Menikmati Tradisi Teh Tawar Masyarakat Sunda dengan Tetap Menjaga Kesehatan
INFO BANDUNG BARAT — Bagi masyarakat Sunda, menyantap nasi hangat dengan sambal terasi dan lalapan terasa kurang lengkap tanpa segelas teh tawar hangat. Tradisi ini telah berakar selama berabad-abad, seiring dengan berkembangnya perkebunan teh di wilayah Jawa Barat. Lebih dari sekadar minuman, teh tawar merupakan simbol keramahan dan hadir dalam berbagai kesempatan, mulai dari konsumsi harian hingga acara hajatan. Namun, di balik kebiasaan ini, terdapat aspek kesehatan yang perlu diperhatikan.
Meskipun teh tawar lebih sehat dibandingkan teh manis karena tidak mengandung gula tambahan, senyawa alami dalam teh tetap berinteraksi dengan makanan yang dikonsumsi. Penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of Nutritional Biochemistry menunjukkan bahwa teh mengandung asam tanin dan polifenol yang dapat mengikat zat gizi di dalam lambung, sehingga penyerapan protein dan zat besi menjadi kurang optimal. Bagi masyarakat yang mengandalkan protein nabati seperti tahu dan tempe, kebiasaan ini berpotensi meningkatkan risiko anemia apabila dilakukan secara rutin.
Asam tanin dalam teh juga dapat bereaksi dengan protein makanan dan membentuk ikatan yang sulit dicerna oleh sistem pencernaan. Selain itu, mengonsumsi teh saat perut masih penuh dapat memicu produksi asam lambung berlebih, yang berpotensi menyebabkan rasa tidak nyaman atau memicu gejala gangguan lambung pada sebagian orang.
Temuan serupa juga dilaporkan dalam jurnal Critical Reviews in Food Science and Nutrition, yang menyebutkan bahwa konsumsi teh saat atau sesaat setelah makan menyebabkan senyawa tanin dan polifenol langsung berikatan dengan protein serta zat besi sebelum sempat diserap tubuh secara optimal.
Meski demikian, tradisi minum teh tidak perlu dihilangkan. Kebiasaan ini cukup disesuaikan dengan waktu konsumsi agar tetap menyehatkan. Disarankan untuk memberi jeda minimal satu jam setelah makan sebelum meminum teh, sehingga tubuh memiliki waktu yang cukup untuk menyerap zat gizi penting.
Sebagai alternatif, masyarakat dapat membiasakan minum air putih setelah makan untuk membantu pencernaan. Jika ingin menikmati teh tawar dalam waktu yang berdekatan dengan makan, disarankan untuk mengonsumsi makanan yang kaya vitamin C, seperti jeruk atau jambu biji, karena vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi.
Dengan memahami waktu konsumsi yang tepat, masyarakat Sunda dapat terus melestarikan tradisi minum teh tawar tanpa mengorbankan kesehatan. Menjaga keseimbangan antara budaya dan pengetahuan kesehatan menjadi kunci agar warisan leluhur tetap hidup dan bermanfaat bagi generasi mendatang.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah