Prodi “Tak Relevan Industri” Mau Ditutup? Pendidikan Bukan Sekadar Pabrik Tenaga Kerja
INFO BANDUNG BARAT — Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri memunculkan perdebatan mengenai orientasi pendidikan tinggi, apakah kampus semata berfungsi sebagai pemasok tenaga kerja, atau sebagai ruang produksi pengetahuan yang lebih luas? Dalam perspektif human capital theory yang dipopulerkan Gary Becker, pendidikan dipahami sebagai investasi untuk meningkatkan produktivitas ekonomi. Pendekatan ini banyak memengaruhi kebijakan pendidikan modern, terutama ketika perguruan tinggi didorong selaras dengan kebutuhan pasar kerja. Namun, sejumlah kritik menilai pendekatan tersebut terlalu menempatkan pendidikan dalam logika utilitarian, seolah nilai sebuah disiplin hanya diukur dari manfaat ekonominya.
Pierre Bourdieu menawarkan pembacaan berbeda melalui konsep cultural capital. Menurutnya, pendidikan tidak hanya menghasilkan keterampilan kerja, tetapi juga memproduksi modal pengetahuan, kebiasaan intelektual, dan kapasitas berpikir yang menentukan bagaimana individu berpartisipasi dalam masyarakat. Dalam kerangka ini, relevansi suatu program studi tidak dapat semata-mata diukur melalui serapan industri, sebab fungsi pendidikan juga berkaitan dengan produksi nilai, wawasan, dan kemampuan reflektif yang tidak selalu terlihat dalam indikator pasar kerja.
Pandangan serupa muncul dalam konsep liberal education yang dikembangkan Martha Nussbaum. Dalam Not for Profit, Nussbaum menekankan bahwa pendidikan memiliki fungsi membentuk nalar kritis, empati, dan imajinasi demokratis. Perspektif ini memandang humaniora, seni, dan ilmu sosial bukan sebagai disiplin pelengkap, melainkan bagian penting dari ekosistem pengetahuan modern. Argumen ini relevan ketika sebagian bidang ilmu mulai dinilai hanya berdasarkan kedekatannya dengan kebutuhan industri, padahal banyak kontribusi ilmu justru hadir melalui fungsi-fungsi yang tidak langsung bersifat ekonomis.
Dalam perkembangan ekonomi kontemporer, teori knowledge economy menunjukkan bahwa pertumbuhan tidak lagi semata bertumpu pada keterampilan teknis, melainkan pada inovasi, kreativitas, dan produksi pengetahuan. Hal ini sejalan dengan laporan Future of Jobs dari World Economic Forum yang menempatkan analytical thinking, creative thinking, dan lifelong learning sebagai kompetensi utama masa depan. Temuan ini memperlihatkan bahwa relevansi pendidikan semakin bergeser dari penyesuaian terhadap pekerjaan yang tersedia menuju kemampuan menghadapi perubahan pekerjaan itu sendiri.
Kerangka transferable skills turut memperkuat pandangan bahwa hubungan antara jurusan dan profesi tidak lagi linear. Banyak studi menunjukkan lulusan berbagai disiplin memasuki sektor yang melampaui bidang asalnya karena membawa kompetensi yang dapat diterapkan lintas konteks, seperti komunikasi, analisis, riset, dan pemecahan masalah. Perspektif ini menjelaskan mengapa nilai suatu program studi tidak selalu dapat diukur hanya melalui jalur profesi langsung, melainkan juga melalui kapasitas yang dibawa lulusannya ke berbagai sektor.
Kajian tentang inovasi juga banyak bertumpu pada teori interdisciplinarity, yakni gagasan bahwa pengetahuan berkembang melalui pertemuan antardisiplin. Dalam model Triple Helix yang dikembangkan Henry Etzkowitz dan Loet Leydesdorff, inovasi lahir melalui interaksi perguruan tinggi, industri, dan negara, bukan melalui subordinasi kampus terhadap industri semata. Dalam perspektif ini, tantangan pendidikan bukan menghapus bidang yang dianggap kurang relevan, melainkan memperkuat kolaborasi lintas disiplin agar ilmu lebih adaptif terhadap perubahan sosial dan teknologi.
Gert Biesta melalui konsep subjectification menambahkan dimensi lain bahwa pendidikan bukan hanya soal kualifikasi kerja, tetapi juga pembentukan subjek yang mampu berpikir dan mengambil posisi di dunia. Perspektif ini memperluas makna pendidikan dari sekadar kesiapan ekonomi menuju pembentukan manusia yang otonom dan reflektif. Dalam kerangka ini, perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan pekerja, melainkan menjadi ruang tempat pengetahuan, kritik, dan kemungkinan sosial diproduksi.
Perdebatan mengenai relevansi program studi dengan demikian tidak hanya menyangkut efisiensi pendidikan, tetapi juga menyentuh benturan paradigma tentang makna pendidikan itu sendiri. Berbagai teori pendidikan, ekonomi pengetahuan, dan inovasi menunjukkan bahwa nilai sebuah disiplin tidak selalu terletak pada kedekatannya dengan kebutuhan industri saat ini, melainkan juga pada kontribusinya dalam membangun kapasitas berpikir, membuka kemungkinan lintas bidang, dan menopang perubahan yang sering kali baru terbaca jauh setelah ilmu tersebut berkembang.