38°C
06/02/2026
Peristiwa

Lebih Gelap dari Kemiskinan: Tragedi Anak SD di NTT

  • Februari 6, 2026
  • 3 min read
Lebih Gelap dari Kemiskinan: Tragedi Anak SD di NTT

INFO BANDUNG BARAT — Tragedi meninggalnya seorang anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur akibat dugaan bunuh diri mengguncang ruang publik. Peristiwa ini kerap disederhanakan sebagai persoalan kemiskinan semata. Padahal, sebagaimana dilaporkan Kompas.id (2026), kasus ini memperlihatkan persoalan yang jauh lebih kompleks, melibatkan tekanan psikologis anak, relasi sosial, serta kegagalan sistem pendidikan dan perlindungan sosial dalam menjangkau kelompok paling rentan.

Korban diketahui merupakan siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT. Ia mengalami tekanan akibat keterbatasan ekonomi keluarga, termasuk kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah seperti alat tulis dan kewajiban biaya pendidikan. Pemberitaan Detik.com (2026) menunjukkan bahwa beban tersebut secara tidak langsung dipikul oleh anak, meskipun pendidikan dasar seharusnya terbebas dari tekanan finansial dan pungutan yang memberatkan.

Sosiolog menjelaskan bahwa anak belum memiliki kematangan emosional dan kognitif untuk mengelola rasa malu, takut, dan putus asa. Dalam kondisi tertentu, keterbatasan ekonomi dapat ditafsirkan anak sebagai kegagalan diri atau rasa menjadi beban bagi keluarga. Tanpa ruang aman untuk bercerita dan pendampingan psikososial, tekanan tersebut dapat berkembang menjadi keputusasaan yang berbahaya.

Kasus ini juga mencerminkan ketimpangan struktural yang dialami wilayah seperti NTT. Keterbatasan layanan publik, minimnya akses kesehatan mental anak, serta ketidakmerataan pembangunan menciptakan kerentanan berlapis yang jarang terlihat dalam statistik resmi, tetapi sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang dimuat dalam Journal of Affective Disorders (2016), yang menunjukkan bahwa kemiskinan berkaitan dengan stres kronis, rasa tidak berdaya, serta meningkatnya risiko ide dan perilaku bunuh diri pada anak dan remaja. Faktor ekonomi tidak bekerja secara tunggal, melainkan berkelindan dengan tekanan sosial, relasi keluarga, dan kondisi lingkungan.

Lingkungan sekolah juga memiliki peran penting dalam kesehatan mental anak. Studi dalam Journal of School Health (2018) menemukan bahwa sekolah di wilayah berpendapatan rendah cenderung minim dukungan psikososial. Dalam situasi tersebut, stigma kemiskinan, tekanan akademik, dan relasi sosial yang timpang justru dapat memperbesar tekanan emosional peserta didik.

Penelitian lain dalam Child and Adolescent Mental Health Journal (2022) menegaskan bahwa perasaan dikucilkan, direndahkan, atau merasa tidak setara dengan teman sebaya merupakan faktor signifikan yang meningkatkan tekanan mental anak dan risiko bunuh diri, terutama ketika anak tidak memperoleh dukungan dari keluarga, sekolah, maupun komunitas.

Dengan demikian, tragedi anak SD di NTT tidak dapat dipandang sebagai kegagalan individu atau keluarga semata. Peristiwa ini mencerminkan kegagalan sistemik dalam menjamin pendidikan yang benar-benar inklusif, bebas dari beban tersembunyi, serta absennya layanan kesehatan mental anak yang mudah diakses, khususnya di wilayah rentan.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa anak adalah manusia dengan emosi dan kerentanan yang nyata. Ketika tekanan ekonomi, sosial, dan struktural bertumpuk tanpa perlindungan memadai, risiko peristiwa serupa akan terus ada. Tanpa perubahan kebijakan dan pendekatan yang lebih manusiawi, kisah duka ini berpotensi terus berulang dalam sunyi.***

About Author

Ayu Diah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *