Kampung Internet Pasirpogor: Inovasi Akses Internet Murah di Masa Pandemi
INFO BANDUNG BARAT — Jauh sebelum program Kampung Internet digagas oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Desa Pasirpogor, Kecamatan Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat, telah memiliki inisiatif serupa yang muncul sejak awal pandemi COVID-19 dan hingga kini masih dimanfaatkan oleh masyarakat. Program ini lahir sebagai respons atas perubahan besar dalam aktivitas warga yang beralih ke sistem daring, terutama di bidang pendidikan.
Sejak pandemi melanda pada 2020, banyak siswa di Desa Pasirpogor harus mengikuti pembelajaran secara daring. Namun, keterbatasan sinyal dan mahalnya kuota internet menjadi kendala utama. Harga paket data yang relatif tinggi turut membebani warga, khususnya keluarga dengan penghasilan rendah, sehingga akses internet belum dapat dinikmati secara merata.
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua RT 03, Suhada, menggagas program Kampung Internet untuk memudahkan warga memperoleh akses internet yang terjangkau. “Saya melihat saat pandemi hingga sekarang hampir semua aktivitas membutuhkan internet. Tujuan program ini untuk menyediakan sambungan internet murah bagi warga, dengan sistem patungan satu jaringan dari Telkom,” ujar Suhada.
Berawal dari inisiatif sederhana, program ini perlahan mengubah Desa Pasirpogor menjadi kawasan dengan akses internet yang mudah dan murah. Dengan biaya mulai dari Rp2.000, warga dapat menggunakan layanan internet seharian sesuai kebutuhan.
Akses internet di wilayah RT 03 disediakan melalui kerja sama dengan penyedia layanan lokal, Ertiga.Net Hotspot. Keunggulan layanan ini adalah akses tanpa batas jumlah pengguna serta jangkauan yang tersebar di beberapa titik. Awalnya hanya terdapat delapan titik akses di RT 03, kini jaringan Ertiga.Net telah berkembang hingga 30 titik, termasuk wilayah RT 02. Hal ini memungkinkan semakin banyak warga merasakan manfaat program tersebut.
Program Kampung Internet ini dinilai sangat membantu masyarakat dalam mengakses internet kapan pun dengan biaya terjangkau. Rina, seorang guru di desa tersebut, mengaku merasakan manfaat besar dari layanan ini. “Sejak masa pandemi sampai sekarang saya masih menggunakan Ertiga.Net. Ini sangat membantu saya dalam mengakses video pembelajaran untuk kegiatan belajar mengajar di sekolah,” ujarnya.
Pendapatan dari program ini dikelola secara transparan dan dibagi ke dalam tiga pos, yakni pembayaran langganan ke PT Telkom, biaya perawatan jaringan, serta kas warga. Meski telah berjalan sekitar lima tahun sejak pandemi, tarif layanan Ertiga.Net tidak pernah mengalami kenaikan. Menurut Suhada, program ini bersifat sosial dan tidak berorientasi bisnis, sehingga akses internet tetap terjangkau dan dapat digunakan oleh seluruh warga.
Keberadaan Kampung Internet Pasirpogor diharapkan tidak hanya meningkatkan kemandirian dan kebersamaan warga dalam memenuhi kebutuhan teknologi, tetapi juga mendorong literasi digital serta kemampuan masyarakat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Semangat gotong royong yang terbangun menjadi modal penting dalam mewujudkan desa yang inklusif dan berdaya saing.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah