38°C
09/10/2026
Bhineka Books

Menghidupkan Kembali Iqra’ yang Tertidur Memalui Refleksi Filosofis atas Polemik Buku Memburu Muhammad

  • Oktober 9, 2026
  • 5 min read
Menghidupkan Kembali Iqra’ yang Tertidur Memalui Refleksi Filosofis atas Polemik Buku Memburu Muhammad

INFO BANDUNG BARAT — Mari kita mundur sejenak ke titik nol peradaban Islam, yakni saat gua Hira menjadi saksi turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW. Perintah yang menggema bukanlah “Berperanglah”, “Hukumlah”, atau “Kuasailah”, melainkan sebuah kata tunggal yang sarat beban ontologis, Iqra’—Bacalah.

Namun, belasan abad berselang, ketika kita melihat bagaimana masyarakat beragama merespons karya seni dan pemikiran hari ini, wahyu agung itu tampak seperti artefak masa lalu yang kehilangan nyawanya. Peristiwa pembatalan diskusi buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani di Pekan Sastra Bogor akibat gelombang intimidasi, disusul teror daring terhadap sang penulis, adalah potret muram dari sebuah ironi kultural. Kita adalah masyarakat yang menjadikan kitab suci sebagai identitas paling suci di KTP dan mimbar, tetapi kerap gagal total mengejawantahkan esensi paling dasar dari perintah membaca itu sendiri.

Polemik ini bukan sekadar insiden sastra yang kebetulan memanas. Ia adalah cermin retak yang memantulkan krisis cara kita berpikir, cara kita membaca teks, dan ironisnya, cara kita beragama.

Fenomenologi Membaca Antara Teks, Prasangka, dan Confirmation Bias

Dalam dunia filsafat, membaca (reading) bukanlah sekadar aktivitas mekanis mengeja huruf atau mengenali susunan kosakata. Merujuk pada tradisi hermeneutika, seperti yang digagas oleh Hans-Georg Gadamer, pemahaman adalah proses dialog antara cakrawala teks dan cakrawala pembaca. Pembaca yang jujur harus datang dengan kerendahan hati untuk membiarkan teks berbicara dalam konteksnya, bukan memaksakan prasangka pribadi untuk membunuh makna.

Sayangnya, dalam kasus buku Memburu Muhammad, yang terjadi justru sebaliknya. Cerpen utamanya berkisah tentang Abu Jahal, tokoh historis yang dinobatkan sebagai musuh utama Nabi, yang bangkit di era modern dan berkelana ke Indonesia untuk mencari orang-orang bernama Muhammad. Dalam pencarian itu, ia justru kebingungan mendapati betapa jauh jarak moral antara keluhuran akhlak Nabi dan keseharian sebagian orang yang gemar membawa-bawa atribut keagamaan.

Kata “memburu” dalam fiksi ini bukanlah bentuk penistaan, melainkan sebuah metafora estetis untuk menyoroti ketimpangan moral, sebuah kritik sosial tentang bagaimana umat kerap sibuk memperjualbelikan nama besar sang Nabi, namun abadi dalam mengabaikan substansi akhlaknya. Namun, bagi publik yang terjangkit wabah confirmation bias, fiksi dibaca secara harfiah dan brutal. Buku dihakimi dari judulnya semata, dilepaskan dari keseluruhan bangunan naratifnya, lalu dituduh sebagai makar teologis.

Data literasi global memberikan konteks empiris yang tak terbantahkan mengapa hal ini bisa terjadi. Laporan PISA 2022 Results yang diterbitkan oleh OECD mencatat skor membaca Indonesia berada di angka 359, jauh di bawah rata-rata negara anggota OECD. Angka ini adalah alarm nyata bahwa tantangan terbesar bangsa kita bukan sekadar buta huruf secara harfiah, melainkan rendahnya kapasitas kognitif tingkat tinggi, ketidakmampuan untuk mengunyah konteks, menguji argumen secara objektif, dan membedakan antara kritik terhadap perilaku umat dengan penghinaan terhadap prinsip sakral.

Patologi Beragama Ketika Dogmatisme Mengalahkan Nalar Kritis

Dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed (1970), filsuf pendidikan Paulo Freire mengingatkan bahwa pembebasan sejati hanya bisa lahir melalui kesadaran kritis (critical consciousness). Pengetahuan bukanlah komoditas pasif yang diterima begitu saja, melainkan hasil dari refleksi dan aksi atas realitas (praxis).

Ketika agama dipahami tanpa kesadaran kritis, ia kerap merosot menjadi sekadar doktrin reaktif. Manusia beragama berubah menjadi penjaga moral yang kaku, yang merasa keimanannya begitu rapuh hingga bisa runtuh hanya karena sebuah buku fiksi. Padahal, iman yang autentik justru lahir dari ruang pengujian, perenungan, dan dialog yang jujur.

Ketika sebagian kalangan memilih merespons buku Memburu Muhammad dengan ancaman pembunuhan, teror lokasi pribadi, dan tuntutan pembungkaman, mereka sedang mempertontonkan sebuah patologi beragama, yaitu kecanduan pada kemarahan instan. Agama tidak lagi dijalankan sebagai jalan cinta kasih dan pencarian kebenaran, melainkan sebagai bahan bakar ego komunal untuk menghakimi sesama.

Lebih jauh lagi, teror ini memicu fenomena self-censorship yang mematikan. Ketika para penulis, seniman, dan pemikir dipaksa menutup mulut karena takut diteror massa yang tersulut hoaks, yang tersisa dari ruang publik kita adalah padang rumput kebisuan. Padahal, kemajuan peradaban Islam klasik di masa lalu justru ditopang oleh tradisi perdebatan intelektual yang terbuka, di mana para ulama dan pemikir besar terbiasa merawat beda pendapat tanpa harus saling mengkafirkan atau meneror fisik.

Menemukan Kembali Esensi Iqra’ dalam Kehidupan Sehari-hari

Kembali pada perintah Iqra’ di Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, kita dihadapkan pada sebuah refleksi yang menohok. Membaca adalah perintah ontologis untuk mengenali diri, memahami realitas semesta, dan merenungkan hubungan kita dengan Sang Pencipta. Membaca menuntut kerendahan hati untuk menerima kenyataan bahwa akal kita terbatas, dan bahwa pemahaman kita hari ini bisa jadi keliru dan perlu dikoreksi.

Di sinilah letak relevansi filosofis dari polemik ini bagi kehidupan kita sehari-hari. Beragama dengan semangat Iqra’ berarti menolak untuk bersikap reaktif setiap kali menjumpai hal yang tidak sejalan dengan kenyamanan kita. Keteladanan agung Nabi Muhammad SAW tidak pernah dibangun di atas fondasi kemarahan dan ancaman, melainkan di atas keluhuran akhlak, kesabaran, dan keterbukaan akal budi dalam menghadapi perbedaan.

Jika kita mengaku mencintai Nabi, maka ujian terbesarnya bukanlah seberapa keras kita berteriak membela namanya di ruang publik, melainkan seberapa jujur kita bercermin pada akhlaknya, maukah kita menahan diri untuk tidak terburu-buru menghakimi, bersedia mendengarkan sudut pandang yang berbeda, dan menggunakan akal sehat sebelum melempar kebencian?

Sebab pada akhirnya, membaca bukan sekadar kegiatan melompati barisan kata demi kata di atas kertas. Membaca adalah latihan batin yang paling sunyi dan jujur untuk menaklukkan prasangka, merawat kewarasan berpikir, dan belajar menjadi manusia yang benar-benar bijaksana.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *