Menyibak Kabut Ranca Dukun dan Ramalan Lintas Zaman Hj. Zainab di Jantung Pangauban
INFO BANDUNG BARAT –Jika Anda berdiri di pelataran SMP Negeri 2 Batujajar pada hari ini, hal yang akan Anda dengar adalah keriuhan langkah kaki para pelajar, dering bel pergantian jam pelajaran, dan derau kehidupan modern. Namun, jika Anda menempelkan telinga pada lembaran sejarah lisan masyarakat Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, tanah yang dipijak oleh anak-anak sekolah itu akan menceritakan kisah yang sama sekali berbeda. Jauh sebelum tembok-tembok ruang kelas berdiri tegak, pada koordinat yang sama, pernah terhampar sebuah kolam legendaris yang menyimpan pusaran misteri dan memori kolektif, ialah Ranca Dukun.
Kisah Ranca Dukun bukan sekadar ihwal bentang alam yang hilang ditelan zaman. Kisah ini adalah sebuah epik lokal yang bertaut erat dengan pergerakan sosial masyarakat agraris, migrasi antardaerah pada masa kolonial, dan kemunculan sosok perempuan luar biasa bernama Hj. Zainab, seorang figur yang tatapannya seolah-olah mampu menembus pekatnya tabir masa depan.
Denyut Nadi Agraris dan Tanah Liat
Untuk memahami kedalaman kisah ini, kita harus melihat kembali lanskap Desa Pangauban pada masa silam. Berdasarkan catatan resmi Sejarah Singkat Desa Pangauban yang dikelola oleh pemerintah desa setempat, wilayah ini dahulu bernaung di bawah wilayah administratif Desa Galanggang. Barulah pada 1986, seiring dengan dinamika kependudukan dan administrasi, Pangauban mekar dan berdiri gagah sebagai desa yang mandiri.
Sejak dahulu, napas kehidupan masyarakat Pangauban sangat bergantung pada kebaikan alam. Mereka adalah para petani yang jeli membaca musim dan para perajin bata merah yang tangannya senantiasa berlumur tanah liat. Lanskap ekonomi agraris dan geliat perdagangan lokal ini bahkan terekam secara akademis. Dalam sebuah riset berjudul Pengembangan Wisata Kulindes (Kuliner Pedesaan) Berbasis Pangan Lokal di Desa Pangauban Kecamatan Batujajar Kabupaten Bandung Barat yang dipublikasikan oleh Yulia, Subekti, Nikmawati, dan Maosul dalam Jurnal Lentera Karya Edukasi (2021), ditegaskan bahwa fondasi kehidupan masyarakat di sana memiliki ikatan yang tidak terputuskan dengan potensi pangan lokal dan kearifan berdagang yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam ekosistem agraris yang menjadikan air sebagai urat nadi kehidupan, keberadaan sebuah sumber air yang melimpah tentu dianggap sebagai berkah atau bahkan sesuatu yang sakral. Pada titik inilah Ranca Dukun mengambil perannya.
Misteri Kokombongan dan Air yang Tidak Pernah Mati
Secara harfiah, kata ranca dalam bahasa Sunda merujuk pada paya, rawa, atau kolam yang menggenang. Akan tetapi, Ranca Dukun bukanlah genangan air biasa. Kolam ini membentang seluas kurang lebih 600 meter persegi, sebuah ukuran yang cukup masif untuk sebuah kolam di tengah permukiman warga.
Hal yang membuat Ranca Dukun senantiasa dibicarakan dari generasi ke generasi bukanlah luasnya, melainkan anatomi rahasia di dasarnya. Pada bagian tengah kolam tersebut, terdapat sebuah palung curam yang oleh masyarakat lokal disebut sebagai kokombongan. Palung ini diyakini sebagai “jantung” yang memompa kehidupan bagi kolam tersebut.
Terdapat sebuah mitos ekologis yang menyertai kokombongan ini. Masyarakat percaya bahwa mata air di dasar palung tersebut terhubung secara gaib dengan hulu Sungai Citarum, sungai terbesar dan paling purba di Jawa Barat. Keyakinan ini muncul karena sebuah fenomena alam yang menakjubkan: air di Ranca Dukun konon tidak pernah surut, bahkan ketika kemarau paling panjang dan paling kering mencekik wilayah Bandung Barat. Meskipun hingga hari ini belum ada penelitian hidrologis modern yang mengonfirmasi jalur bawah tanah antara Ranca Dukun dan Citarum, bagi masyarakat pada masa itu, ranca ini adalah simbol keabadian air dan kemurahan hati semesta.
Jejak Para Perantau: H. Mukmin dan Transformasi Sarah
Sejarah Ranca Dukun tidak dapat dilepaskan dari kepemilikannya. Catatan desa merekam bahwa hamparan air abadi ini adalah milik seorang perantau tangguh bernama H. Mukmin. Ia bukanlah penduduk asli Priangan, melainkan pria asal Jati Seeng, Cirebon. H. Mukmin, yang memiliki nama kecil Santa bin Lahiun, mewakili gelombang migrasi masyarakat pada akhir abad ke-19, ketika banyak orang bergerak melintasi batas kultural di Jawa Barat untuk mencari penghidupan baru.
Keluarga Santa merantau ke wilayah Bandung dan pada akhirnya menambatkan sauh kehidupan mereka di Pangauban. Di sinilah babak baru sejarah lokal mulai ditulis. Pada 1916, saat Perang Dunia I sedang berkecamuk di belahan bumi lain dan Hindia Belanda tengah mengalami transformasi sosial, H. Mukmin meminang seorang perempuan perantau asal Kuningan bernama Sarah.
Keduanya adalah representasi dari kerja keras kelas pekerja pada masa itu. Pencapaian spiritual tertinggi mereka wujudkan dengan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci, sebuah perjalanan yang pada awal abad ke-20 membutuhkan waktu berbulan-bulan mengarungi lautan, penuh dengan risiko, dan menuntut pengorbanan besar. Sepulang dari Mekah, Sarah menanggalkan nama lamanya dan menyandang identitas baru yang kelak akan terukir abadi dalam sejarah Pangauban, ialah Hj. Zainab.
Hj. Zainab dan Ramalan yang Melampaui Zaman
Melalui sosok Hj. Zainablah narasi Ranca Dukun berevolusi dari sekadar fenomena alam menjadi panggung spiritualitas dan kearifan lokal. Ia bukan sekadar istri dari seorang tuan tanah; ia adalah pusat gravitasi bagi masyarakat di sekitarnya.
Hj. Zainab dikenal luas memiliki pengetahuan empiris dan intuisi tajam mengenai pengobatan herbal. Tangannya dingin dalam meracik tanaman obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit warga. Identitasnya sebagai penyembuh inilah yang memunculkan benang merah etimologis dengan nama “Ranca Dukun”. Dalam masyarakat Nusantara masa lalu, kata dukun tidak memiliki konotasi peyoratif atau mistis gelap seperti persepsi modern pada saat ini. Kata dukun merujuk pada tabib, cendekiawan lokal, atau tetua yang memiliki karisma dan ilmu pengobatan (kerap disepadankan dengan paraji atau kuncen). Sangat logis jika kolam milik keluarganya kemudian disematkan gelar kehormatan “Ranca Dukun”, sebagai bentuk penghormatan masyarakat terhadap keahlian Hj. Zainab.
Namun, hal yang membuat nama Hj. Zainab menembus batas waktu bukanlah sekadar racikan obatnya, melainkan ketajamannya dalam membaca masa depan. Ia kerap melontarkan ujaran-ujaran filosofis yang pada masa itu terdengar absurd, menggelikan, atau bahkan sekadar dianggap angin lalu oleh penduduk desa yang mendengarnya. Hj. Zainab meramalkan sebuah masa ketika tatanan moral akan runtuh, nilai kemanusiaan akan terdegradasi, dan ironi sosial akan merajalela.
Dua ungkapannya yang paling legendaris adalah “Harga nyawa marurah” dan “Bakal loba baramaen kasep”.
Ungkapan “Harga nyawa marurah” (harga nyawa akan menjadi sangat murah) pada dekade awal 1900-an mungkin sulit dipahami oleh masyarakat desa yang menjunjung nilai komunal dan hidup rukun. Namun, jika kita menarik garis lurus ke era modern, ramalan ini terasa bagaikan tamparan keras. Pada masa kini, kita setiap hari disuguhkan berita tentang nyawa yang melayang hanya karena urusan sepele, seperti ketersinggungan di jalan raya, perampokan gawai, hingga konflik di media sosial. Nyawa manusia, persis seperti yang diramalkan oleh Hj. Zainab, telah kehilangan harganya.
Ungkapan kedua, “Bakal loba baramaen kasep”, secara harfiah berarti ‘akan banyak pengemis yang tampan, rupawan, atau berasal dari kalangan berada’. Pada masa lalu, pengemis selalu diidentikkan dengan kemelaratan absolut, fisik yang renta, atau pakaian yang compang-camping. Bagaimana mungkin orang yang rupawan dan kaya raya dapat menjadi pengemis?
Lagi-lagi, sejarah membuktikan kejelian visi Hj. Zainab. Pada hari ini, kita menyaksikan fenomena ketika orang-orang dengan penampilan necis, berpendidikan tinggi, dan berjas rapi justru “mengemis” melalui praktik korupsi, penipuan investasi bodong, hingga fenomena mengemis secara daring (online) di berbagai platform digital yang dilakukan oleh mereka yang secara fisik sangat sehat. Nilai harga diri manusia rupawan telah bergeser menjadi peminta-minta dalam wujud yang lebih modern dan terselubung.
Merawat Ingatan di Atas Puing Masa Lalu
Kisah Ranca Dukun dan Hj. Zainab memberikan pelajaran berharga tentang cara kita membaca sejarah. Ungkapan yang dahulu dianggap sebagai racauan atau ramalan tidak berdasar, kini memunculkan tafsir baru yang begitu relevan dengan penyakit sosial modern. Tentu saja, kemiripan antara ramalan dan kenyataan pada hari ini tidak dengan sendirinya menobatkan Hj. Zainab sebagai cenayang dalam kacamata magis. Lebih dari itu, hal ini membuktikan bahwa ia adalah seorang sosiolog empiris pada zamannya, seorang perempuan cerdas yang mampu menganalisis pergeseran tabiat manusia dan memproyeksikannya ke masa depan.
Kini, air Ranca Dukun mungkin telah lama mengering atau tertutup oleh kukuhnya fondasi SMP Negeri 2 Batujajar. Anak-anak yang berlarian di atasnya mungkin tidak tahu bahwa di bawah kaki mereka pernah terdapat sebuah kokombongan yang tidak pernah surut. Akan tetapi, sejarah Pangauban telah membuktikan bahwa memori kolektif jauh lebih abadi daripada bentang alam.
Kisah ini tetap hidup dan diceritakan bukan karena masa depan telah berhasil ditebak, melainkan karena setiap generasi manusia, baik pada masa kolonial maupun pada era digital, akan selalu menengok kembali ke masa lalu. Kita membaca sejarah dan menggali kembali kearifan leluhur seperti Hj. Zainab untuk satu tujuan yang sama: menemukan jangkar kewarasan dalam menghadapi arus perubahan zaman yang semakin tidak menentu. Di Pangauban, Ranca Dukun tidak pernah benar-benar hilang; ia terus mengalir dalam wujud ingatan, kebanggaan, dan peringatan bagi siapa saja yang mau mendengarkan.