38°C
24/08/2026
Edukasi Ekonomi

Apa Itu Desil? Memahami Cara Pemerintah Mengelompokkan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat

  • Agustus 24, 2026
  • 6 min read
Apa Itu Desil? Memahami Cara Pemerintah Mengelompokkan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat

INFO BANDUNG BARAT — Istilah desil belakangan semakin sering muncul dalam pembicaraan masyarakat. Mulai dari penyaluran bantuan sosial, pemutakhiran data keluarga, hingga pertanyaan mengenai siapa yang berhak menerima program pemerintah.

Tak sedikit pula yang kemudian bertanya, “Saya masuk Desil berapa?” atau “Kalau masuk Desil 5, apakah masih bisa mendapatkan bantuan?”

Pertanyaan tersebut muncul karena desil kini menjadi salah satu istilah penting dalam pembahasan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN. Namun, pemahaman mengenai desil sering kali masih bercampur dengan anggapan bahwa angka tersebut merupakan penanda mutlak apakah seseorang miskin, mampu, atau kaya.

Padahal, Badan Pusat Statistik atau BPS menjelaskan bahwa desil pada dasarnya merupakan pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan keluarga. Artinya, sebuah keluarga tidak dinilai secara berdiri sendiri, melainkan dibandingkan dengan keluarga lainnya berdasarkan berbagai karakteristik sosial dan ekonomi.

Lantas, apa sebenarnya arti Desil 1 hingga Desil 10 dan bagaimana pemerintah menggunakannya untuk membaca tingkat kesejahteraan masyarakat?

Apa Itu Desil?

Secara sederhana, desil adalah cara membagi data yang telah diurutkan menjadi 10 kelompok. Dalam konteks kesejahteraan masyarakat, keluarga diperingkatkan berdasarkan kondisi sosial ekonominya, kemudian dikelompokkan ke dalam 10 bagian.

Setiap kelompok atau desil mencakup sekitar 10 persen keluarga. Karena itu, Desil 1 merupakan kelompok dengan posisi kesejahteraan relatif paling rendah dalam pemeringkatan. Sebaliknya, Desil 10 merupakan kelompok dengan posisi kesejahteraan relatif paling tinggi.

Di antara keduanya terdapat Desil 2 hingga Desil 9 yang menunjukkan tingkatan posisi kesejahteraan secara bertahap. Yang perlu digarisbawahi, desil bukan angka pendapatan tertentu. Seseorang tidak otomatis masuk Desil 1 hanya karena memiliki penghasilan di bawah nominal tertentu. Begitu pula seseorang tidak serta-merta berada di Desil 10 hanya karena memiliki penghasilan tinggi.

Desil menunjukkan posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya dalam data yang digunakan untuk melakukan pemeringkatan.

Dari Desil 1 hingga Desil 10, Apa Bedanya?

Untuk memudahkan pemahaman, masyarakat kerap menggambarkan Desil 1 hingga Desil 10 berdasarkan tingkat kesejahteraannya.

Desil 1 dan Desil 2 umumnya menggambarkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah. Dalam konteks penyaluran perlindungan sosial, kelompok ini sering dikaitkan dengan keluarga yang berada dalam kondisi sangat miskin dan miskin.

Selanjutnya, Desil 3 dan Desil 4 kerap digambarkan sebagai kelompok hampir miskin hingga rentan miskin. Kelompok ini belum tentu berada dalam kategori kemiskinan yang sama, tetapi masih memiliki kerentanan terhadap perubahan kondisi ekonomi.

Desil 5 berada pada posisi di atas kelompok tersebut dan sering digambarkan sebagai kelompok dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Sementara itu, Desil 6 hingga Desil 10 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif yang semakin tinggi, dengan Desil 10 berada pada posisi tertinggi dalam pemeringkatan.

Namun, pembagian tersebut harus dipahami sebagai gambaran umum untuk memudahkan pembacaan tingkat kesejahteraan. BPS menegaskan bahwa desil bukan ukuran mutlak yang langsung menentukan apakah sebuah keluarga miskin atau kaya. Dua keluarga yang berada dalam desil yang sama belum tentu memiliki pendapatan, aset, atau kondisi kehidupan yang persis sama.

Desil hanya menunjukkan posisi relatif mereka dalam pemeringkatan yang dilakukan berdasarkan data sosial ekonomi.

Tidak Hanya Dilihat dari Besar Gaji

Salah satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul adalah anggapan bahwa posisi desil hanya ditentukan oleh jumlah pendapatan. Padahal, kondisi kesejahteraan masyarakat jauh lebih kompleks daripada sekadar melihat besar kecilnya penghasilan.

Dalam pengelompokan kesejahteraan, berbagai karakteristik sosial ekonomi dapat menjadi bagian dari informasi yang digunakan. Kondisi tempat tinggal, akses terhadap air minum dan sanitasi, pendidikan, pekerjaan, kepemilikan aset, usaha, hingga karakteristik anggota keluarga dapat memberikan gambaran mengenai kondisi sebuah rumah tangga.

Karena itulah, dua keluarga dengan jumlah pendapatan yang terlihat serupa belum tentu berada dalam posisi desil yang sama. Sebaliknya, perubahan pendapatan seseorang juga tidak selalu membuat posisi desilnya langsung berubah. Data perlu dimutakhirkan dan kondisi keluarga perlu dilihat secara lebih menyeluruh.

Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berupaya memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Hubungan Desil dengan DTSEN

Istilah desil kini banyak dikaitkan dengan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN. DTSEN merupakan basis data yang digunakan sebagai rujukan bersama dalam penyelenggaraan berbagai program pemerintah yang berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Data tersebut dibangun melalui integrasi sejumlah basis data, termasuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial atau DTKS, data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem atau P3KE, serta Registrasi Sosial Ekonomi atau Regsosek. Data kemudian dipadankan dan diperbarui dengan berbagai sumber informasi lainnya.

Dalam DTSEN, pengelompokan melalui desil membantu memberikan gambaran mengenai posisi relatif tingkat kesejahteraan keluarga. Namun, keberadaan desil bukan berarti pemerintah hanya melihat angka tersebut ketika menentukan kebijakan. Setiap kementerian dan lembaga dapat menggunakan data tersebut sesuai dengan tujuan dan ketentuan program yang dijalankan.

Dengan kata lain, desil merupakan salah satu cara untuk membantu membaca data masyarakat secara lebih terstruktur.

Apakah Masuk Desil Tertentu Otomatis Mendapat Bantuan Sosial?

Jawabannya, tidak otomatis.

Ini menjadi salah satu hal penting yang perlu dipahami masyarakat. Desil memang digunakan sebagai salah satu acuan dalam penargetan program pemerintah, termasuk program perlindungan sosial. Namun, posisi seseorang dalam desil tertentu bukan jaminan otomatis bahwa ia akan menjadi penerima bantuan.

Dalam konteks sejumlah program bantuan sosial, kelompok Desil 1 hingga Desil 4 atau 40 persen keluarga dengan tingkat kesejahteraan relatif terbawah dapat menjadi kelompok yang diprioritaskan atau dapat diusulkan sebagai penerima program, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Sementara itu, kelompok Desil 5 juga dapat digunakan sebagai sasaran untuk program tertentu, seperti Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan atau PBI-JK. Karena setiap program memiliki tujuan dan aturan yang berbeda, penggunaan data desil pun dapat berbeda.

Itulah sebabnya, seseorang tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa masuk ke dalam Desil 1 pasti menerima seluruh bantuan sosial atau berada di Desil 5 berarti tidak bisa mendapatkan bantuan sama sekali. Penetapan penerima tetap mengikuti mekanisme, persyaratan, dan ketentuan masing-masing program.

Desil Bukan Label Miskin atau Kaya

Pemahaman ini menjadi penting karena angka desil berpotensi disalahartikan sebagai label sosial. Seseorang yang berada di Desil 1 tidak serta-merta dapat disederhanakan sebagai “orang miskin”, begitu pula seseorang di Desil 10 tidak cukup hanya disebut “orang kaya”. Kondisi kehidupan setiap keluarga jauh lebih kompleks daripada satu angka dalam basis data.

Ada keluarga dengan pendapatan yang terbatas, tetapi memiliki rumah sendiri dan aset tertentu. Ada pula keluarga dengan pendapatan yang lebih tinggi, tetapi memiliki jumlah tanggungan besar atau menghadapi kondisi lain yang memengaruhi kesejahteraannya.

Karena itu, desil harus dibaca sebagai posisi relatif dalam sebuah sistem pemeringkatan, bukan sebagai identitas yang melekat secara permanen pada seseorang. Angka tersebut membantu pemerintah membaca pola dan tingkat kesejahteraan masyarakat dalam skala yang lebih luas.

Posisi Desil Bisa Berubah

Kondisi sosial dan ekonomi masyarakat tidak selalu tetap. Seseorang bisa mendapatkan pekerjaan baru, kehilangan sumber penghasilan, mengalami perubahan jumlah anggota keluarga, berpindah tempat tinggal, atau mengalami perubahan kondisi ekonomi lainnya.

Karena itu, posisi desil juga dapat berubah seiring dengan pemutakhiran data. Namun, perubahan satu kondisi tidak serta-merta membuat seseorang langsung berpindah dari satu desil ke desil lainnya. Posisi tersebut dihitung berdasarkan berbagai informasi dan dibandingkan secara relatif dengan kondisi keluarga lainnya.

Inilah alasan mengapa pemutakhiran data menjadi penting. Jika data yang tercatat tidak lagi sesuai dengan kondisi nyata masyarakat, maka informasi tersebut perlu diperbarui melalui mekanisme yang tersedia. Data yang lebih akurat akan membantu pemerintah menentukan sasaran program dengan lebih tepat.

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *