38°C
13/03/2026
Budaya

Malem Lilikuran, Tradisi Sunda Menyambut Malam Penuh Berkah di Pengujung Ramadan

  • Maret 12, 2026
  • 3 min read
Malem Lilikuran, Tradisi Sunda Menyambut Malam Penuh Berkah di Pengujung Ramadan

INFO BANDUNG BARAT — Di tengah arus modernisasi yang kian kencang, masyarakat Tatar Sunda tetap konsisten menghidupkan tradisi Malem Lilikuran sebagai bagian tak terpisahkan dari ritual bulan suci Ramadan. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan manifestasi spiritual dan sosial dalam menjemput malam Lailatulqadar. Bagi warga di Jawa Barat, momen ini merupakan puncak dari perjalanan batin selama satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa.

Secara etimologi, istilah lilikuran berakar dari kata likur dalam sistem bilangan bahasa Sunda yang merujuk pada angka dua puluhan. Dalam konteks kalender Islam, tradisi ini dilaksanakan pada malam-malam ganjil setelah tanggal 20 Ramadan, yakni mulai malam ke-21 hingga ke-29. Penamaan ini menunjukkan ketelitian masyarakat tradisional Sunda dalam menandai waktu-waktu krusial yang dianggap memiliki derajat kesucian tinggi.

Aktivitas utama Malem Lilikuran biasanya berpusat di masjid dan musala melalui penguatan ibadah kolektif yang dilakukan hingga dini hari. Masyarakat mengintensifkan salat malam (tahajud), tadarus Al-Qur’an, zikir, hingga iktikaf demi mengharapkan keberkahan yang berlipat ganda. Filosofi utamanya adalah kesadaran untuk tetap “terjaga” secara spiritual, di mana waktu istirahat dialihkan menjadi momentum kontemplasi mendalam.

Selain aspek vertikal, Malem Lilikuran memiliki dimensi sosial yang kental melalui tradisi berbagi makanan yang dikenal dengan istilah sidekah. Di berbagai pelosok desa, warga secara swadaya membawa hantaran tradisional ke tempat ibadah untuk disantap bersama jemaah lainnya setelah rangkaian ibadah selesai. Fenomena ini memperlihatkan bahwa ibadah dalam perspektif budaya Sunda tidak hanya bersifat individual, tetapi juga memperkuat ikatan komunal.

Menu yang disajikan dalam hantaran tersebut umumnya bersifat khas dan sarat akan makna filosofis, seperti ulen atau uli ketan serta sambal oncom. Tekstur ketan yang lengket secara simbolis merepresentasikan harapan akan keeratan silaturahmi antarwarga agar tetap solid dan tidak mudah terputus. Hal ini menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal mampu memberikan “nyawa” pada setiap hidangan yang disajikan dalam prosesi keagamaan tersebut.

Di beberapa daerah tertentu, tradisi ini juga diperkuat dengan penyalaan lampu minyak atau obor yang diletakkan di halaman rumah serta sepanjang akses jalan menuju masjid. Cahaya tersebut merupakan simbol petunjuk (pituduh) dan harapan agar iman setiap individu tetap menyala terang di tengah kegelapan duniawi. Secara filosofis, pancaran cahaya ini juga melambangkan kesucian hati jemaah dalam menyambut hari kemenangan yang kian dekat di depan mata.

Secara sosiologis, Malem Lilikuran bertindak sebagai jaring pengaman sosial yang menjaga nilai gotong royong tetap hidup di tengah masyarakat yang kian individualis. Melalui distribusi makanan dan kegiatan ibadah bersama, sekat-sekat perbedaan status sosial di lingkungan warga sejenak luruh demi kepentingan kolektif. Hal ini mempertegas prinsip bahwa kesalehan ritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial agar tercipta harmoni dalam kehidupan beragama.

Hingga saat ini, esensi Malem Lilikuran tetap terjaga meski bentuk seremonialnya mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, terutama di wilayah perkotaan. Tradisi ini terus menjadi identitas budaya yang mengingatkan masyarakat akan pentingnya menyeimbangkan aspek lahiriah dan batiniah dalam beragama. Dengan mempertahankan tradisi ini, masyarakat Sunda secara tidak langsung menjaga warisan leluhur yang menjunjung tinggi etika kebersamaan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.***

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *