Kadaplak: Jejak Kelam Tanam Paksa yang Menjelma Menjadi Adrenalin Budaya Lembang
INFO BANDUNG BARAT — Di balik rimbunnya perkebunan dan sejuknya udara pegunungan Suntenjaya, Lembang, tersimpan kisah ketangkasan yang lahir dari masa sulit penjajahan. Di tanah berbukit yang kerap diselimuti kabut pagi, sebuah kendaraan kayu sederhana bernama kadaplak menjadi saksi bisu daya juang masyarakat Sunda menghadapi kerasnya kolonialisme. Kini, kadaplak hidup kembali sebagai ikon permainan tradisional di Kampung Batuloceng dan Pasir Angling.
Jejak sejarah kadaplak tidak dapat dilepaskan dari era Tanam Paksa (Cultuurstelsel) pada abad ke-19. Sistem yang berlangsung antara 1830 hingga 1870 ini digagas oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch dan memaksa rakyat pribumi menanam komoditas ekspor seperti teh, kopi, kina, dan tembakau. Lembang, dengan kontur perbukitan yang curam, menjadi salah satu kawasan penting penghasil tembakau pada masa tersebut.
Medan yang terjal menjadikan pengangkutan hasil panen sebagai persoalan serius. Mengandalkan tenaga manusia semata jelas tidak efektif. Dari kebutuhan inilah lahir kadaplak, alat transportasi sederhana berbahan kayu atau bambu yang dilengkapi tiga atau empat roda. Tanpa mesin, tanpa rem, dan tanpa kemudi modern, kadaplak memanfaatkan gaya gravitasi untuk meluncurkan muatan daun tembakau dari puncak bukit menuju pos pengumpulan di bawah.
Nama kadaplak terinspirasi dari serangga air yang dikenal masyarakat setempat dengan sebutan kadaplak (Gerris lacustris), yang memiliki tubuh pipih dan mampu meluncur di permukaan air. Bentuk kendaraan kayu ini dianggap menyerupai serangga tersebut—rendah, pipih, dan melaju dengan gesit.
Seiring berjalannya waktu, fungsi kadaplak mengalami pergeseran. Anak-anak para petani mulai memanfaatkan sisa alat angkut ini sebagai wahana bermain. Dari sekadar meluncur, aktivitas tersebut berkembang menjadi adu kecepatan dan ketangkasan. Dari sinilah kadaplak berevolusi menjadi permainan rakyat yang kerap dijuluki sebagai “gokar tradisional”.
Keunikan kadaplak terletak pada kesederhanaannya yang ekstrem. Pengendara tidak dibekali setir maupun rem. Kendaraan melaju murni mengandalkan kemiringan lintasan dan keberanian penunggangnya. Arah laju dikendalikan secara manual melalui roda depan di lintasan off-road berbatu yang penuh undakan dan tikungan tajam. Terjungkal menjadi hal lumrah; lutut lecet dan tubuh berdebu kerap mengiringi setiap lintasan. Namun, tawa lepas selalu hadir dalam setiap jatuh bangun.
Sayangnya, permainan ini sempat menghilang pada rentang 1990–2000-an, tergeser oleh perubahan zaman dan masuknya hiburan modern. Baru pada 2014, tokoh masyarakat dan para sesepuh Kampung Batuloceng kembali mengenalkan kadaplak kepada generasi muda. Sejak saat itu, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan agar warisan budaya ini tidak kembali tenggelam.
Lebih dari sekadar permainan, kadaplak kini menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi gawai dan budaya instan. Ia mengajarkan keberanian, kebersamaan, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Menyaksikan atau mencoba meluncur dengan kadaplak bukan hanya soal adrenalin, melainkan juga cara unik menghargai sejarah kelam yang telah bertransformasi menjadi perayaan ketangguhan dan identitas masyarakat Sunda.
Di Suntenjaya, kadaplak bukan sekadar kendaraan kayu. Ia adalah kisah tentang bertahan, beradaptasi, dan merayakan hidup—meluncur bebas di antara masa lalu dan masa kini.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah