Dari Layar ke Realitas: Ketika The Lorax Bukan Lagi Sekadar Dongeng
INFO BANDUNG BARAT — Pernahkah membayangkan hidup di sebuah kota di mana pohon asli dianggap sebagai sampah, rumput terbuat dari plastik, dan udara bersih harus dibeli dalam kemasan botol? Bagi warga Thneedville dalam film The Lorax, hal tersebut merupakan keseharian. Namun kini, bayang-bayang kota Thneedville mulai tampak dalam realitas dunia modern.
Film yang dirilis pada tahun 2012 ini diangkat dari buku karya Dr. Seuss yang pertama kali terbit pada tahun 1971. Sekilas, ceritanya tampak seperti dongeng anak-anak. Namun perlahan, film ini menunjukkan bagaimana keserakahan, jika dibiarkan, dapat menghabiskan segalanya.
Kisah bermula dari kesalahan fatal karakter bernama Once-ler, ketika keserakahan dibungkus atas nama kemajuan industri. Ia menebang habis pohon Truffula demi menciptakan Thneed, sebuah produk yang sejatinya tidak terlalu dibutuhkan manusia.
Pada titik inilah The Lorax muncul, makhluk kecil berwarna oranye yang memiliki satu tugas: berbicara atas nama pohon-pohon. Lorax memperingatkan bahwa jika hutan terus ditebang, alam akan runtuh, dan yang dirugikan bukan hanya hewan, tetapi juga manusia. Namun, Once-ler selalu memiliki alasan, “demi pekerjaan, demi ekonomi, demi kemajuan.”
Dalam dunia nyata, fenomena ini dikenal sebagai eksploitasi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Jurnal ilmiah berjudul Landscapes of the Anthropocene in The Lorax by Dr. Seuss menyoroti film ini sebagai representasi era Anthropocene, yakni masa ketika aktivitas manusia menjadi penyebab utama perubahan iklim dan kerusakan ekosistem. Hal ini tampak pada deforestasi hutan tropis untuk komoditas massal yang sering kali mengusir satwa liar, serupa dengan terusirnya Brown Bar-ba-loots dalam film.
Bagian paling satir dari film ini adalah tokoh Aloysius O’Hare, seorang taipan yang kaya raya karena menjual udara bersih. Ironisnya, hal tersebut bukan lagi fiksi. Di kota-kota dengan polusi udara ekstrem, perusahaan seperti Vitality Air benar-benar menjual udara pegunungan Kanada dalam kemasan kaleng.
Privatisasi kebutuhan dasar ini sejalan dengan analisis dalam tesis An Analysis of Marxism Alienation Theory in The Lorax Movie dari UIN Sunan Kalijaga. Penelitian tersebut menjelaskan bagaimana kapitalisme mampu mengubah sesuatu yang seharusnya gratis, seperti udara dan air, menjadi komoditas demi keuntungan segelintir pihak.
Thneedville digambarkan sebagai kota yang indah, tetapi palsu. Warganya merasa bahagia di tengah teknologi canggih, padahal mereka kehilangan koneksi dengan alam yang sesungguhnya. Dalam konteks modern, fenomena ini dikenal sebagai greenwashing, yakni praktik korporasi yang mengklaim ramah lingkungan tanpa perubahan nyata dalam proses produksi.
Penyesalan selalu datang terlambat. Once-ler akhirnya sadar, dan yang tersisa hanyalah satu biji pohon terakhir. Lorax meninggalkan pesan yang diukir di batu: Unless (kecuali). Pesan ini mengingatkan bahwa kehancuran dapat dihentikan “kecuali” ada seseorang yang benar-benar peduli.
Langkah kecil seperti menanam pohon, mendukung platform konservasi, atau menjadi konsumen yang lebih kritis merupakan cara sederhana untuk “berbicara atas nama pohon”. Seperti Ted yang menjaga benih Truffula terakhir, masa depan bumi ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil hari ini. Sebab pada akhirnya, manusia tidak bisa bernapas dengan teknologi dan tidak bisa memakan uang.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah