Keunikan di Balik Sejarah: Stasiun Cikadongdong dan Wajah Lain Perkeretaapian Indonesia
INFO BANDUNG BARAT — Di tengah gempuran modernisasi perkeretaapian Indonesia, Stasiun Cikadongdong justru tampil sebagai anomali yang menarik. Stasiun kecil di Kabupaten Bandung Barat ini seolah berjalan di dua zaman sekaligus: menyimpan sejarah kolonial yang panjang, namun tetap aktif melayani perjalanan kereta api hingga hari ini.
Meski memiliki sejarah yang penuh liku, Stasiun Cikadongdong tetap berfungsi sebagai bagian penting jalur selatan Jawa Barat. Hingga kini, stasiun ini masih melayani KA Commuterline Garut, berbagai kereta api lokal, serta menjadi lintasan KA Argo Parahyangan yang menghubungkan Bandung dan Jakarta.
Stasiun Cikadongdong juga telah ditetapkan sebagai salah satu bangunan cagar budaya di Kabupaten Bandung Barat. Status ini menegaskan nilai historisnya yang signifikan, sekaligus menjadikannya sebagai peninggalan berharga yang terus dijaga.
Daya tarik utama Stasiun Cikadongdong tidak hanya terletak pada bangunannya, tetapi juga pada lokasinya yang strategis di wilayah utara Kabupaten Bandung Barat. Stasiun ini merupakan gerbang terdekat menuju Jembatan Cisomang, jembatan kereta api tertinggi di Indonesia dan bahkan terdalam di Asia Tenggara. Bentang alam yang curam serta panorama lembah menjadikan lintasan ini sebagai salah satu jalur paling menantang sekaligus menakjubkan.
Salah satu ciri khas operasional yang paling menonjol dan semakin langka di era modern adalah keberadaan perlintasan sebidang di dekat stasiun. Tidak seperti perlintasan pada umumnya yang telah otomatis, perlintasan ini tidak dilengkapi pos jaga atau Daily Progress Report (DPR).
Palang pintu perlintasan dioperasikan secara manual langsung dari dalam stasiun oleh petugas. Sistem tersebut mengandalkan mekanisme sederhana berbasis tenaga manusia dengan tuas mekanik yang terhubung melalui kawat atau rantai. Petugas stasiun, baik Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) maupun Petugas Jaga Lintasan (PJL), akan menarik tuas untuk menutup palang menjelang kedatangan kereta. Lampu perlintasannya pun memiliki ciri khas tersendiri, yakni tanpa “topi” atau piringan lampu standar, sehingga menjadi pemandangan yang semakin jarang ditemui pada jalur kereta api modern.
Letak Stasiun Cikadongdong yang berada di jalur dengan kontur ekstrem menjadikannya wilayah dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Sejak masa kolonial, kawasan ini dikenal rawan longsor dan gangguan alam, sehingga membutuhkan pengawasan intensif. Hingga kini, karakter tersebut tidak sepenuhnya berubah dan membuat peran petugas stasiun menjadi jauh lebih krusial dibandingkan dengan stasiun-stasiun pada umumnya.
Dalam kesederhanaannya, Stasiun Cikadongdong merupakan perpaduan unik antara situs sejarah kolonial, kondisi geografis yang menantang, dan sistem operasional yang masih mempertahankan sentuhan manusia, sesuatu yang kini semakin jarang ditemui, sehingga menjadikannya lebih dari sekadar halte kecil biasa.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah