38°C
03/09/2026
Bhineka

Di Antara Dua Daratan, Anak-Anak Saguling Mencari Jalan ke Sekolah

  • September 4, 2026
  • 6 min read
Di Antara Dua Daratan, Anak-Anak Saguling Mencari Jalan ke Sekolah

INFO BANDUNG BARAT — Sebelum lonceng sekolah berbunyi dan kegiatan belajar mengajar dimulai, sejumlah anak di Kampung Sadang, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, telah lebih dulu menyelesaikan sebuah perjalanan yang tidak biasa. Di saat anak-anak lain di perkotaan berangkat sekolah menggunakan sepeda motor, bus jemputan, atau berjalan kaki di atas trotoar yang aman, anak-anak di Kampung Sadang harus menantang arus dan kedalaman air. Mereka menyeberangi perairan Waduk Saguling menggunakan rakit bambu sederhana demi bisa sampai ke ruang kelas.

Seperti dilansir dari Metro TV, perjalanan mempertaruhkan keselamatan tersebut dilakukan oleh sejumlah siswa SDN Budiharja sebagai bagian dari rutinitas harian mereka. Bagi anak-anak di kawasan tersebut, rakit bukan lagi sekadar alat transportasi tradisional atau daya tarik wisata pedesaan, melainkan sarana vital yang menghubungkan mereka dengan masa depan.

Namun, narasi mengenai kehidupan anak-anak Kampung Sadang ini tidak seharusnya berhenti pada romantisasi ketangguhan dan keberanian anak-anak pedalaman. Di balik cerita heroik tentang kegigihan mereka menuntut ilmu, terdapat persoalan struktural yang jauh lebih besar, bagaimana keterbatasan akses infrastruktur dasar dapat terintegrasi begitu dalam dan menjadi bagian dari norma kehidupan sehari-hari masyarakat lokal.

Rakit Menjadi Pilihan Paling Memungkinkan di Tengah Keterbatasan

Berdasarkan laporan Metro TV, keputusan warga dan para siswa untuk menggunakan jalur air bukanlah tanpa alasan. Jalur air menjadi pilihan utama karena menawarkan jarak tempuh yang jauh lebih pendek dibandingkan jika mereka harus melintasi jalur darat.

Dengan memanfaatkan rakit bambu, perjalanan menyeberangi waduk dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat. Sebaliknya, apabila memilih jalur darat, warga dan anak-anak sekolah harus berjalan mengitari kawasan waduk dengan jarak tempuh mencapai sekitar 2,5 kilometer. Kondisi medan jalur darat yang belum memadai membuat perjalanan memutar tersebut membutuhkan waktu antara 30 menit hingga satu jam perjalanan kaki, sebuah jarak dan waktu tempuh yang cukup menguras tenaga bagi anak-anak usia sekolah dasar sebelum mereka mulai menyerap pelajaran di kelas.

Pilihan menggunakan rakit sama sekali tidak didasari oleh kenyamanan atau kenyamanan bertransportasi. Bagi masyarakat setempat, rakit adalah pilihan paling realistis yang tersedia untuk memangkas jarak geografis. Bagi anak-anak sekolah, persoalannya sangat sederhana namun berdampak besar, sekolah berada di daratan sebelah, dan lintasan tercepat untuk mencapainya berada di atas permukaan air Waduk Saguling.

Puluhan Tahun Beradaptasi Ketika Keterbatasan Menjadi Rutinitas

Fenomena penggunaan rakit oleh warga di kawasan Waduk Saguling ini bukanlah sebuah peristiwa baru yang muncul secara tiba-tiba. Seperti diberitakan oleh Kantor Berita ANTARA, jalur air telah menjadi urat nadi mobilitas warga lokal selama puluhan tahun untuk menjalankan berbagai aktivitas sosio-ekonomi harian.

Dalam kondisi ketika infrastruktur publik yang disediakan negara belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan mobilitas harian, masyarakat lokal mengembangkannya sendiri dengan sumber daya seadanya. Rakit kayu dan bambu pun terintegrasi ke dalam pola hidup harian, seiring bertumbuhnya kemampuan masyarakat untuk memetakan dan beradaptasi dengan bentang alam Waduk Saguling.

Kendati demikian, fakta bahwa masyarakat mampu bertahan dan beradaptasi tidak serta-merta menandakan bahwa masalah ketimpangan akses telah terselesaikan. Kemampuan adaptasi masyarakat yang tinggi justru menyimpan risiko tersendiri, yaitu keterbatasan yang terjadi berlarut-larut dapat terakumulasi hingga akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan wajar (desensitisasi). Apa yang pada awalnya merupakan sebuah ketimpangan infrastruktur, lambat laun bergeser menjadi sekadar rutinitas yang tidak lagi dipertanyakan.

Di titik inilah penting untuk membedakan secara tegas antara sesuatu yang telah menjadi “kebiasaan” karena keterpaksaan, dengan sesuatu yang seharusnya dinilai sebagai standar “kelayakan” hidup bagi warga negara.

Paradoks Aksesibilitas Pendidikan

Persoalan yang dialami para siswa di Kampung Sadang menggarisbawahi satu hakikat penting, yaitu jaminan akses pendidikan tidak hanya diukur dari tersedianya bangunan fisik sekolah. Keberadaan gedung sekolah, ruang kelas, dan tenaga pengajar di suatu wilayah baru memenuhi aspek ketersediaan (availability), belum menjamin aspek keterjangkauan (accessibility).

Berbagai studi mengenai sosiologi pendidikan dan perencanaan wilayah menunjukkan bahwa ketersediaan sarana pendidikan mutlak harus diimbangi dengan kemudahan masyarakat untuk menjangkaunya. Faktor-faktor seperti jarak tempuh, kondisi geografis, keandalan jalur transportasi, waktu transit, hingga ketersediaan moda transportasi umum sangat menentukan apakah layanan pendidikan benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal dan adil.

Bagi anak-anak yang harus mengayuh atau menumpang rakit menyeberangi Waduk Saguling, hambatan dalam menempuh pendidikan sudah dimulai jauh sebelum bel pelajaran pertama dibunyikan. Setiap pagi, perjalanan mereka dimulai dari rumah, berjalan menuju tepi waduk, menaiki rakit, menyeberangi perairan yang berisiko, lalu melanjutkan perjalanan darat hingga sampai di pintu sekolah. Rutinitas berulang ini memang memperlihatkan daya juang anak-anak pedesaan, tetapi di saat yang sama menjadi bukti nyata bahwa kesenjangan aksesibilitas pendidikan masih menjadi persoalan riil di daerah.

Respon Pemerintah Kabupaten Bandung Barat

Kondisi yang dihadapi para siswa di Desa Budiharja ini akhirnya menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Dilansir dari laporan Metro TV, Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, melakukan peninjauan lapangan secara langsung ke lokasi penyeberangan yang biasa digunakan oleh siswa dan warga Kampung Sadang.

Kehadiran pemerintah daerah di lapangan menjadi langkah awal dalam merumuskan solusi konkret agar anak-anak sekolah tidak lagi terus-menerus bergantung pada moda transportasi rakit yang berisiko tinggi.

Sebagai penanganan jangka pendek, pemerintah daerah menyiapkan opsi armada mobil antar-jemput khusus. Fasilitas transportasi darat ini ditargetkan untuk melayani sekitar 16 siswa yang selama ini mengandalkan rakit sebagai jalur utama menuju SDN Budiharja. Kehadiran mobil jemputan ini memindahkan beban mobilitas dari kapasitas adaptasi mandiri warga ke tangan negara, sekaligus memastikan anak-anak dapat menuju sekolah melalui jalur darat secara lebih aman.

Tantangan Pembangunan Infrastruktur Permanen

Kendati solusi sementara berupa mobil antar-jemput telah disiapkan, formulasi akses jangka panjang yang permanen tetap menghadapi tantangan teknis dan finansial yang tidak sederhana.

Berdasarkan hasil evaluasi teknis di lapangan yang dilaporkan Metro TV, bentang perairan waduk yang harus dilintasi di titik Kampung Sadang mencapai kurang lebih 280 meter. Jarak bentang yang sangat lebar ini membuat opsi pembangunan jembatan gantung konvensional dinilai tidak memungkinkan secara rekayasa teknis maupun keselamatan struktur.

Sebagai alternatif penyeberangan permanen, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mulai mengkaji kemungkinan opsi lain, seperti pembangunan jembatan apung (floating bridge). Namun, opsi jembatan apung membutuhkan tahapan studi kelayakan teknis yang matang, analisis dampak lingkungan, serta alokasi anggaran daerah yang relatif besar. Maka dari itu, selama kajian teknis dan perencanaan anggaran jembatan permanen masih berjalan, pengoperasian armada mobil jemputan menjadi solusi taktis paling rasional dan cepat untuk menjamin keselamatan 16 siswa tersebut.

Menuntaskan Jalan ke Sekolah

Kisah perjuangan anak-anak di Kampung Sadang, Desa Budiharja, bukan sekadar cerita sentimental tentang rakit kayu dan waduk yang tenang. Ini adalah potret bagaimana persoalan keterbatasan infrastruktur dapat membentuk realitas masa kecil anak-anak di daerah perbatasan wilayah.

Anak-anak dan warga setempat mungkin telah terbiasa dan terbukti tangguh dalam menghadapi tantangan alam di sekitar Waduk Saguling. Namun, ketangguhan warga tidak boleh dijadikan pembenaran oleh pemangku kebijakan untuk membiarkan ketimpangan infrastruktur berlangsung tanpa batas waktu.

Penyediaan mobil jemputan sekolah oleh Pemerintah Kabupaten Bandung Barat merupakan langkah awal yang patut diapresiasi. Namun, selama akses transportasi yang aman, permanen, dan berkelanjutan belum terbangun sepenuhnya, perjalanan anak-anak Kampung Sadang menuju meja belajar masih menjadi tugas pembangunan yang belum usai.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *