Bupati Bandung Barat Tinjau Akses dan Fasilitas SD Giri Asih, Perbaikan Jalan hingga Air Bersih Jadi Sorotan
INFO BANDUNG BARAT — Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, meninjau langsung kondisi akses jalan dan fasilitas pendidikan di SD Giri Asih, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin. Dalam kunjungan tersebut, Jeje mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi jalan menuju sekolah yang dinilai cukup ekstrem dan membahayakan para siswa.
Menurutnya, perjalanan menuju lokasi sekolah harus ditempuh sejauh sekitar 2,6 kilometer dengan kondisi jalan sempit hanya sekitar 1 hingga 2 meter. Selain itu, medan yang dilalui berupa tanjakan curam dengan jurang di sisi kanan dan kiri jalan.
“Kita meninjau perjalanan sekitar 2,6 kilometer dari bawah dengan kondisi jalan yang bisa dibilang cukup ekstrem karena kiri kanan jurang, tanjakan, dan jalannya sempit sekali, hanya sekitar 1 sampai 2 meter,” ujar Jeje saat meninjau lokasi.
Selain akses jalan, kondisi bangunan sekolah juga disebut memprihatinkan. Atap sekolah masih banyak yang bocor, sementara ketersediaan air bersih menjadi persoalan utama yang selama ini dihadapi pihak sekolah.
“Saya melihat kondisi sekolahnya juga mengkhawatirkan. Kesulitan air bersih dan atapnya masih banyak yang bocor. Jadi saya minta Dinas Pendidikan segera melakukan perbaikan karena ini menunjang semangat belajar para siswa di Desa Karang Tanjung,” katanya.
Dalam peninjauan tersebut, Jeje turut membawa jajaran Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) untuk mengecek langsung kondisi akses jalan. Kepala Dinas PUTR Bandung Barat, Pak Amin, menjelaskan bahwa penanganan jalan menuju sekolah membutuhkan rekayasa teknis khusus karena kondisi geografis yang cukup sulit.
“Total panjang jalan sekitar 2,6 kilometer. Kurang lebih 1 kilometer masuk wilayah Desa Cililin dan sisanya wilayah Desa Karangtanjung. Kalau melihat kondisi di lapangan, penanganannya membutuhkan rekayasa teknis yang betul-betul matang,” jelasnya.
Ia menambahkan, estimasi anggaran perbaikan jalan diperkirakan bisa mencapai lebih dari Rp25 miliar karena diperlukan pelebaran jalan, pembangunan tembok penahan tanah (TPT), hingga bronjong di sejumlah titik rawan.
“Kalau dimaksimalkan mungkin biayanya bisa di atas Rp25 miliar dengan panjang 2,6 kilometer. Karena ada pelebaran jalan dan pengamanan lereng yang perlu diperhatikan,” katanya.
Meski demikian, pemerintah daerah berencana melakukan penanganan darurat terlebih dahulu agar akses warga dan siswa menjadi lebih aman, terutama saat kondisi jalan licin.
“Tadi keluhan siswa itu jalanan licin. Risiko naik motor cukup berbahaya, saya sendiri tadi hampir jatuh. Jadi mudah-mudahan pelan-pelan kita perbaiki satu per satu,” ujar Jeje.
Selain infrastruktur jalan, pemerintah daerah juga akan menambah fasilitas penunjang sekolah seperti ruang perpustakaan dan perbaikan sistem penyediaan air bersih. Saat ini, siswa disebut kesulitan menggunakan toilet sekolah karena tidak tersedia air.
“Toilet di SD Giri Asih kendalanya memang tidak ada air dan kondisinya cukup memprihatinkan. Bahkan siswa di sini kalau ke toilet harus ke rumah warga,” ungkap Jeje.
Ia juga mengapresiasi semangat para tenaga pendidik yang tetap mengabdi di tengah keterbatasan fasilitas dan sulitnya akses menuju sekolah.
“Ini contoh yang harus ditiru. Semangat mengabdi tanpa melihat kondisi wilayah. Semangat untuk semuanya,” tutupnya.