38°C
10/08/2026
Berita Daerah Edukasi

Ketika Jam Kerja Berubah Jadi Jam Live, Ada Apa dengan Fokus Kita?

  • Agustus 10, 2026
  • 6 min read
Ketika Jam Kerja Berubah Jadi Jam Live, Ada Apa dengan Fokus Kita?

INFO BANDUNG BARAT — Kasus seorang ASN di Kabupaten Bandung Barat yang melakukan siaran langsung di media sosial saat jam kerja menjadi pengingat bahwa penggunaan media sosial tidak selalu berhenti pada persoalan hiburan. Ketika aktivitas scrolling, membuat konten, atau melakukan siaran langsung mulai mengambil waktu dan perhatian yang seharusnya digunakan untuk bekerja, persoalannya dapat bergeser menjadi masalah produktivitas dan profesionalitas.

Kasus tersebut juga menarik dibaca dari sisi yang lebih luas tentang mengapa kita semakin sulit melepaskan perhatian dari media sosial, bahkan ketika sedang memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan?

ASN Bandung Barat Live Saat Jam Kerja

Seorang ASN PPPK paruh waktu di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Bandung Barat mendapat teguran setelah melakukan siaran langsung di media sosial saat jam kerja.

Dalam siaran tersebut, muncul pembicaraan mengenai permintaan fee proyek sebesar 1 persen. Dinas PUTR kemudian memastikan bahwa percakapan mengenai fee tersebut tidak berkaitan dengan institusinya.

ASN yang bersangkutan juga telah menyampaikan permintaan maaf. Atas tindakannya, ia mendapatkan teguran lisan dan tertulis. Dinas PUTR turut berkoordinasi dengan BKPSDM dan Inspektorat terkait penanganan disiplin.

Kasus ini pada dasarnya memperlihatkan satu persoalan sederhana tetapi penting, yaitu ada waktu dan ruang yang seharusnya digunakan untuk menjalankan pekerjaan, tetapi justru digunakan untuk aktivitas pribadi di media sosial.

Masalahnya Bukan Sekadar TikTok

Menyalahkan TikTok atau media sosial secara keseluruhan tentu terlalu sederhana. Media sosial dapat digunakan untuk berkomunikasi, memperoleh informasi, membangun jejaring, bahkan menjadi bagian dari pekerjaan.

Persoalan muncul ketika penggunaan media sosial mulai mengganggu aktivitas yang seharusnya menjadi prioritas.

Dalam lingkungan kerja, kondisi tersebut dikenal sebagai task distraction, yaitu ketika perhatian seseorang teralihkan dari tugas yang sedang dikerjakan. Penelitian Moqbel dan Kock dalam jurnal Information & Management menunjukkan bahwa penggunaan media sosial di tempat kerja dapat berkaitan dengan gangguan terhadap tugas dan performa pekerjaan.

Artinya, seseorang tidak harus menghabiskan berjam-jam di media sosial untuk mengalami dampaknya. Beberapa kali berpindah perhatian dari pekerjaan ke notifikasi, video, komentar, atau siaran langsung pun dapat membuat fokus terpecah.

Kenapa Kita Sulit Berhenti Scrolling?

Pernah membuka TikTok dengan niat hanya melihat satu atau dua video, tetapi tanpa terasa sudah menghabiskan puluhan menit?

Salah satu karakteristik utama platform video pendek adalah aliran konten yang tidak pernah benar-benar berhenti. Setelah satu video selesai, konten berikutnya langsung tersedia. Pengguna tidak perlu mencari sesuatu yang baru karena sistem rekomendasi terus menyediakannya.

Kondisi tersebut membuat aktivitas konsumsi konten menjadi sangat mudah dilakukan berulang-ulang.

Penelitian Chiossi dan sejumlah peneliti lainnya mengenai video pendek menemukan bahwa konsumsi short-form video dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk mempertahankan niat atau rencana yang sebelumnya ingin dilakukan. Dengan kata lain, pergantian stimulus yang sangat cepat dapat membuat perhatian lebih mudah berpindah.

Karena itu, masalah scrolling bukan hanya tentang “berapa menit yang hilang”, tetapi juga tentang kemampuan kita untuk kembali kepada pekerjaan setelah perhatian teralihkan.

Dari “Cuma Sebentar” hingga Brain Rot

Dari sinilah istilah brain rot menjadi relevan untuk dibicarakan.

Brain rot sebenarnya bukan diagnosis medis. Istilah tersebut merupakan istilah populer untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap konsumsi konten digital secara berlebihan, terutama konten yang dianggap dangkal, repetitif, dan dikonsumsi secara terus-menerus.

Oxford University Press bahkan memilih brain rot sebagai Word of the Year 2024. Pemilihannya mencerminkan meningkatnya perhatian publik terhadap kebiasaan mengonsumsi konten digital dalam jumlah besar dan dampaknya terhadap cara seseorang menggunakan waktu serta perhatiannya.

Namun, brain rot tidak berarti otak benar-benar “membusuk”. Istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai fenomena budaya daripada istilah medis.

Sejumlah penelitian mulai mengkaji hubungan antara konsumsi konten digital berlebihan dengan konsentrasi, beban kognitif, dan kelelahan mental. Meski demikian, hubungan tersebut tidak boleh disederhanakan menjadi kesimpulan bahwa setiap orang yang menggunakan TikTok akan mengalami penurunan kemampuan berpikir.

Bukan Berarti Media Sosial Membuat Kita Bodoh

Ada hal penting yang sering hilang ketika membicarakan brain rot: media sosial bukan musuh.

Video pendek dapat memberikan hiburan, informasi, inspirasi, bahkan menjadi sarana membangun komunitas. Bagi sebagian orang, membuat konten juga merupakan pekerjaan.

Persoalannya adalah pola penggunaan.

Ketika seseorang mampu menentukan kapan menggunakan media sosial dan kapan kembali bekerja, risikonya tentu berbeda dengan seseorang yang merasa harus terus membuka aplikasi setiap kali muncul rasa bosan.

Pekerjaan tertentu membutuhkan kemampuan mempertahankan perhatian dalam waktu yang cukup lama. Membaca dokumen, menyusun laporan, memecahkan masalah, melakukan analisis, atau menyelesaikan pekerjaan administratif tidak selalu memberikan rangsangan secepat video berdurasi belasan detik.

Akibatnya, pekerjaan yang membutuhkan proses panjang bisa terasa lebih membosankan ketika seseorang sudah terbiasa dengan pergantian stimulus yang sangat cepat.

Karena itu, yang perlu dipertanyakan bukan “Apakah TikTok membuat kita bodoh?”, melainkan “Apakah kita masih mampu mengendalikan kapan harus berhenti menggunakannya?”

Fokus Juga Bagian dari Profesionalitas

Kasus ASN Bandung Barat tersebut memberikan konteks yang lebih konkret terhadap persoalan ini.

Di tengah kehidupan digital, batas antara kehidupan pribadi dan aktivitas profesional memang semakin tipis. Seseorang dapat membawa kamera, melakukan siaran langsung, membalas komentar, dan mengakses berbagai platform hanya melalui telepon genggam.

Kemudahan tersebut sekaligus menciptakan tantangan baru: kemampuan untuk mengetahui kapan perangkat harus digunakan dan kapan harus disimpan.

Dalam konteks pekerjaan, termasuk bagi ASN, persoalannya bukan hanya mengenai aplikasi yang digunakan. Ada tanggung jawab, waktu kerja, serta etika profesional yang tetap harus diperhatikan.

Melakukan aktivitas pribadi ketika pekerjaan sedang berlangsung dapat membuat fokus terbagi. Ketika aktivitas tersebut dilakukan secara terbuka melalui siaran langsung, konsekuensinya bahkan dapat menjadi lebih luas karena apa yang dilakukan dapat disaksikan dan direkam oleh publik.

Bagaimana Menghindari Kecanduan Media Sosial?

Mengurangi distraksi media sosial tidak selalu berarti harus menghapus seluruh aplikasi. Langkah sederhana bisa dimulai dengan mematikan notifikasi yang tidak berkaitan dengan pekerjaan, menetapkan waktu khusus untuk membuka media sosial, dan menghindari kebiasaan membuka aplikasi setiap kali merasa bosan.

Mengerjakan satu tugas sampai selesai sebelum berpindah ke aktivitas lain juga dapat membantu mengurangi kebiasaan berpindah perhatian.

Yang tidak kalah penting adalah membangun kembali kemampuan untuk merasa nyaman dengan aktivitas yang tidak memberikan stimulasi instan. Membaca, bekerja dalam durasi tertentu tanpa membuka ponsel, atau menyelesaikan pekerjaan tanpa terus-menerus memeriksa notifikasi merupakan bentuk latihan sederhana untuk mempertahankan perhatian.

Jadi, persoalannya bukan apakah kita boleh menggunakan media sosial, tetapi apakah kita masih menjadi pihak yang mengendalikan penggunaannya.

Kasus ASN Bandung Barat yang melakukan live saat jam kerja dapat menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus konten digital, kemampuan untuk menjaga fokus bukan lagi sekadar persoalan produktivitas. Menjaga perhatian juga merupakan bagian dari profesionalitas.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *