Bendungan Jebol di Bandung Barat, Warga Terpaksa Swadaya Sementara
INFO BANDUNG BARAT — Bendungan irigasi di Kampung Parakan Wayang, Desa Sirnajaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, dilaporkan jebol sejak sekitar dua bulan terakhir. Hingga kini, kondisi tersebut belum tertangani secara optimal dan mulai berdampak pada aktivitas pertanian warga.
Informasi awal mengenai kejadian ini diperoleh dari laporan warga yang masuk melalui pesan langsung (DM). Dalam laporan tersebut, warga menyampaikan kondisi yang mereka alami sejak bendungan jebol. “Soalnya bendungan udah jebol sekitar 2 bulanan. Jadi sampai sekarang warga sekitar kesulitan air, terutama yang mengandalkan air dari sungai (pertanian, perikanan, dan kehidupan sehari-hari),” tulis warga dalam laporannya.
Selain itu, warga juga mengungkapkan bahwa kondisi aliran air semakin memburuk dalam beberapa waktu terakhir. “Sungai-sungai kecil pun sudah mengering dari sebelum puasa. Agak mending kalau pas ada hujan cukup deras,” lanjutnya.
Camat Gununghalu, A. Haris Kosaman, membenarkan adanya kerusakan pada bendungan tersebut. Ia menjelaskan bahwa bendungan memiliki peran vital dalam mengairi lahan pertanian warga, dengan cakupan sekitar 60 hektare sawah dan perkebunan serta jaringan irigasi sepanjang kurang lebih 9 kilometer.
“Sejak jebol pada awal bulan Ramadan, aliran air tidak lagi maksimal karena tidak dapat masuk ke saluran irigasi,” ujar Haris.
Menurut Haris, secara kewenangan, pengelolaan bendungan tersebut berada di bawah pemerintah kabupaten melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), khususnya pada bidang sumber daya air. Sementara itu, untuk aliran sungai yang lebih besar biasanya menjadi kewenangan pemerintah provinsi maupun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS).
Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah kabupaten sebelumnya telah melakukan penanganan darurat saat bendungan pertama kali jebol, yakni dengan menurunkan tim ke lokasi serta memasang bronjong sebagai upaya sementara. Namun, tingginya curah hujan di wilayah hulu menyebabkan debit air meningkat, sehingga bendungan yang telah diperbaiki secara darurat tersebut kembali jebol.
“Penanganan darurat sudah dilakukan, tetapi karena tekanan debit air yang besar, perbaikan sementara tersebut tidak mampu bertahan lama,” jelasnya.
Di sisi lain, masyarakat setempat berinisiatif melakukan perbaikan secara swadaya. Warga bahkan membuka donasi untuk memperbaiki bendungan agar aliran air bisa kembali mengalir ke area persawahan. Hingga saat ini, perbaikan yang dilakukan baru mencapai sekitar 25 persen.
Dalam laporan yang sama, warga juga menyebut dugaan penyebab kerusakan bendungan. “Jebolnya mungkin karena beberapa faktor, debit air yang tinggi terutama pas musim hujan kemarin-kemarin, terus konstruksinya yang sepertinya kurang kuat juga,” tulisnya.
Dampak kerusakan bendungan tidak hanya dirasakan di satu wilayah. Berdasarkan data yang disampaikan warga, sekitar 11 RW terdampak dengan luas lahan mencapai kurang lebih 90 hektare area persawahan. Selain itu, sekitar 2.276 kepala keluarga turut merasakan dampaknya.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah lahan pertanian kini tidak lagi teraliri air secara optimal. Hal ini terjadi karena posisi kerusakan bendungan membuat air tidak dapat naik dan masuk ke saluran irigasi seperti sebelumnya.
Haris menegaskan bahwa meskipun upaya swadaya masyarakat cukup membantu dalam jangka pendek, perbaikan permanen tetap harus dilakukan secara teknis oleh pihak berwenang agar hasilnya lebih kuat dan tidak kembali rusak.
Saat ini, pihak kecamatan bersama pemerintah desa telah mengajukan permohonan kepada pemerintah kabupaten dan provinsi agar segera dilakukan penanganan lanjutan. Berdasarkan informasi yang diterima, dalam waktu dekat pihak dari provinsi direncanakan akan melakukan peninjauan ke lokasi.
Permasalahan ini dinilai mendesak karena menyangkut mata pencaharian masyarakat, khususnya para petani yang bergantung pada ketersediaan air irigasi.