Siaga Bencana di Jawa Barat: Pentingnya Menyiapkan Tas Siaga Bencana
INFO BANDUNG BARAT — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, resmi menetapkan Status Siaga Darurat Bencana untuk 27 kota/kabupaten di wilayah Jawa Barat. Penetapan tersebut tercantum dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025, yang berlaku mulai 15 September 2025 hingga 30 April 2026. Melalui kebijakan ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama BPBD menyiapkan berbagai peralatan dan logistik untuk menghadapi potensi bencana seperti banjir, longsor, cuaca ekstrem, hingga abrasi pesisir.
Dengan meningkatnya frekuensi bencana alam dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan, salah satunya melalui penyiapan tas siaga bencana atau Go-Bag/72-hour kit. Tas ini adalah ransel tahan air yang dirancang agar seseorang dapat bertahan hidup selama 72 jam pertama pascabencana ketika bantuan masih terbatas.
BNPB menekankan bahwa tiga hari pertama setelah bencana merupakan periode paling krusial. Karena itu, tas siaga harus memuat perlengkapan dasar yang meliputi kebutuhan perlindungan, kesehatan, komunikasi, hingga dokumen penting. Rekomendasi BNPB, FEMA, dan American Red Cross menyebutkan bahwa kapasitas ideal tas berada di kisaran 40–60 liter dengan berat maksimal 10–15 kilogram, dan sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mudah dijangkau saat evakuasi.
Salah satu komponen utama tas siaga adalah makanan dan minuman untuk kebutuhan minimal tiga hari. Air minum setidaknya 12 liter per orang, disertai makanan tahan lama yang tidak perlu dimasak seperti makanan kaleng, sup siap makan, energy bar, granola, kacang-kacangan, buah kering, serta makanan instan yang hanya membutuhkan air panas. Susu bubuk atau formula juga dianjurkan sebagai sumber nutrisi tambahan. Persediaan ini perlu dirotasi setiap 6–12 bulan agar tetap layak dikonsumsi.
Tas siaga juga harus berisi dokumen penting yang disimpan dalam map tahan air, seperti fotokopi KTP, KK, akta kelahiran, ijazah, paspor, serta dokumen kepemilikan seperti surat tanah dan BPKB. Versi digitalnya dianjurkan disimpan dalam flashdisk. Uang tunai dalam pecahan kecil turut disiapkan untuk mengantisipasi kondisi darurat ketika akses perbankan terganggu.
Selain itu, perlengkapan medis dan sanitasi menjadi komponen wajib. Isi tas minimal mencakup perban, antiseptik, salep luka, gunting, pinset, masker, obat pribadi seperti paracetamol dan antasida, serta perlengkapan kebersihan seperti sabun dan tisu basah. Bagi perempuan dan bayi, pembalut serta popok perlu dipertimbangkan sesuai kebutuhan keluarga.
Untuk perlindungan diri, siapkan pakaian ganti dan pakaian dalam setidaknya tiga set, jaket tahan air, serta perlengkapan seperti ponco, topi, sarung tangan, dan sepatu cadangan. Peralatan lain seperti selimut termal, sleeping bag ringan, senter LED, powerbank, kabel pengisi daya, peluit, dan pisau lipat atau multitools akan sangat membantu selama masa darurat.
Pemilihan tas yang tepat juga penting. Disarankan menggunakan ransel yang kuat, nyaman digunakan, dan tahan air seperti ransel hiking. Tas perlu disimpan di lokasi yang mudah diambil dan isinya diperiksa secara berkala, setidaknya setiap enam bulan, untuk memastikan semua perlengkapan masih layak pakai.
Selain menyiapkan tas siaga, masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan dengan memantau kondisi cuaca secara rutin, mengetahui rute evakuasi terdekat, serta segera menghubungi BPBD, Damkar, atau aparat setempat bila menemukan potensi bahaya. Kesiapsiagaan yang baik dapat mengurangi risiko dan membantu keluarga bertahan pada masa awal pascabencana yang penuh ketidakpastian.
Menyiapkan tas siaga bukan sekadar formalitas, tetapi langkah nyata untuk melindungi diri dan keluarga. Simpan tas di tempat yang mudah dijangkau dan pastikan seluruh anggota keluarga memahami isinya dan cara menggunakannya. Dengan persiapan yang matang, kita bisa menghadapi situasi darurat dengan lebih tenang dan aman.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah