38°C
13/03/2026
Budaya

Mitembeyan: Menjaga Keseimbangan Alam melalui Ritual Awal

  • Maret 12, 2026
  • 2 min read
Mitembeyan: Menjaga Keseimbangan Alam melalui Ritual Awal

INFO BANDUNG BARAT Tradisi kerap dianggap kuno bahkan menyimpang. Namun, di baliknya sering tersimpan kearifan lokal yang memuat pesan kehidupan yang mendalam. Salah satunya adalah tradisi Mitembeyan, sebuah upacara adat masyarakat Sunda yang sarat nilai ekologis dan spiritual.

Secara etimologis, mitembeyan berasal dari bahasa Sunda yang berarti ngamimitian atau memulai. Tradisi ini merupakan upacara adat yang dilakukan sebelum memulai pekerjaan di bidang pertanian, seperti menebar bibit, menanam padi, maupun memanen hasil tani. Tradisi tersebut berakar dari pengaruh kepercayaan Hindu sebelum masuknya Islam ke wilayah Jawa Barat.

Pada masa itu, upacara ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Dewi Sri yang dipercaya sebagai Dewi Kemakmuran dan pelindung pertanian. Penelitian Winiarti dkk. (2024) dalam kajian berjudul “Dampak Akulturasi Budaya Islam terhadap Upacara Adat Mitembeyan di Subang” menjelaskan bahwa para petani melakukan ritual ini untuk memohon kelancaran dalam proses menanam padi serta perlindungan Dewi Sri dari berbagai tantangan bercocok tanam. Setelah Islam berkembang, makna tersebut mengalami perubahan menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas berkah hasil panen.

Dalam praktiknya, upacara Mitembeyan biasanya diawali dengan pembacaan mantra oleh tetua kampung sambil membakar menyan atau dupa. Asap yang dihasilkan diarahkan ke berbagai penjuru sawah sebagai simbol penyucian dan permohonan keselamatan. Selain itu, masyarakat juga menyiapkan sesajen berupa nasi dan lauk-pauk yang sering dilengkapi dengan ayam bakakak. Setelah pembacaan doa atau mantra selesai, tetua kampung akan menancapkan padi pertama sebagai tanda dimulainya proses penanaman, kemudian diikuti oleh para petani lainnya.

Tradisi Mitembeyan memadukan dua unsur penting, yaitu budaya dan agama. Unsur budaya tercermin dalam bentuk upacara tradisional yang diwariskan secara turun-temurun, sedangkan unsur agama tampak dalam doa atau mantra yang dipanjatkan. Ramli dan Cahaya (2020) menyebutkan bahwa Mitembeyan merupakan bentuk ekspresi budaya visual tradisional masyarakat Sunda.

Seiring perkembangan zaman, beberapa praktik mengalami perubahan, termasuk kepemimpinan upacara yang kini sering dipimpin oleh tokoh agama. Meski demikian, esensi Mitembeyan tetap terjaga sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus harapan akan hasil panen yang melimpah.

Lebih dari sekadar ritual, Mitembeyan menjadi pengingat agar manusia tidak bersikap sombong terhadap alam dan tidak merusak bumi saat mengambil manfaat darinya. Tradisi ini mencerminkan ajén kahirupan atau nilai kehidupan tentang keseimbangan, menghormati tanah yang memberi makan, serta menjaga air yang memberi kehidupan. Pada akhirnya, Mitembeyan dapat dipahami sebagai doa yang divisualisasikan, warisan leluhur yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *