerja sebagai sebuah tindakan performatif. Ketika mantra dan suluk dikumandangkan di tengah masyarakat adat, mereka diajak untuk secara batiniah mengalami kembali proses penciptaan kosmos yang mahaluas dan merefleksikan posisi eksistensialnya.

Setiap pertunjukan pantun dirancang sebagai prosesi internalisasi nilai-nilai ketauhidan lokal yang diputar berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanpa mengandalkan institusi pendidikan formal pada masa tersebut, Pantun Bogor mengambil alih fungsi institusional penuh untuk merawat struktur logika filsafat ketuhanan. Kelenturan dan sifat adaptif dari sastra lisan inilah yang memungkinkan kearifan teologis purba menyusup masuk ke dalam relung kesadaran masyarakat tradisional, dan terus membentuk tata bahasa serta praktik kultural tanpa pernah memerlukan instruksi tertulis.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *