Berkaca pada Kisah Raya: Dari Parasit di Tubuh Hingga Masalah di Sistem
INFO BANDUNG BARAT–Kasus tragis terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Seorang balita bernama Raya meninggal akibat infeksi cacing gelang (Ascaris lumbricoides). Dokter yang menanganinya, dr. Irfan Nugraha Triputra, mengungkapkan bahwa bahkan cacing ditemukan keluar dari hidung Raya. Telur cacing bisa masuk lewat makanan, air, atau tanah yang terkontaminasi, lalu menetas di usus dan menyebar ke organ tubuh lain. Kisah Raya membuka mata bahwa penyakit yang sering dianggap sepele ini ternyata bisa berakibat fatal.
Cacingan, Dampaknya, dan Kelalaian Pemerintah
Prof. Tjandra Yoga Aditama, mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, menyebut ada tiga jenis cacing tanah yang paling umum menyerang anak-anak, yakni Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan Ancylostoma duodenale. Penularan terjadi lewat tanah yang terkontaminasi telur cacing, terutama di wilayah dengan sanitasi buruk.
Penelitian Prof. Ayodhia Pitaloka Pasaribu dari Universitas Sumatera Utara (USU) menemukan prevalensi infeksi cacingan pada anak bisa mencapai 57 persen, dengan Ascaris lumbricoides sebagai jenis paling dominan (~40 persen). Dampaknya serius: anak bisa mengalami anemia, gizi buruk, gangguan tumbuh kembang, hingga kesulitan belajar di sekolah.
Anak usia 5–15 tahun adalah kelompok paling rentan karena sering bermain di tanah, jarang mencuci tangan, dan kerap tidak memakai alas kaki. Padahal, kebiasaan sederhana seperti cuci tangan dengan sabun dan memakai alas kaki bisa mengurangi risiko infeksi. Sayangnya, hal-hal mendasar ini sering diabaikan.
Secara teori, pencegahan cacingan sederhana, yaitu menjaga kebersihan, memasak makanan hingga matang, serta rutin minum obat cacing. Direktur Penyakit Menular Kemenkes, Ina Agustina Isturini, menegaskan bahwa obat cacing seperti albendazole sudah disediakan pemerintah dan seharusnya diberikan dua kali setahun. Namun di lapangan, distribusi layanan tidak merata. Banyak daerah belum mendapatkan pemeriksaan dini dan pemberian obat secara konsisten.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun mengakui, kasus Raya seharusnya bisa dicegah. Puskesmas terlambat melakukan skrining dan pengobatan dini, padahal obat serta layanan kesehatan tersedia. Masalahnya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan pada sistem pelayanan yang kurang responsif.
Saatnya Pemerintah Serius Tangani Cacingan
Kematian Raya menunjukkan bahwa infeksi cacing bukan sekadar persoalan medis, melainkan juga cermin kelalaian negara dalam melindungi warganya. Regulasi sebenarnya sudah ada, termasuk program pemberian obat cacing massal dua kali setahun untuk anak sekolah dasar. Namun implementasi di lapangan masih jauh dari merata.
Pemerintah perlu memastikan pemeriksaan dini di puskesmas, meningkatkan edukasi kesehatan masyarakat, serta memperkuat program sanitasi lingkungan. Tanpa langkah serius, kasus serupa bisa terus terulang dan merenggut nyawa anak-anak Indonesia. Tragedi Raya seharusnya menjadi titik balik agar penyakit yang seharusnya bisa dicegah ini tidak lagi menjadi ancaman mematikan.***