Ketidakadilan Gender dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk
INFO BANDUNG BARAT — Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari menghadirkan potret ketidakadilan gender yang kuat melalui tokoh Srintil, seorang perempuan yang hidup dalam struktur patriarki dan tradisi Dukuh Paruk yang opresif. Kehidupan Srintil sebagai ronggeng memperlihatkan bagaimana tubuh, pilihan hidup, dan masa depan perempuan dikontrol oleh adat, kekuasaan, dan kepentingan ekonomi dengan dalih pelestarian budaya.
Bentuk ketidakadilan paling nyata tampak dalam eksploitasi dan objektifikasi seksual. Srintil diposisikan sebagai “milik umum” demi menjaga keberlangsungan identitas dukuh. Ritual Bukak Klambu menjadi simbol paling brutal karena keperawanan Srintil diperjualbelikan kepada penawar tertinggi. Tubuh perempuan tidak dipandang sebagai subjek yang memiliki kehendak, melainkan sebagai objek kenikmatan dan simbol kesuburan yang dikuasai oleh sistem maskulin.
Selain itu, Srintil mengalami marginalisasi dan subordinasi secara sistematis. Ia tidak memiliki hak individu atas hidupnya sendiri. Keinginannya untuk menjadi wanita somahan, yakni istri dan ibu rumah tangga, dihalangi oleh adat yang menuntutnya tetap menjadi ronggeng. Secara ekonomi, ia juga dieksploitasi; penghasilan yang diperoleh tidak sebanding dengan beban fisik, sosial, dan psikologis yang harus ditanggungnya. Bahkan, tubuhnya mengalami kekerasan ekstrem ketika indung telurnya dirusak agar ia tidak hamil, demi menjaga “karier” ronggeng sesuai hukum Dukuh Paruk.
Masyarakat Dukuh Paruk turut melanggengkan stereotipe dan stigma sosial terhadap perempuan. Perempuan dipandang lemah, tidak berpendidikan, dan tidak layak menuntut emansipasi. Status Srintil sebagai ronggeng justru menempatkannya pada posisi sosial yang rendah, meskipun ia menjadi pusat hiburan dan identitas desa. Kehormatan budaya dijaga dengan mengorbankan martabat perempuan.
Ketidakadilan tersebut berujung pada kekerasan gender yang menghancurkan jiwa Srintil. Ia mengalami kekerasan psikis dan seksual berlapis, mulai dari eksploitasi adat hingga trauma politik pascaperistiwa 1965. Statusnya sebagai perempuan miskin dan ronggeng membuatnya kembali menjadi korban kekuasaan. Pengkhianatan laki-laki dan kegagalannya keluar dari jerat tradisi akhirnya menyebabkan Srintil kehilangan kewarasan. Ia dipaksa dewasa sebelum waktunya dan tidak pernah benar-benar diberi pilihan atas hidupnya sendiri.
Melalui kisah Srintil, Ronggeng Dukuh Paruk menunjukkan bahwa ketidakadilan gender kerap dibungkus atas nama tradisi, budaya, dan penghormatan terhadap leluhur. Perempuan dijadikan alat untuk mempertahankan sistem sosial dan kepentingan ekonomi, sementara penderitaan mereka dinormalisasi sebagai nasib. Novel ini mengkritik dengan tajam bagaimana budaya yang tidak pernah dipertanyakan dapat berubah menjadi sarana penindasan, serta bagaimana perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan dalam struktur tersebut.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah