Jejak Kearifan Leluhur: Mengemban Tahun Baru ala Masyarakat Sunda
INFO BANDUNG BARAT — Ketika sebagian besar masyarakat menyiapkan pesta kembang api dan hitung mundur menuju 1 Januari, masyarakat adat Sunda memiliki cara berbeda dalam memasuki tahun baru. Dalam tradisi Sunda, terdapat sistem penanggalan kuno bernama Kalaider atau Kalender Sunda, sebuah penanggalan tradisional yang sudah digunakan sejak masa leluhur.
Menurut Kalaider, tahun baru Sunda terjadi pada momen ketika matahari bergerak dari arah selatan menuju titik utara, sebuah fase kosmologis yang menandai dimulainya Tahun Baru Saka Sunda. Salah satu komunitas yang masih menjaga tradisi ini dengan kuat adalah Kampung Adat Cireundeu di Cimahi.
Ritual Tutup Taun Ngemban Taun
Di Cireundeu, puncak perayaan pergantian tahun adat diwujudkan melalui ritual Tutup Taun Ngemban Taun. Secara etimologis, Tutup Taun berarti mengakhiri tahun lama, sedangkan Ngemban Taun berarti menyambut atau “mengemban” tahun baru dengan membawa harapan baik. Dua makna ini kemudian berpadu dalam satu rangkaian upacara yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Prosesi ini menjadi ruang syukur atas karunia alam, terutama hasil panen. Pada saat yang sama, ritual tersebut menjadi doa kolektif untuk memohon keberkahan dan kemakmuran di tahun baru. Bagi masyarakat Cireundeu, ritual ini juga menjadi momentum untuk menegaskan kembali prinsip ketahanan pangan berbasis singkong, yang menjadi identitas dan kemandirian komunitas adat tersebut.
Prosesi Sakral dan Hidangan Tradisional
Dalam upacara Tutup Taun Ngemban Taun, masyarakat membawa lebih dari sepuluh jenis hidangan salametan. Hidangan tersebut di antaranya combro, kukuluban, serta peuyeum ketan hitam, disajikan dalam piring anyaman bambu. Ada pula hasil panen berupa buah dan sayuran segar. Hidangan ini dibentuk menjadi gugunungan dan diusung dalam keranjang panjang yang dipikul bersama.
Rangkaian prosesi dimulai dengan arak-arakan hasil pertanian dari gerbang utama menuju balai desa. Semua hasil bumi kemudian ditempatkan di tengah ruangan sebagai simbol syukur. Pada momen ini, perempuan mengenakan kebaya putih, sedangkan laki-laki mengenakan pangsi hitam lengkap dengan ikat batik sebagai bentuk penghormatan terhadap adat.
Setelah seluruh warga berkumpul, sesepuh adat memberikan pesan-pesan kearifan, dilanjutkan dengan doa bersama.
Ruang Toleransi dalam Tradisi Cireundeu
Salah satu aspek paling menarik dari ritual ini adalah kehadiran perwakilan lima agama dalam prosesi doa. Kehadiran mereka merefleksikan nilai toleransi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Cireundeu. Bagi komunitas adat ini, tanah Sunda adalah tanah budaya yang harus dijaga bersama tanpa memandang latar belakang kepercayaan.
Perayaan Tutup Taun Ngemban Taun bukan hanya tentang pergantian kalender, tetapi tentang merawat harmoni, memuliakan alam, dan memperkuat rasa syukur bersama. Masyarakat berharap tahun baru membawa keberkahan, hasil panen yang melimpah, serta hubungan sosial yang semakin kokoh.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah