Jejak Sejarah Tata Krama Sunda: Dari Kasta Menuju Etika
INFO BANDUNG BARAT — Pernah mendengar tentang tingkatan bahasa Sunda yang terkenal rumit? Sistem yang membedakan kata “makan” untuk raja dan rakyat biasa ini ternyata bukan warisan asli Sunda kuno. Sejarah mencatat adanya transformasi budaya yang dipicu oleh kekuasaan politik dan berakhir dengan keputusan kongres yang bersifat demokratis.
Bahasa Sunda pada Masa Awal
Menurut keterangan para ahli bahasa, pada masa awal perkembangan masyarakat Sunda sebenarnya belum dikenal sistem undak-usuk basa. Pada periode tersebut, bahasa yang digunakan bersifat egaliter. Bahasa dipakai secara sama, baik oleh rakyat biasa (cacah) maupun pemilik jabatan dan kekayaan (mènak), serta tidak membedakan tingkatan usia.
Kondisi ini dapat dilihat dalam naskah Tjarita Parahyangan yang ditulis pada abad ke-16. Salah satu dialognya berbunyi:
“…Carèk Batara Ngiang Guru: Na naha beja siya Sang Apatih?”
“Pun kami dititah ku Rahiyang Sanjaya mènta piparèntaheun…”
(Kata Batara Ngiang Guru: Membawa berita apa wahai Sang Patih?)
(Saya diutus oleh Rahiyang Sanjaya meminta tugas…)
Contoh percakapan tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu, kata-kata yang digunakan antara atasan dan bawahan—dalam hal ini raja dan patih—tidak memiliki perbedaan signifikan.
Pengaruh Mataram dan Masa Kolonial
Perubahan mulai terjadi sekitar abad ke-17, seiring masuknya pengaruh Mataram ke wilayah Sunda. Undak-usuk basa mulai dikenal dan digunakan, terutama oleh kalangan ningrat (mènak). Sistem ini semakin menguat ketika bangsa Belanda datang sebagai penjajah, yang merasa lebih dihormati dengan adanya tingkatan bahasa. Akibatnya, fungsi undak-usuk basa tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi juga penanda status sosial.
Pandangan tersebut didukung oleh sejumlah sarjana dari berbagai disiplin ilmu. S. Coolsma, seorang linguis dalam Soendaneesch Spraakkunst; Saleh Danasasmita, sejarawan dalam Sejarah Jawa Barat; serta Prof. Harsojo, antropolog dalam tulisannya “Kebudayaan Sunda” yang dimuat dalam buku Manusia dan Kebudayaan, sepakat bahwa undak-usuk basa Sunda mulai berkembang pada abad ke-17.
Perubahan Fungsi dalam Era Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka, penggunaan bahasa halus (lemes) yang semula berfungsi khusus untuk berbicara kepada golongan ningrat dinilai tidak lagi sesuai dengan alam pemikiran demokratis. Oleh karena itu, fungsi undak-usuk basa mengalami perubahan menjadi sarana untuk saling menghormati dan menghargai.
Dalam perkembangannya, muncul polemik mengenai perlu tidaknya sistem ini dipertahankan. Hingga pada abad ke-20, melalui Kongres Bahasa Sunda di Cipayung, Bogor, pada 19–22 Januari 1988, dihasilkan keputusan penting: istilah undak-usuk basa diganti menjadi tata krama bahasa, yang meliputi bahasa hormat (lemes) dan bahasa loma, termasuk ragam sedang dan kasar.
Penutur bahasa Sunda dituntut menggunakan bahasa secara luyu tur merenah, yakni sesuai konteks dan situasi. Dalam buku Wawasan Kesundaan disebutkan bahwa tujuan utama tata krama bahasa adalah menanamkan nilai-nilai kesantunan secara utuh dan berkelanjutan, sehingga mampu membentuk watak dan mental manusia agar menjadi pribadi yang baik dan berbudaya.
Sumber: Risdayah, Enok, dkk. (2021). Budaya Sunda (Perspektif Islam).
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah