38°C
24/08/2026
Hiburan Peristiwa

Karya Hindia Dituduh Satanis, Ruang Ekspresi Seni Dipertanyakan

  • Juli 18, 2025
  • 2 min read
Karya Hindia Dituduh Satanis, Ruang Ekspresi Seni Dipertanyakan

INFO BANDUNG BARAT–Tuduhan satanisme kembali mencuat ke ranah publik setelah penampilan musisi Hindia dibatalkan di Tasikmalaya pada Juli 2025. Pembatalan ini dipicu oleh protes sekelompok warga yang menilai visual pertunjukan Hindia mengandung simbol-simbol sesat dan bertentangan dengan nilai agama.

Beberapa elemen visual yang dipersoalkan antara lain gambar mata satu, patung bersayap, serta gestur menutup mata. Simbol-simbol tersebut sebelumnya ditampilkan dalam pertunjukan Hindia di Jakarta dan tersebar melalui media sosial.

Baskara Putra Membantah Tuduhan

Baskara Putra, musisi di balik nama panggung Hindia, secara terbuka membantah tuduhan bahwa karyanya mempromosikan satanisme. Ia menegaskan bahwa simbol-simbol tersebut tidak memiliki keterkaitan dengan praktik ritual, melainkan merupakan bagian dari narasi artistik yang dibangun dalam pertunjukan.

“Saya membuat narasi visual seperti pertunjukan teater. Bukan mengajak ibadah atau ritual. Semua hanya bagian dari tema tentang kehidupan dan kematian,” ujar Baskara seperti dikutip dari JawaPos.com.

Menurut Baskara, album Lagipula Hidup Akan Berakhir merekam perjalanan emosi pribadi, termasuk kemarahan, kesedihan, dan kritik terhadap kondisi sosial-politik. Dalam wawancara lain, ia juga menyebut bahwa karya-karyanya mencerminkan “diary emosional” yang tidak selalu mudah dipahami secara permukaan.

Tema Sosial dalam Lagu-lagu Hindia

Dalam beberapa lagu di album tersebut, Hindia menyuarakan keresahan terhadap isu-isu seperti inflasi, krisis iklim, tekanan digital, serta otoritarianisme. Lagu Janji Palsu Pemerintah dan Masalah Masa Depan misalnya, menyentil kegagalan negara dalam memenuhi harapan warganya. Ini menunjukkan bahwa ekspresi seni yang diusung Hindia tidak berhenti pada lirik pribadi, tetapi juga menyentuh kepentingan publik.

Ketakutan atas Simbol dan Batas Tafsir Seni

Kasus ini membuka kembali perdebatan soal batas tafsir dalam seni dan bagaimana publik menanggapi simbol-simbol artistik. Dalam bukunya Representation (1997), Stuart Hall menjelaskan bahwa makna tidak bersifat tetap dan mutlak, melainkan dibentuk oleh proses representasi dan interpretasi.

Sementara itu, Roland Barthes dalam The Death of the Author (1967) mengusulkan agar karya seni dinilai tanpa mengaitkan secara mutlak dengan niat sang pencipta. Hal ini menandakan pentingnya membiarkan ruang interpretasi yang beragam tanpa serta-merta menghakimi atau melabeli.

Pembatasan ruang ekspresi, baik melalui tekanan sosial maupun sensor moral, dikhawatirkan dapat mengancam kebebasan berkesenian. Sejumlah akademisi di Indonesia, termasuk dari Universitas Gadjah Mada, telah menyoroti tren sensor seni yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Mereka menilai bahwa tafsir tunggal atas simbol dapat menjadi alat pembungkaman yang tidak adil.***

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *