Pentingnya Trauma Healing bagi Anak Korban Bencana di Pasirlangu
INFO BANDUNG BARAT — Bencana tanah longsor yang menerjang Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Jawa Barat. Sekitar pukul 02.30 WIB, setelah hujan deras yang tak kunjung berhenti, material tanah dan lumpur dari perbukitan meluncur cepat dan menimbun puluhan rumah saat warga sedang terlelap.
Tragedi ini mencatat angka korban yang sangat besar. Sebanyak 57 korban meninggal dunia berhasil ditemukan, sementara puluhan lainnya masih dinyatakan hilang. Di antara korban jiwa tersebut terdapat pula 23 prajurit Marinir TNI AL dan dua anggota polisi yang gugur saat menjalankan tugas. Namun, di balik kerusakan fisik yang begitu besar, terdapat dampak psikologis yang tidak ringan bagi para penyintas, terutama anak-anak.
Laporan Badan Penelitian dan Pengembangan Jawa Tengah (2008) menyebutkan bahwa korban bencana sering kali mengalami gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD). Jika tidak terdeteksi sejak dini, PTSD dapat menyebabkan komplikasi medis maupun psikologis yang bersifat jangka panjang dan berpotensi mengganggu kehidupan sosial hingga masa depan penderitanya. Oleh karena itu, prinsip pertolongan utama bagi korban adalah melalui pendampingan intensif untuk membantu mengembalikan kondisi psikis mereka secara bertahap.
Secara ilmiah, anak-anak memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap PTSD dibandingkan orang dewasa. Hal ini juga dijelaskan dalam Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Abdi Nusa (2024) yang menyebutkan bahwa bencana sering menimbulkan dampak traumatis yang lebih besar pada anak-anak karena mereka belum memiliki kemampuan emosional yang matang untuk mengelola pengalaman traumatis.
Merujuk pada data dari National Center for PTSD, kegagalan menangani trauma akut pada fase awal dapat memicu gangguan kecemasan kronis. Anak-anak memiliki karakteristik perkembangan yang unik sehingga membutuhkan pendekatan intervensi yang sesuai dengan tahap perkembangan psikologisnya agar gangguan stres yang dialami dapat berkurang secara signifikan.
Anak-anak sering kali belum memiliki kemampuan verbal yang memadai untuk mengungkapkan emosi kompleks akibat kehilangan anggota keluarga atau tempat tinggal. Di sinilah peran penting trauma healing, yaitu proses pemulihan trauma melalui metode terapi bermain (play therapy). Berdasarkan panduan dari American Psychological Association (APA), dukungan emosional melalui aktivitas kelompok dapat membantu anak memproses memori traumatis dari pikiran bawah sadar menjadi pengalaman yang lebih netral.
Bermain menjadi salah satu metode trauma healing yang efektif untuk mencegah trauma berkepanjangan pada anak. Aktivitas ini dapat digunakan sebagai media psikoterapi yang membantu anak mengekspresikan emosi, memahami pengalaman yang mereka alami, serta secara perlahan mengembalikan rasa aman dan kontrol diri.
Upaya pemulihan pascabencana 24 Januari lalu merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anak yang terdampak. Rumah yang hancur mungkin dapat dibangun kembali, tetapi memulihkan rasa aman dalam diri seorang anak membutuhkan kepedulian kolektif yang berkelanjutan dari seluruh pihak.***