38°C
16/01/2026
Budaya

Makna dan Filosofi Siraman dalam Tradisi Pernikahan Sunda

  • Januari 8, 2026
  • 2 min read
Makna dan Filosofi Siraman dalam Tradisi Pernikahan Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Dalam tradisi pernikahan masyarakat Sunda, rangkaian upacara pra-pernikahan sarat makna dan nilai spiritual. Setelah calon pengantin mengikuti upacara ngaras sebagai prosesi penghormatan dan permohonan restu kepada orang tua, tahapan berikutnya yang tidak kalah penting adalah siraman. Siraman merupakan ritual mandi atau penyiraman yang bertujuan menyucikan calon pengantin secara lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Ritual siraman biasanya dilaksanakan sehari sebelum akad nikah atau prosesi pernikahan berlangsung. Prosesi ini dilakukan setelah rangkaian upacara ngaras selesai dan dilaksanakan secara bergantian antara calon pengantin perempuan dan laki-laki, dengan calon pengantin perempuan menjalani siraman terlebih dahulu. Sama seperti ngaras, siraman umumnya berlangsung di ruang terbuka dan dapat disaksikan oleh keluarga serta kerabat. Air yang digunakan dicampur dengan bunga-bunga harum sebagai simbol kesucian, kebaikan hati, dan keindahan hidup.

Prosesi siraman diawali dengan penyiraman oleh ibu kandung calon pengantin, dilanjutkan oleh ayah, kemudian oleh kerabat dekat. Jumlah penyiram biasanya berjumlah tujuh orang. Setiap orang yang menyiramkan air disertai doa agar calon pengantin diberi keberkahan, perlindungan, dan kelancaran dalam membangun rumah tangga yang harmonis. Setelah calon pengantin perempuan selesai menjalani siraman, prosesi yang sama dilakukan oleh calon pengantin laki-laki dengan urutan dan makna yang serupa.

Makna siraman tidak terbatas pada ritual fisik semata. Dalam buku Budaya Sunda (2021) karya Enok Risdayah dkk., dijelaskan bahwa air yang membasahi tubuh melambangkan pembersihan diri secara lahiriah, sementara wewangian bunga melambangkan penyucian batin. Calon pengantin diajak menanggalkan sifat-sifat negatif seperti dengki, serakah, dan keinginan menang sendiri, serta menggantinya dengan sikap saling menghargai dan berbuat baik. Nilai ini dikenal dalam budaya Sunda sebagai silih seungitan, yakni saling menutupi kekurangan dengan kebaikan dan keharmonisan.

Selain itu, prosesi siraman juga menggunakan samping kebat, yaitu kain yang digelar dari titik awal hingga lokasi pemandian dan berjumlah tujuh lembar. Kain ini dilalui calon pengantin sebelum disiram. Samping kebat mengandung pesan filosofis melalui pepatah Sunda ulah sasemet teu kebat, kebat ulah heuheureuyan, yang mengajarkan bahwa membangun rumah tangga harus dilakukan dengan kesungguhan, bukan secara main-main. Setiap langkah perlu diperjuangkan agar tujuan hidup berumah tangga dapat tercapai.

Dengan segala makna yang terkandung di dalamnya, siraman bukan sekadar prosesi adat, melainkan momen reflektif bagi calon pengantin untuk mempersiapkan diri secara mental dan spiritual. Ritual ini menegaskan bahwa rumah tangga yang harmonis lahir dari kesucian hati, usaha yang tulus, serta kesadaran akan tanggung jawab terhadap pasangan, keluarga, dan lingkungan.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *