38°C
10/03/2026
Sejarah

Arus Sejarah dari Kampung Pangkalan ke Desa Cimanggu

  • Maret 10, 2026
  • 5 min read
Arus Sejarah dari Kampung Pangkalan ke Desa Cimanggu

INFO BANDUNG BARAT — Sejarah Desa Cimanggu di Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, bermula pada awal abad ke-19, tepatnya pada tahun 1814, ketika wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Pada masa itu, pemerintah Belanda mendirikan markas di Kampung Pangkalan untuk mengatur wilayah sekitar. Karena kebutuhan administrasi dan dukungan logistik bagi pemerintahan kolonial, dibentuklah sebuah pemerintahan desa yang kemudian diberi nama Desa Cimanggu. Nama Cimanggu sendiri berasal dari keberadaan sebuah pohon manggis besar yang tumbuh di dekat sumber mata air yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Dalam bahasa Sunda, kata “manggu” merujuk pada manggis, sehingga nama Cimanggu diartikan sebagai tempat mata air yang ditandai oleh pohon manggis.

Melalui musyawarah antara masyarakat dan pihak kolonial Belanda, seorang tokoh masyarakat dari Kampung Pangkalan bernama Narwat ditunjuk sebagai kepala desa pertama. Narwat memimpin Desa Cimanggu dari 1814 hingga 1846. Pada masa kepemimpinannya, kehidupan masyarakat sangat dibatasi oleh aturan kolonial. Hasil bumi warga harus diserahkan kepada pemerintah Belanda, sementara kebebasan masyarakat dalam berbagai aktivitas sangat terbatas. Setelah lebih dari tiga dekade memimpin, Narwat mengundurkan diri dari jabatannya.

Kepemimpinan desa kemudian dilanjutkan oleh Bia Saudi pada tahun 1846 hingga 1868. Meskipun masih berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda, Bia Saudi dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan memiliki kepedulian besar terhadap masyarakat. Ia bahkan mulai merencanakan upaya perlawanan terhadap penjajah demi terciptanya ketertiban dan ketentraman di Desa Cimanggu.

Setelah masa jabatan Bia Saudi berakhir, masyarakat kembali melakukan musyawarah untuk memilih pemimpin desa. Hasilnya, seorang tokoh masyarakat dari Kampung Pangkalan bernama Sarif Hidayat Aliyudin, yang dikenal dengan sebutan Mbah Aliyudin, terpilih menjadi kepala desa dan memimpin dari 1868 hingga 1904. Ia dikenal sebagai sosok yang gagah berani dan memiliki kemampuan bela diri yang disegani, bahkan namanya dikenal hingga ke daerah Serang, Banten. Kepemimpinannya yang tegas membuat masyarakat patuh dan kondisi desa relatif aman. Pelayanan pemerintahan pada masa itu lebih sering dilakukan di rumahnya, sementara bale desa digunakan hanya untuk rapat atau pertemuan penting.

Setelah Aliyudin mengundurkan diri, kepemimpinan desa dilanjutkan oleh Nursiman, yang juga dikenal sebagai H. Umar, pada periode 1904 hingga 1913. Pada masa ini, masyarakat masih harus menyetorkan upeti kepada penjajah setiap bulan maupun saat panen. Karena kondisi kesehatannya yang sering menurun, Nursiman kemudian mengundurkan diri dari jabatannya setelah hampir sembilan tahun memimpin.

Selanjutnya, Desa Cimanggu dipimpin oleh Poeradiredja pada tahun 1914 hingga 1930. Ia dikenal sebagai pemimpin yang arif dan sangat memperhatikan kebersihan lingkungan desa. Berkat kepemimpinannya yang baik, Desa Cimanggu bahkan memperoleh penghargaan sebagai lurah terbaik di wilayah Kewadanaan Padalarang. Setelah merasa usia semakin lanjut, Poeradiredja memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya.

Kepemimpinan desa kemudian dilanjutkan oleh putranya, Koesnadi Poeradiredja, yang memimpin dari 1931 hingga 1949. Masa kepemimpinannya berlangsung pada masa peralihan kekuasaan dari penjajahan Belanda ke Jepang. Pada masa penjajahan Jepang, masyarakat diwajibkan mengikuti berbagai kegiatan bela negara. Situasi tersebut dimanfaatkan oleh Koesnadi untuk menumbuhkan semangat perlawanan terhadap penjajah secara diam-diam.

Setelah Indonesia merdeka, Desa Cimanggu dipimpin oleh Masri pada periode 1950 hingga 1955. Ia menjalankan pemerintahan desa dari rumahnya di Kampung Cibaligo dan dibantu secara aktif oleh istrinya dalam melayani masyarakat. Setelah masa kepemimpinannya berakhir, masyarakat kembali memilih pemimpin baru dan terpilihlah Ardiredja yang memimpin dari 1956 hingga 1965. Pada masa kepemimpinan Ardiredja, administrasi pemerintahan desa mulai ditata dengan lebih baik dan dilakukan pemetaan wilayah desa. Namun, pada tahun 1962, wilayah Desa Cimanggu sempat mengalami gangguan keamanan akibat aksi kelompok Darul Islam yang melakukan perampokan dan kekacauan di daerah tersebut. Bersama aparat keamanan, masyarakat akhirnya mampu mengatasi gangguan tersebut hingga kondisi desa kembali aman pada tahun 1965.

Setelah Ardiredja mengundurkan diri, kepemimpinan desa sementara dipegang oleh Sudarno sebagai pejabat sementara dari 1965 hingga 1968. Selanjutnya, melalui pemilihan yang dilakukan masyarakat, Maman Ure terpilih sebagai kepala desa dan memimpin dari 1968 hingga 1983. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan disiplin. Pada masa kepemimpinannya, berbagai pembangunan mulai dilakukan melalui kerja bakti masyarakat, seperti pembangunan jalan lingkungan dan tanggul air untuk kebutuhan desa.

Setelah masa jabatan Maman Ure berakhir, pemerintahan desa sempat dipimpin oleh D. Supardjat sebagai pejabat sementara dari 1983 hingga 1986. Kemudian pada pemilihan berikutnya, Sukandar terpilih sebagai kepala desa dan memimpin selama dua periode, yaitu dari 1986 hingga 2003. Pada masa kepemimpinannya, Desa Cimanggu mengalami banyak perkembangan, termasuk pembangunan infrastruktur, pengaspalan jalan, peningkatan layanan kesehatan, serta pembentukan kelompok tani untuk meningkatkan sektor pertanian.

Kepemimpinan desa kemudian dilanjutkan oleh Andik Nahdili pada periode 2003 hingga 2014. Pada masa ini pembangunan desa semakin berkembang, terutama dalam penyediaan sarana air bersih melalui pembangunan sistem perpipaan serta peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat melalui pendirian puskesmas pembantu.

Setelah masa kepemimpinan tersebut, Desa Cimanggu dipimpin oleh Asep Suparman pada periode 2015 hingga 2021. Pembangunan desa terus berlanjut dan berbagai program kemasyarakatan semakin berkembang. Setelah masa jabatan tersebut berakhir, sempat terjadi masa kekosongan kepemimpinan yang kemudian diisi oleh pejabat sementara Dadang Mulyana selama beberapa bulan pada tahun 2021.

Pada pemilihan kepala desa serentak tahun 2021, masyarakat Desa Cimanggu kembali memilih pemimpin baru dan Budi Mulyana terpilih sebagai Kepala Desa Cimanggu. Ia merupakan putra daerah dari Kampung Pangkalan yang sebelumnya pernah menjabat Sekretaris Desa. Dengan visi pembangunan BERBUDI (Bersih, Unggul, Dinamis, Islam, dan Amanah), kepemimpinan desa saat ini berupaya mendorong pembangunan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan potensi desa agar Desa Cimanggu terus berkembang di masa depan.***

(Sumber: Pemerintah Desa Cimanggu)

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *