38°C
22/10/2026
Budaya Hiburan

Dialektika Oncom Gondrong: Menelusuri Kuliner dan Realitas Kelas Pekerja dalam Musik Sunda

  • Oktober 22, 2026
  • 7 min read
Dialektika Oncom Gondrong: Menelusuri Kuliner dan Realitas Kelas Pekerja dalam Musik Sunda

INFO BANDUNG BARAT — Populernya kembali lagu Oncom Gondrong di era digital membuktikan bahwa karya seni yang lahir dari akar kebudayaan rakyat memiliki daya pikat yang melintasi zaman. Ketika lagu ini kembali menyebar dan diperbincangkan oleh generasi baru, perhatian publik tak hanya tertuju pada iramanya yang lincah, tetapi juga pada cara komedi digunakan sebagai kendaraan utama untuk menyampaikan narasi keseharian masyarakat Sunda. Dikenal luas karena liriknya yang jenaka serta penuh dengan permainan kata yang mengocok perut, lagu ini sepintas tampak tak lebih dari sekadar perayaan atas makanan rakyat yang murah meriah.

Namun, jika dibedah menggunakan kacamata kritis, di balik kelakar tentang kuliner lokal tersebut tersimpan jalinan makna yang jauh lebih kompleks. Oncom Gondrong bukan sekadar metafora pangan, melainkan sebuah dokumen sosial-budaya yang merekam dialektika kelas, ketimpangan ekonomi, serta gambaran relativitas kebahagiaan di tengah kondisi hidup yang serba terbatas. Melalui bahasa yang merakyat, lagu ini menjembatani realitas kebudayaan Sunda dengan persoalan struktural yang dihadapi oleh masyarakat bawah.

Dari Karawang Group hingga Bungsu Bandung

Untuk memahami kedalaman teks Oncom Gondrong, penting untuk menelusuri rekam jejak historis pembuatannya.Seperti yang diulas oleh M. Romyan Fauzan dalam artikelnya berjudul “Relativitas Kebahagiaan dalam Lagu Oncom Gondrong di Negeri yang Ruwet” yang diterbitkan oleh BandungBergerak pada 28 September 2026, lagu ini memiliki akar sejarah yang cukup panjang dalam industri rekaman musik Sunda.

Lagu Oncom Gondrong pertama kali direkam pada tahun 1981 dalam album yang mengusung judul serupa, Oncom Gondrong. Pada versi perdananya, lagu ini dibawakan oleh penyanyi Tating Sariningsih (yang juga dikenal dengan nama Simanyar) bersama Karawang Group, sebuah grup kesenian yang dipimpin oleh H. M. A. Dimyati. Kehadiran Karawang Group memberikan warna musik tradisional yang autentik, memadukan kejelian lirik dengan aransemen yang akrab di telinga masyarakat pedesaan maupun pinggiran kota.

Seiring berjalannya waktu, popularitas lagu ini tidak surut. Pada tahun 1987, tembang ini direkam ulang oleh Bungsu Bandung, salah satu ikon maestro musik Sunda. Dalam versi teranyar saat itu, Bungsu Bandung melakukan sejumlah penyuntingan dan perubahan lirik yang disesuaikan dengan dinamika zaman serta gaya penampilannya yang khas. Transformasi dari versi Tating Sariningsih ke versi Bungsu Bandung membuktikan bahwa Oncom Gondrong memiliki daya hidup yang kuat dalam tradisi lisan dan seni pertunjukan Sunda.

Filosofi Pangan Sisa dan Ketahanan Budaya

Secara harfiah, lirik lagu ini menyebutkan bahwa oncom yang berasal dari Ciamis dikenal dengan julukan “Oncom Gondrong”. Keberadaan oncom dalam tradisi kuliner Sunda menyimpan filosofi mendalam tentang kearifan lokal. Oncom adalah produk fermentasi khas Jawa Barat yang lahir dari kreativitas masyarakat bawah. Sebagaimana dijelaskan oleh Syifa Nuri Khairunnissa dan Yuharrani Aisyah dalam artikel “Sejarah Oncom Khas Jawa Barat, Olahan Sisa Bahan Makanan” yang dimuat di Kompas.com pada 9 Agustus 2020, oncom memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan efisiensi dan pemanfaatan bahan sisa pengolahan pangan agar tetap berdaya cerna dan bergizi. Tergantung pada jenisnya, bahan baku utama oncom dapat berasal dari ampas tahu maupun bungkil kacang tanah.

Dari sudut pandang filosofis, oncom adalah simbol ketahanan pangan dan kebersahajaan. Oncom lahir bukan dari kelimpahan, melainkan dari keterbatasan. Ketika bahan makanan utama makin sulit dijangkau oleh rakyat kecil, kebudayaan Sunda meresponsnya dengan melahirkan teknologi fermentasi yang mengolah bahan sisa menjadi hidangan yang nikmat.

Selain oncom, lirik Oncom Gondrong juga mengaburkan sekat kuliner dengan menyebutkan olahan rakyat lainnya seperti goréng dagé dan ampyang. Dagé merupakan olahan hasil fermentasi yang biasanya disajikan dengan cara digoreng garing. Sementara itu, ampyang menggambarkan variasi jajanan tradisional yang memiliki ragam penyebutan dan bentuk sesuai dengan tradisi kuliner lokal setempat. Kehadiran nama-nama makanan ini menjadi penegasan identitas kebudayaan kelas pekerja, sekaligus menunjukkan bahwa di tengah tekanan hidup, menikmati makanan sederhana adalah bentuk kebahagiaan yang realistis.

Estetika Humor dan Semiotika Warna Merah

Daya tarik utama lagu Oncom Gondrong terletak pada penggunaan struktur lirik berulang yang mengandalkan permainan kata dan humor. Dari pembahasan mengenai makanan, percakapan dalam lirik melompat secara jenaka menuju permainan asosiasi objek berdasarkan warna.

Lirik lagu secara tangkas menyebutkan deretan bahan masakan dan benda-benda yang memiliki kesamaan warna merah, mulai dari bawang merah, cabai, gula merah, terasi, hingga merembet ke objek nonmakanan seperti mangkuk merah dan bibir yang bergincu merah.

Secara semiotika, permainan kata ini menunjukkan fleksibilitas bahasa Sunda dalam membangun humor atau sisindiran. Penggunaan warna merah sebagai benang merah asosiasi menciptakan struktur estetika yang ringan, tetapi melekat kuat di ingatan pendengar. Humor di sini berfungsi sebagai katarsis sosial atau sebuah mekanisme pertahanan psikologis bagi masyarakat untuk tertawa di atas kerumitannya sendiri. Lagu ini mengajak pendengar melihat bahwa keindahan dapat ditemukan dalam ritme kehidupan sehari-hari yang paling sepele sekalipun.

Ketimpangan Kelas antara Pekerja Informal dan Formal

Pembacaan atas Oncom Gondrong menjadi lebih kaya ketika menelisik konfrontasi nilai antara dua realitas ekonomi yang bertolak belakang antara pedagang kecil versus pekerja kantoran. Sebagaimana digarisbawahi dalam pembacaan kritis ulasan BandungBergerak, bagian paling substansial dari lagu ini justru terletak pada potret perbedaan nasib tersebut.

Lirik Oncom Gondrong secara eksplisit menyandingkan gambaran nasib seorang perempuan pedagang kecil yang harus menjajakan barang dagangannya dengan membawa keranjang setiap hari, dengan sosok pekerja kantoran yang menikmati kenyamanan gaji bulanan serta jaminan uang pensiun di hari tua.

Bagi pedagang kecil yang mengandalkan penjualan harian, pendapatan mereka bersifat sangat fluktuatif dan spekulatif. Kehidupan mereka berjalan dari hari ke hari tanpa jaminan kesehatan, pesangon, atau uang pensiun. Sebaliknya, pekerja kantoran direpresentasikan sebagai kelompok sosial yang memiliki keteraturan dengan pola pemasukan tetap dan proteksi finansial masa depan.

Perbandingan ini tentu tidak dimaksudkan untuk menggeneralisasi bahwa hidup setiap pekerja kantoran pasti tanpa masalah, atau bahwa seluruh pedagang kecil hidup dalam kemelaratan. Namun, kontras yang dihadirkan dalam lirik tersebut secara telanjang memperlihatkan realitas struktural tentang bagaimana tingkat keamanan ekonomi seseorang sering kali tidak ditentukan semata-mata oleh seberapa keras ia bekerja, melainkan oleh posisi sosial dan sistem kerja tempat ia bernaung. Pedagang berkeranjang yang berjalan memikul beban saban hari bekerja tidak kalah keras dibanding pegawai yang duduk di balik meja. Lirik Oncom Gondrong menangkap ironi tersebut tanpa kesan menggurui atau meratap.

Merayakan Senyum Sederhana di Tengah Ketidakpastian Struktural

Oncom Gondrong adalah bukti nyata keandalan seni rakyat Sunda dalam merekam zamannya. Di balik kepulan asap goréng dagé, warna merah cabai, dan kepolosan satir-nya, lagu ini menyimpan sebuah refleksi filosofis yang mendalam mengenai relativitas kebahagiaan.

Di tengah sistem sosial-ekonomi yang sering kali tidak adil dan rumit, kebahagiaan bagi masyarakat kelas bawah kerap diartikan secara pragmatis. Kebahagiaan tidak selalu diukur dari besarnya tabungan pensiun atau status sosial sebagai pegawai. Kadang-kadang, kebahagiaan adalah kemampuan untuk terus tertawa, bersenda gurau, dan menikmati sepiring oncom goreng di tengah ketidakpastian esok hari.

Melalui kombinasi antara sejarah penerbitannya, kekayaan budaya kuliner lokal, hingga kritik sosial yang terselubung rapi dalam humor, Oncom Gondrong layak ditempatkan bukan sekadar sebagai lagu hiburan belaka, melainkan sebagai karya monumen budaya yang berhasil memotret jiwa dan perjuangan rakyat kecil dengan cara yang paling elegan dan bermartabat.

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *