38°C
06/05/2026
Architecture Budaya

Harmoni Alam dan Manusia dalam Arsitektur Rumah Sunda

  • Maret 20, 2026
  • 2 min read
Harmoni Alam dan Manusia dalam Arsitektur Rumah Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Arsitektur tradisional Sunda berlandaskan pada prinsip keselarasan dengan alam. Bagi masyarakat Sunda, alam merupakan kekuatan yang harus dihormati dan dimanfaatkan secara bijak. Konsep ini tercermin dalam struktur rumah yang mengikuti kosmologi tubuh manusia, yaitu hulu (kepala/atap), awak (badan/ruang utama), dan suku (kaki/pondasi) sebagai simbol keseimbangan hidup.

Salah satu ciri khas utama rumah tradisional Sunda terletak pada bentuk atapnya yang dikenal dengan istilah suhunan. Variasi bentuk suhunan mencerminkan fungsi, estetika, sekaligus filosofi yang berbeda. Berikut beberapa bentuk atap rumah tradisional Sunda:

Suhunan Jolopong

Bentuk paling sederhana dan umum, menyerupai garis lurus memanjang. Banyak digunakan di perkampungan Jawa Barat karena praktis dan fungsional.

Suhunan Julang Ngapak

Memiliki bentuk melebar di kedua sisi seperti burung yang mengepakkan sayap. Terdiri atas empat bidang atap dengan sudut tumpul, sehingga menciptakan kesan luas dan terbuka.

Suhunan Buka Palayu

Ditandai dengan arah pintu yang menghadap sisi panjang bangunan. Istilah “palayu” merujuk pada orientasi tersebut.

Buka Pongpok

Mirip dengan buka palayu, tetapi posisi pintu berada di sisi segitiga atap, sehingga memberikan tampilan visual yang berbeda.

Suhunan Perahu Kumerep

Bentuknya menyerupai perahu terbalik dengan empat bidang atap yang simetris, sehingga memberikan kesan kokoh dan seimbang.

Badak Heuay

Terinspirasi dari bentuk badak yang menganga, atap ini memiliki karakter unik dan ekspresif, serta sering disamakan dengan bentuk tagog anjing.

Tagog Anjing

Menyerupai posisi anjing yang sedang duduk. Bentuk ini sederhana, tetapi memiliki karakter visual yang kuat.

    Keberagaman bentuk atap rumah Sunda menunjukkan bahwa bangunan tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ekspresi budaya dan filosofi hidup. Setiap elemen memiliki makna yang mencerminkan kearifan lokal, yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam. Nilai ini tetap relevan sebagai inspirasi bagi konsep keberlanjutan di masa kini.

    About Author

    Anggie Baeduri Aulia

    Leave a Reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *