Aksi Heroik Pemuda Setempat Selamatkan Kereta dari Bencana Gempa Cipatat 1911
INFO BANDUNG BARAT — Gempa bumi besar yang mengguncang kawasan Cipatat dan Padalarang pada 4 Januari 1911 tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan jalur kereta api. Di tengah situasi kacau akibat bencana tersebut, sebuah rangkaian kereta hampir saja menjadi korban. Namun, kecelakaan besar berhasil dicegah berkat keberanian seorang pemuda setempat.
Kereta yang berangkat dari Stasiun Padalarang pukul 06.04 menuju Bogor melaju tanpa menyadari adanya kerusakan rel di depan. Saat itu, longsor akibat gempa telah merusak jalur kereta di beberapa titik. Lokasi kerusakan berada di tikungan yang mengitari bukit sehingga pandangan masinis terbatas. Kereta pun mendekati area berbahaya bersamaan dengan guncangan gempa terbesar pada pagi itu.
Seorang pemuda yang berada di sekitar lokasi menyadari situasi berbahaya tersebut. Ia berusaha memberi peringatan kepada masinis agar kereta berhenti. Karena tidak memiliki alat penanda, ia mencopot celana merah yang dikenakannya dan mengibarkannya seperti bendera darurat. Isyarat tersebut akhirnya terlihat oleh masinis yang segera menginjak rem dan menghentikan kereta tepat sebelum mencapai rel yang rusak.
Peristiwa ini kemudian dicatat dalam berbagai laporan surat kabar pada masa Hindia Belanda. Dalam artikel berjudul “Tragedi Gempa Dahsyat Hancurkan Jalur Kereta Api Padalarang–Cipatat dan Aksi Heroik Warga Pribumi” yang ditulis oleh Restu Nugraha, disebutkan bahwa wilayah yang mengalami dampak paling parah adalah Kecamatan Padalarang dan Cipatat. Guncangan gempa menyebabkan genting rumah warga berjatuhan serta dinding bangunan mengalami retakan.
Surat kabar Deli Courant edisi Sabtu, 14 Januari 1911, mencatat kerusakan besar pada fasilitas perkeretaapian di Stasiun Cipatat dan Tagog Apu. Bangunan stasiun, tiang telegraf, gudang barang, hingga tangki air mengalami kerusakan berat. Jalur rel antara Padalarang dan Cipatat juga tidak dapat dilalui akibat longsor, tanah amblas, dan pohon tumbang.
Di antara Tagog Apu dan Cipatat bahkan terjadi pergeseran tanah sepanjang 75 hingga 200 meter yang membuat rel terlihat menggantung di udara. Akibatnya, komunikasi telegraf terputus dan perjalanan kereta api terganggu. Para penumpang dari Sukabumi, Cianjur, dan Bogor terpaksa berhenti di Stasiun Cipatat dan melanjutkan perjalanan menuju Padalarang menggunakan kereta kuda atau berjalan kaki.
Sementara itu, laporan Bataviaasch Nieuwsblad edisi 6 Januari 1911 menyebutkan bahwa gempa besar terjadi sekitar pukul 06.20 WIB dan diikuti empat gempa susulan hingga siang hari. Kekacauan jadwal kereta pun tidak terhindarkan. Bahkan, kereta pertama dari Bandung hampir menjadi korban akibat kerusakan rel.
Beruntung, tindakan cepat seorang warga lokal berhasil mencegah tragedi tersebut. Awalnya ia mengira semua kereta telah dihentikan di Padalarang. Namun, ketika melihat kereta melaju dengan kecepatan sekitar 20 kilometer per jam menuju rel yang rusak, ia segera berusaha memberi peringatan. Setelah beberapa kali gagal menarik perhatian masinis, ia naik ke tanggul yang lebih tinggi dan mengibarkan celana merahnya.
Isyarat sederhana itu akhirnya terlihat oleh masinis yang langsung menghentikan laju kereta. Menurut laporan Bataviaasch Nieuwsblad, tanpa keberanian pemuda tersebut kecelakaan kereta hampir pasti terjadi.
Peristiwa ini menjadi salah satu kisah heroik yang jarang diketahui dalam sejarah transportasi kereta api di Indonesia. Di tengah situasi bencana dan keterbatasan alat, keberanian seorang pemuda sederhana mampu menyelamatkan banyak nyawa serta mencegah tragedi yang lebih besar.***