Istilah-Istilah Sunda yang Melekat di Bulan Ramadan
INFO BANDUNG BARAT — Ramadan tidak hanya identik dengan ibadah, tetapi juga dengan berbagai tradisi dan istilah khas yang hidup di tengah masyarakat. Di kalangan masyarakat Sunda, khususnya di Jawa Barat, terdapat sejumlah istilah yang sering terdengar selama bulan puasa. Istilah-istilah ini bukan sekadar kata, melainkan cerminan budaya, kebersamaan, dan cara masyarakat memaknai Ramadan.
Salah satunya adalah taraweh keliling, yaitu kebiasaan melaksanakan salat tarawih dengan berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid lain. Selain menjalankan ibadah, kegiatan ini juga menjadi sarana memperluas silaturahmi serta mengenal lingkungan sekitar.
Menjelang akhir Ramadan, masyarakat Sunda mengenal tradisi Poe Likuran, yaitu peringatan malam ke-21 Ramadan untuk menyambut malam-malam ganjil yang diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar. Tradisi ini biasanya diisi dengan memperbanyak ibadah, seperti iktikaf, salat malam, dan tadarus Al-Qur’an.
Ada pula istilah baju dulag, yaitu pakaian baru yang disiapkan khusus untuk dikenakan saat Hari Raya Idulfitri. Bagi banyak orang, baju dulag menjadi simbol kegembiraan dalam menyambut hari kemenangan setelah sebulan berpuasa.
Istilah yang paling populer tentu saja ngabuburit, yang berarti menunggu waktu berbuka puasa. Kegiatan ini biasanya diisi dengan berjalan santai, berburu takjil, atau berkumpul bersama teman dan keluarga. Meski sederhana, ngabuburit menjadi momen untuk mempererat hubungan sosial.
Di beberapa kampung, masyarakat juga mengenal tradisi ngadulag, yaitu membangunkan warga untuk sahur dengan menabuh bedug atau alat sederhana lainnya. Suara tersebut menjadi semacam alarm kolektif yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan gotong royong.
Sementara itu, ngabeubeurang merujuk pada aktivitas siang hari saat menjalani puasa. Ritme kehidupan biasanya terasa lebih tenang karena setiap orang sama-sama menahan lapar dan haus, sehingga muncul rasa saling memahami dan empati.
Ada pula istilah puasa ayakan, yaitu puasa yang tidak dijalankan secara penuh, misalnya hanya berpuasa pada hari tertentu atau sebagian waktu saja. Istilah ayakan berasal dari singkatan lamun aya dihakan, yang berarti “kalau ada makanan, dimakan”.
Terakhir, godin adalah istilah untuk membatalkan puasa secara sengaja sebelum waktu berbuka.
Beragam istilah ini menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah spiritual, tetapi juga sebagai ruang hidupnya tradisi dan kebersamaan masyarakat. Bahasa lokal pun menjadi cara unik masyarakat Sunda dalam merayakan dan memaknai bulan suci dengan penuh kehangatan.***