38°C
21/10/2026
Sejarah

Cukang Rahong, Membaca Cara Manusia Menyeberangi Zaman

  • Oktober 20, 2026
  • 3 min read
Cukang Rahong, Membaca Cara Manusia Menyeberangi Zaman

INFO BANDUNG BARAT — Di tengah bentangan tebing terjal kawasan Saguling, Kabupaten Bandung Barat, Cukang Rahong berdiri sebagai saksi bisu interaksi antara manusia dan bentang alam. Jauh sebelum akses jalan modern membelah kawasan ini, celah sempit di atas Sungai Citarum tersebut merupakan bagian integral dari lintasan peradaban dan pertukaran ekonomi masyarakat Priangan.

Anatomi Lembah dan Asal-Usul Nama

Penamaan Cukang Rahong berakar kuat pada karakter fisiografis lokasi setempat. Mengutip kamus bahasa Sunda susunan Jonathan Rigg sebagaimana dirujuk oleh T. Bachtiar dan Deni Sugandi dalam Bandung Purba: Gunung Sunda dan Danau Bandung Purba (2016), kata cukang bermakna jembatan kecil, sementara rahong merujuk pada tebing terjal yang menjulur hingga ke dasar sungai, tempat air deras mengalir menembus celah batuan yang curam.

Karakteristik medan ini terekam dalam catatan ahli geologi Budi Brahmantyo pada artikel Titik Takik Bobolnya Danau Bandung (FITB ITB, 28 April 2008). Lembah Cukang Rahong tercatat memiliki lebar celah yang relatif sempit, yakni sekitar 7 hingga 8 meter, dengan dinding tebing batu yang melayang curam setinggi kurang lebih 40 meter dari dasar aliran sungai.

Urat Nadi Transportasi dan Interaksi Warga

Menghadapi rintangan alam berupa celah terjal tersebut, masyarakat masa lalu merentangkan jembatan bambu tradisional sebagai sarana penyeberangan utama. Dalam artikel FITB ITB (2008), jembatan bambu Cukang Rahong dicatat sebagai titik krusial dalam jaringan jalur perjalanan tradisional yang menghubungkan kawasan Cililin di Bandung dengan Ciranjang di Cianjur.

Keberadaan titian bambu ini memegang peranan vital dalam mobilitas warga lokal. Sebagaimana diberitakan Pikiran Rakyat (2022) melalui artikel Saguling dan Hikayat Sangkuriang, Juga Jadi Saksi Bobolnya Danau Bandung Purba, warga dari kawasan Saguling mengandalkan titian bambu ini sebagai akses jalan kaki utama menuju Pasar Baranangsiang di Cipongkor untuk menggerakkan roda perekonomian dan mendistribusikan hasil bumi.

Lintasan Kolonial dalam Catatan 1927

Lanskap Cukang Rahong juga tercatat dalam dokumentasi perjalanan era kolonial Hindia Belanda. Referensi mengenai kawasan ini dimuat dalam Gids van Bandoeng en Midden-Priangan, sebuah buku panduan perjalanan karya S.A. Reitsma dan W.H. Hoogland yang terbit pada tahun 1927 (dirujuk dalam Bandung Purba, 2016). Kemunculan Cukang Rahong dalam literatur tersebut menandakan bahwa panorama tebing dan jembatan tradisional ini telah diakui sebagai salah satu titik destinasi geografis di kawasan Priangan Tengah sejak seperempat pertama abad ke-20.

Rekaman Geologi dan Pengeringan Danau Purba

Di luar rekam jejak aktivitas manusia, Cukang Rahong menyimpang paparan sejarah geologi yang membentuk wilayah Bandung. Budi Brahmantyo (FITB ITB, 2008) mengidentifikasi adanya perlapisan breksi vulkanik dan batu pasir pada dinding tebing lembah. Struktur batuan ini menjadi data penting untuk merekonstruksi sejarah sedimentasi serta aktivitas vulkanik purba di sepanjang aliran Citarum.

Selain itu, posisi Cukang Rahong masuk dalam lingkup kajian geomorfologi terkait surutnya Danau Bandung Purba bagian barat. Berdasarkan penelitian Budi Brahmantyo, Sampurno, dan Bandono berjudul Analisis Geomorfologi Perbukitan Saguling-Sangiangtikoro: Pengeringan Danau Bandung Purba tidak Melalui Gua Sangiangtikoro (Majalah Geologi Indonesia, Vol. 17 No. 3, 2002), proses pengeringan danau purba tersebut terjadi akibat erosi sungai yang berhasil menembus penghalang alam di kawasan Saguling–Sangiangtikoro. Dalam kajian tersebut, Cukang Rahong dipetakan sebagai bagian dari rangkaian bentang alam koridor air tersebut, dengan penekanan ilmiah untuk membedakannya dari lokasi titik takik sungai (knick point) yang berada di Curug Halimun.

Peralihan Lanskap Pasca-PLTA Saguling (1986)

Perubahan fisik terbesar pada kawasan ini terjadi saat proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling beroperasi pada tahun 1986. Artikel FITB ITB (2008) mencatat bahwa pembendungan Sungai Citarum mengalihkan sebagian besar volume air melewati terowongan dan pipa pesat untuk menggerakkan turbin pembangkit.

Dampak pengalihan arus ini menyurutkan debit air yang melintasi lorong Cukang Rahong secara signifikan. Berkurangnya hempasan air sungai menyingkap hamparan dasar batu dan struktur tebing bawah yang selama rentang waktu ribuan tahun sebelumnya selalu terendam air, mengubah tampilan visual Cukang Rahong hingga seperti yang disaksikan hari ini.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *