Tata Krama Sunda dalam Perilaku Sehari-hari
INFO BANDUNG BARAT — Tata krama Sunda tidak hanya berkaitan dengan bahasa, tetapi merupakan sistem etika yang mencakup tutur kata, waktu, tempat, ekspresi emosi, gerak tubuh, dan intonasi. Dalam jurnal Sutisna (2016), tata krama ini terdiri atas lima pilar, yaitu wiwaha, wibawa, wirasa, wirahma, dan wiraga. Sementara itu, jurnal Santosa (2017) menyederhanakannya menjadi empat pilar utama dengan menggabungkan wibawa sebagai hasil dari penerapan pilar lainnya.
Keempat pilar tersebut menjadi acuan dalam menilai perilaku yang baik, dengan tujuan membangun sikap saling menghormati dan menghargai (silih hormat dan silih ajénan).
Pilar pertama adalah wiwaha, yaitu pertimbangan dalam membedakan yang baik dan buruk, atau yang tepat dan tidak tepat. Wiwaha menunjukkan keharusan menimbang bahasa, gerak tubuh, dan hubungan sosial sebelum berinteraksi. Pilar ini dapat dimaknai sebagai kemampuan menentukan penggunaan tata krama yang sesuai, termasuk kapan, di mana, dan dengan siapa tata krama tersebut diterapkan.
Pilar berikutnya adalah wirasa, yang berkaitan dengan kepekaan sosial dan empati. Ini merupakan kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain, sehingga perilaku tidak menyakiti atau menyinggung perasaan sesama. Implementasinya terlihat dalam upaya menghindari perkataan kasar, menunjukkan perhatian tulus, serta dalam etika makan bersama, seperti tidak meninggalkan tempat lebih dulu tanpa meminta izin.
Selanjutnya, wirahma mengatur aspek nonlinguistik suara, seperti volume, kecepatan bicara, dan intonasi. Pilar ini menekankan harmoni suara yang menciptakan rasa hormat. Dalam praktiknya, seseorang dituntut berbicara dengan nada lembut, tidak membentak, dan menyesuaikan intonasi dengan konteks pembicaraan. Berbicara kepada orang tua memerlukan intonasi yang lebih tenang dan sopan, sementara kepada teman sebaya dapat dilakukan dengan lebih santai.
Pilar terakhir adalah wiraga, yang berkaitan dengan bahasa tubuh dan gerakan fisik saat berinteraksi. Ini merupakan aspek tata krama yang paling kasat mata. Implementasinya meliputi berdiri tegak saat berbicara dengan orang yang lebih tua, tidak melipat tangan di depan dada karena terkesan sombong, serta menjaga kontak mata secara sopan. Saat menunjuk sesuatu, masyarakat Sunda yang santun tidak menggunakan jari telunjuk, melainkan ibu jari. Membungkukkan badan sedikit ketika mengucapkan permisi atau bersalaman juga merupakan wujud wiraga.
Hubungan antara pilar-pilar tersebut dengan perilaku nyata sangat erat. Apa yang dipikirkan dan dihayati dalam batin (wiwaha dan wirasa) akan terejawantahkan dalam bentuk kata-kata (wirahma) dan tindakan nyata (wiraga). Kata dan tindakan yang terus-menerus dilakukan inilah yang kemudian membentuk perilaku dalam kehidupan sehari-hari.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah