38°C
15/01/2026
Sejarah

Al-Mashduqiyah Cibalok: Pesantren Tertua dan Saksi Perjuangan di Bandung Barat

  • Januari 13, 2026
  • 2 min read
Al-Mashduqiyah Cibalok: Pesantren Tertua dan Saksi Perjuangan di Bandung Barat

INFO BANDUNG BARAT — Pondok Pesantren Al-Mashduqiyah, yang lebih dikenal masyarakat setempat sebagai Pesantren Cibalok, merupakan salah satu institusi pendidikan Islam tertua dan berpengaruh di Kabupaten Bandung Barat. Pesantren ini telah menjadi pusat syiar Islam selama lebih dari satu abad.

Pesantren Al-Mashduqiyah didirikan pada 1895 M oleh Mama Syaikhuna KH. Mashduqi, yang dikenal sebagai Mama Sepuh. Lokasinya berada di Kampung Cibalok, Desa Citalem, Kecamatan Cipongkor. Sejak awal berdiri, beliau membangun fondasi pendidikan Islam dengan sistem salafiyah (tradisional) yang menitikberatkan pada pengajaran kitab kuning dan pembentukan akhlak santri.

Masa Kolonial dan Transisi Kepemimpinan

Berdiri pada masa penjajahan kolonial Belanda, Pesantren Al-Mashduqiyah menghadapi berbagai tekanan dan ancaman. Tercatat adanya upaya pihak kolonial untuk menangkap pendirinya dan menghancurkan pesantren. Namun, berkat pertolongan Allah Swt. dan dukungan masyarakat sekitar, pesantren ini tetap bertahan dan berkembang.

Sejak tahun 1936 M, Mama KH Mashduqi dibantu oleh menantunya, Mama KH Shodiqul Mashduqi. Setelah wafatnya pendiri pada tahun 1948 M, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh KH Shodiqul Mashduqi hingga wafatnya pada tahun 1991 M. Di bawah kepemimpinannya, pesantren tetap konsisten mempertahankan kajian kitab kuning serta pengembangan ilmu agama bagi generasi santri.

Ujian Berat Era DI/TII

Sekitar tahun 1953 M, Pesantren Cibalok menghadapi ujian berat akibat konflik keamanan nasional. Salah satu pimpinan DI/TII berupaya membujuk KH Shodiqul Mashduqi agar bergabung dan bersedia menjadi hakim bagi kelompok tersebut. Ajakan ini ditolak dengan tegas karena beliau memandang pendirian negara di dalam negara sebagai tindakan bughat (membangkang pemerintahan) dan haram menurut syariat Islam.

Penolakan tersebut berujung pada penggeledahan dan penguasaan pesantren oleh kelompok DI/TII selama sekitar satu minggu. Keberadaan mereka kemudian diketahui oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) yang mengira pihak pesantren telah bersekutu dengan kelompok tersebut. Akibat kesalahpahaman ini, pesantren dikepung dan terjadi bentrokan bersenjata yang menyebabkan tiga orang santri gugur.

Demi keselamatan, KH Shodiqul Mashduqi bersama keempat anaknya mengungsi ke Pesantren Sempur, sementara pengelolaan Pesantren Cibalok dititipkan kepada Ajengan Syahidin dan Ajengan Sanusi. Setelah kondisi berangsur membaik, pada tahun 1957 M, KH Shodiqul Mashduqi beserta keluarganya kembali ke Cibalok dengan penjemputan dari pihak kecamatan dan Kepolisian Sindangkerta.

Hingga kini, Pondok Pesantren Al-Mashduqiyah tetap menjadi simbol keteguhan dan dedikasi para ulama serta santri dalam menjaga tradisi pendidikan Islam di Kabupaten Bandung Barat. Pesantren ini terus mempertahankan pengkajian kitab kuning sebagai inti pendidikan, sekaligus menjadi saksi sejarah perjuangan dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *