38°C
21/03/2026
Books

Anatomi Keterbelakangan: Menguak Ciri Daerah Sulit Berkembang dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk

  • Januari 30, 2026
  • 2 min read
Anatomi Keterbelakangan: Menguak Ciri Daerah Sulit Berkembang dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk

INFO BANDUNG BARAT — Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari berfungsi sebagai cermin sosiologis masyarakat pedesaan Jawa pada era 1960-an yang terperangkap dalam kemiskinan struktural dan kultural. Lebih dari sekadar kisah asmara Srintil dan Rasus, novel ini menyajikan potret utuh mengenai indikator fundamental mengapa suatu daerah sulit mengalami kemajuan secara sistemis.

Salah satu ciri paling menonjol adalah pengkultusan tokoh tertentu, seperti Ki Secamenggala. Setiap musibah ditafsirkan sebagai akibat kemurkaan sosok keramat, bukan sebagai persoalan sebab-akibat yang rasional. Hal ini tampak jelas dalam tragedi kematian massal akibat keracunan tempe bongkrek yang dianggap sebagai kutukan, padahal bersumber dari buruknya sanitasi dan minimnya pengetahuan pangan. Cara pandang ini menunjukkan absennya pengetahuan ilmiah dalam memahami realitas.

Kondisi tersebut diperparah oleh rendahnya tingkat literasi. Mayoritas warga Dukuh Paruk digambarkan buta huruf dan tidak memiliki akses pendidikan formal, sehingga mudah dimanipulasi oleh pihak luar. Keterlibatan mereka dalam konflik politik 1965 tanpa pemahaman ideologi yang memadai menegaskan bahwa ketidaktahuan bukan sekadar keterbatasan personal, melainkan bentuk kerentanan sosial.

Masyarakat Dukuh Paruk juga hidup dalam tradisi yang diwariskan tanpa ruang untuk mempertanyakan relevansinya. Tradisi tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi diposisikan sebagai satu-satunya cara bertahan hidup yang dianggap “masuk akal”. Dalam ketiadaan pengetahuan, mitos menggantikan fungsi nalar, sementara perubahan dipandang sebagai ancaman. Rasus menyadari hal ini sehingga memilih keluar dari pedukuhan untuk mencari “cermin” baru—sebuah simbol kesadaran kritis yang tidak dimiliki komunitasnya.

Alih-alih menyelesaikan persoalan mendasar, penderitaan kolektif justru ditutupi dengan hiburan yang melenakan. Prostitusi dan minuman keras dinormalisasi sebagai sarana pelarian dari kemiskinan ekstrem, menciptakan lingkaran setan di mana masalah struktural terus direproduksi tanpa pernah diselesaikan.

Lebih jauh, identitas dan harapan hidup Dukuh Paruk bertumpu pada keberadaan seorang ronggeng. Ketergantungan pada satu figur budaya menunjukkan rapuhnya struktur sosial desa; ketika figur tersebut hilang atau tradisinya runtuh, seluruh tatanan kehidupan ikut goyah.

Pada akhirnya, Dukuh Paruk memperlihatkan bagaimana mitos dan tradisi yang tidak pernah dipertanyakan dapat berubah menjadi penjara sosial. Ketika pengetahuan absen dan kemiskinan dinormalisasi, penderitaan dianggap sebagai takdir, sementara perubahan dipandang mustahil. Dukuh Paruk tidak runtuh oleh kutukan, melainkan oleh ketidakmampuan warganya membayangkan kehidupan yang lebih manusiawi di luar batas tradisi yang membelenggu.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *