Gunung Geger Pulus dan Sejarah Telekomunikasi Hindia-Belanda di Cililin
INFO BANDUNG BARAT — Secara geografis, Kabupaten Bandung Barat (KBB) merupakan wilayah yang menyimpan lapisan sejarah yang sangat kaya. Tidak terkecuali deretan pegunungan yang mengelilinginya, yang menyimpan narasi besar masa lalu di balik rimbunnya vegetasi hijau.
Salah satu titik yang bernilai sejarah tinggi adalah Gunung Geger Pulus. Secara administratif, kawasan ini membentang di antara dua desa, yakni Desa Cililin dan Desa Batulayang, Kecamatan Cililin. Di balik keindahan alamnya, Geger Pulus menjadi saksi bisu perkembangan teknologi telekomunikasi modern era Hindia-Belanda hingga pusat administrasi Kewedanaan Cililin di masa lampau.
Dari Kampung Jati Menjadi Jati Radio
Nadi sejarah telekomunikasi di Bandung Barat berhulu dari sebuah perkampungan di kaki Gunung Geger Pulus. Tempat tersebut kini dikenal sebagai Kampung Jati Radio.
Awalnya, pemukiman ini hanya bernama Kampung Jati. Perubahan nama lokal ini terjadi secara alami karena masyarakat sering beraktivitas di sekitar puing-puing bangunan pemancar radio raksasa milik pemerintah kolonial.
Pada tahun 1914, perusahaan teknologi asal Jerman, Telefunken, resmi mengoperasikan stasiun pemancar nirkabel (radiotelegrafie) di Cililin. Kehadiran stasiun ini menjadi lompatan besar bagi Nusantara karena mampu menghubungkan komunikasi telegrafis nirkabel jarak jauh dari Hindia-Belanda menuju dunia internasional secara cepat, tanpa bergantung penuh pada jaringan kabel bawah laut.
Evolusi Menjadi NIROM dan Lahirnya Penyiaran
Seiring perkembangan teknologi komunikasi global, fungsi stasiun nirkabel ini mengalami perluasan yang signifikan. Pada tahun 1924, stasiun ini mulai mengadopsi teknologi pemancar siaran suara (radiodistributie).
Kepemilikan dan operasional kompleks pemancar ini kemudian diambil alih oleh Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) atau Maskapai Siaran Radio Hindia-Belanda. Komoditas informasi, berita, hingga propaganda pemerintah kolonial diproduksi dan dipancarkan ke seluruh penjuru Nusantara dari lereng gunung di Cililin ini.
Curug Sawer: Jantung Energi Pembangkit Listrik NIROM
Operasional teknologi tinggi pada masanya tentu membutuhkan pasokan daya listrik yang besar dan stabil. Pemerintah Hindia-Belanda menyiasatinya dengan membangun turbin pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mikrohidro. Turbin ini memanfaatkan debit air terjun alami bernama Curug Sawer yang berada di kawasan Gunung Geger Pulus.
Asal-usul penamaan Curug Sawer memiliki dua versi cerita rakyat yang populer di tengah masyarakat:
Versi Budaya: Dinamai dari kisah mitos sepasang pengantin yang menggelar tradisi disawer (dilempari koin dan beras sebagai simbol berkat) di dekat air terjun.
Versi Deskriptif: Berasal dari kata saweran dalam bahasa Sunda, yang menggambarkan cipratan atau ceceran butiran air kecil yang terhempas angin dari tebing air terjun utama.
Rumah Dinas Teknisi dan Catatan Kelam Raymond Westerling
Selain kompleks pemancar NIROM dan eksotisme Curug Sawer, Gunung Geger Pulus juga menyimpan memori kolektif yang kelam terkait agresi militer Belanda. Di sekitar lokasi, terdapat kompleks perumahan dinas para pegawai dan teknisi Eropa.
Salah satu rumah yang paling disorot adalah kediaman milik Tuan H.C.A. Smits, seorang teknisi kelas satu di stasiun radio NIROM. Rumah dinas bergaya arsitektur jengki ini tercatat pernah dijadikan sebagai basis kediaman temporer sekaligus tempat menyusun strategi oleh Raymond Westerling—komandan pasukan khusus Belanda (DST/KST) yang memimpin pembantaian keji di Sulawesi Selatan dan dalang kudeta APRA di Kota Bandung.
Kondisi Masa Kini: Menjadi Sekolah dan Cagar Budaya
Kompleks bernilai historis tinggi di Kecamatan Cililin ini kini telah bersalin rupa, namun tetap dipertahankan keberadaannya:
Situs Sejarah: Sisa-sisa bangunan utama bekas Gedung NIROM saat ini telah resmi ditetapkan dan dilindungi sebagai situs cagar budaya nasional berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Fasilitas Pendidikan: Bangunan bekas perumahan dinas pegawai stasiun radio masa kolonial kini telah di revitalisasi dan dialihfungsikan menjadi bagian dari kompleks bangunan sekolah SMA Negeri 1 Cililin.
Destinasi Wisata: Sementara itu, Curug Sawer yang dahulu menjadi penyokong energi stasiun radio, kini masih berdiri kokoh dan dikembangkan sebagai objek wisata alam andalan di Bandung Barat.