38°C
19/10/2026
Edukasi

Ketika Fanatisme Menjadi Tidak Sehat, Apa Kata Psikologi?

  • Oktober 19, 2026
  • 5 min read
Ketika Fanatisme Menjadi Tidak Sehat, Apa Kata Psikologi?

INFO BANDUNG BARAT — Manusia adalah makhluk sosial yang secara alami membutuhkan figur teladan, rasa memiliki, dan identitas kelompok. Kekaguman terhadap selebritas, kreator konten, pemimpin politik, tokoh keagamaan, hingga simbol kelompok tertentu merupakan bagian dari dinamika sosial yang wajar. Seseorang bisa merasa sangat terinspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik karena mengagumi sosok tertentu, menemukan komunitas yang ramah, atau merasa bangga saat membawa simbol keyakinannya. Namun, persoalan muncul ketika rasa kagum tersebut berubah menjadi loyalitas buta yang mengikis kemampuan berpikir kritis dan memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Ketika Kekaguman Melampaui Batas Wajar

Dalam disiplin ilmu psikologi, keterikatan emosional yang sangat intens terhadap figur publik dikenal dengan istilah celebrity worship. Fenomena ini dibahas secara komprehensif oleh S. K. Brooks dalam penelitiannya berjudul FANatics: Systematic Literature Review of Factors Associated with Celebrity Worship, and Suggested Directions for Future Research yang diterbitkan pada jurnal Current Psychology pada tahun 2021.

Brooks menjelaskan bahwa pemujaan selebritas berkaitan erat dengan berbagai faktor psikologis dan sosial individu, seperti kebutuhan akan identitas, pencarian makna hidup, hingga tingkat isolasi sosial. Meski demikian, satu hal penting yang perlu dipahami bersama adalah bahwa mengagumi seseorang secara intens tidak otomatis menandakan adanya gangguan mental pada diri seseorang.

Fenomena Tokoh yang Tidak Pernah Salah dan Teori Identitas Sosial

Fanatisme mulai memasuki ranah yang tidak sehat ketika seseorang menganggap figur yang dikaguminya sempurna dan tidak mungkin melakukan kesalahan. Ketika tokoh tersebut diterpa kritik atau bukti pelanggaran, para pengikut yang fanatik biasanya menunjukkan reaksi defensif, seperti membela tanpa mempertimbangkan bukti ilmiah atau fakta hukum, menganggap setiap kritik objektif sebagai serangan pribadi, serta memuaskan dorongan untuk memusuhi siapa saja yang memiliki pandangan berbeda.

Penjelasan mendalam mengenai hal ini dapat kita temukan dalam Teori Identitas Sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel dan John Turner. Dalam karya monumental mereka berjudul An Integrative Theory of Intergroup Conflict pada tahun 1979, Tajfel dan Turner menjelaskan bagaimana keanggotaan dalam suatu kelompok atau identifikasi dengan figur tertentu menjadi bagian integral dari konsep diri seseorang.

Ketika identitas pribadi seseorang sudah telanjur melekat erat pada seorang pejabat, artis, atau tokoh keagamaan, kritik terhadap tokoh tersebut dirasakan langsung sebagai ancaman terhadap harga diri pribadi. Mengakui kekeliruan sang idola akan memicu kekecewaan dan guncangan emosional yang menyakitkan. Akibatnya, seseorang cenderung memilih untuk mempertahankan pembelaan yang tidak logis sebagai mekanisme pertahanan diri daripada harus mengevaluasi informasi secara objektif.

Ketika Simbol Menjadi Alasan untuk Membenci

Fanatisme juga tidak selalu berpusat pada sosok manusia. Simbol abstrak seperti bendera, logo organisasi, identitas keagamaan, hingga atribut politik juga memiliki daya pikat emosional yang luar biasa besar. Secara positif, simbol berfungsi sebagai pemersatu, memberikan rasa memiliki, dan mempererat solidaritas antaranggota. Masalah besar baru muncul ketika simbol tersebut dianggap sangat sakral hingga tidak boleh dievaluasi, kelompok lain dipandang lebih rendah, serta tindakan diskriminasi atau kekerasan dibenarkan atas nama pembelaan terhadap identitas.

Dalam kerangka Teori Identitas Sosial, kebanggaan kelompok yang berlebihan dapat menciptakan batasan yang sangat kaku antara kelompok sendiri dan pihak luar. Kebanggaan terhadap identitas sejatinya adalah hal yang wajar, namun sikap tersebut berubah menjadi toksik ketika rasa memiliki berubah menjadi bahan bakar untuk membenci pihak lain dan menutup rapat ruang dialog.

Hubungannya dengan Kesehatan Mental dan Aspek Klinis

Hubungan antara keterikatan intens dan kesehatan mental dibahas dalam artikel klinis berjudul “I’m Your Number One Fan”—A Clinical Look at Celebrity Worship yang ditulis oleh R. A. Sansone dan L. A. Sansone dalam jurnal Innovations in Clinical Neuroscience pada tahun 2014. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pemujaan selebritas tingkat tinggi sering kali berkorelasi dengan beberapa isu psikologis, termasuk kecemasan, depresi, dan kesulitan dalam menjalin hubungan sosial di dunia nyata.

Dalam praktik sehari-hari, keterikatan yang tidak sehat ini tampak nyata ketika seseorang mengalami stres parah setiap kali idolanya dikritik, menghabiskan uang di luar batas kemampuan finansial, hingga mengabaikan pekerjaan, pendidikan, dan keluarga demi berfokus pada sang tokoh. Namun, penting untuk diingat bahwa literatur ilmiah tersebut menunjukkan korelasi dan bukan hubungan sebab-akibat langsung, sehingga kondisi setiap individu tetap perlu dipahami secara utuh.

Apakah Fanatisme Termasuk Gangguan Jiwa?

Meskipun dapat berdampak buruk, fanatisme bukanlah sebuah diagnosis gangguan jiwa yang berdiri sendiri dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Edisi Kelima, Revisi Teks (DSM-5-TR), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association pada tahun 2022. Berdasarkan kriteria klinis dalam DSM-5-TR, penegakan diagnosis gangguan mental memerlukan pemeriksaan gejala spesifik, konteks budaya, durasi, tingkat keparahan, dan dampaknya terhadap fungsi kehidupan.

Oleh karena itu, seseorang yang membela tokoh secara berlebihan tidak bisa langsung distigma mengalami gangguan waham atau gangguan jiwa lainnya. Keyakinan yang kuat terhadap seorang pemimpin tidak otomatis merupakan waham klinis. Fanatisme lebih tepat dipahami sebagai pola sikap atau perilaku sosial yang dapat merugikan, bukan sebagai label diagnosis formal.

Tanda Peringatan dan Kapan Harus Dievaluasi

Keterikatan terhadap tokoh atau kelompok patut dievaluasi ketika mulai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Tanda-tanda peringatan ini terlihat dari kesulitan menerima data yang bertentangan dengan keyakinan, kecenderungan menyerang orang yang berbeda pendapat, pengorbanan finansial yang tidak terkendali, serta terganggunya hubungan sosial dan pekerjaan.

Jika keterikatan tersebut menimbulkan tekanan emosional yang berat, berkonsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater dapat membantu memahami kondisi psikologis yang mendasarinya.

Menjaga Keseimbangan Antara Kekaguman dan Akal Sehat

Mengagumi sosok inspiratif, mendukung pemimpin, atau bangga terhadap suatu simbol merupakan hak setiap individu. Batas terkuat dari kedewasaan berpikir kita terletak pada kemampuan untuk tetap menjaga ruang kritis. Mengagumi seseorang tidak berarti kita harus menutup mata dari kekurangannya, dan berbeda pandangan dengan orang lain tidak pernah menjadi alasan yang sah untuk menghilangkan rasa kemanusiaan.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *