38°C
11/03/2026
Sejarah

Lembang dan Jejak Ilmuwan: Warisan Junghuhn dalam Sejarah dan Alam

  • Desember 30, 2025
  • 3 min read
Lembang dan Jejak Ilmuwan: Warisan Junghuhn dalam Sejarah dan Alam

INFO BANDUNG BARAT — Lembang tidak hanya dikenal sebagai kawasan pegunungan berhawa sejuk, tetapi juga sebagai ruang sejarah yang merekam kiprah para ilmuwan Eropa yang pernah berkontribusi bagi ilmu pengetahuan dan pengembangan perkebunan di Hindia Belanda. Di wilayah inilah berbagai gagasan dan eksperimen ilmiah dilakukan, salah satunya melalui peran Franz Wilhelm Frederich Junghuhn.

Junghuhn merupakan ilmuwan kelahiran Mansfeld, Jerman, pada 26 Oktober 1809. Ia datang ke Nusantara sebagai dokter militer pada 1835. Namun, pesona alam tropis dan bentang pegunungan Priangan membuatnya menetap lebih lama. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi kerja ilmiah yang serius, terutama dalam bidang botani, geografi, dan kesehatan.

Dari hasil penjelajahannya, Junghuhn tidak hanya melakukan penelitian tumbuhan, tetapi juga menyusun pemetaan Pulau Jawa yang relatif lengkap pada masanya. Salah satu kontribusinya yang paling penting adalah perannya dalam pengenalan dan pembudidayaan tanaman kina.

Tanaman kina memiliki nilai strategis karena kandungan alkaloidnya digunakan sebagai obat malaria, penyakit mematikan yang kala itu banyak menyerang wilayah tropis. Upaya Junghuhn dalam mengembangkan kina menjadi fondasi penting bagi industri farmasi di Hindia Belanda. Puncak keberhasilan tersebut ditandai dengan berdirinya Bandoengsche Kinine Fabriek NV pada 29 Juni 1896, sebuah pabrik kimia farmasi yang pada masanya mampu menyuplai sekitar 90 persen kebutuhan kina dunia.

Sejarah penanaman pertama pohon kina oleh Junghuhn di kawasan Lembang kemudian ditandai dengan pendirian sebuah tugu di Desa Jayagiri yang dikenal sebagai Taman Junghuhn. Tugu berbentuk obelisk tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 2,5 hektare dan hingga kini diyakini sebagai lokasi makam Junghuhn.

Di tempat inilah sang ilmuwan menghabiskan masa akhir hidupnya sebelum wafat pada 24 April 1864, dengan latar Gunung Tangkuban Parahu sebagai saksi bisu perjalanan intelektualnya. Atas kontribusinya, Junghuhn dijuluki sebagai “Si Humboldt dari Jawa” (Humboldt van Java), sebuah gelar prestisius yang menyandingkannya dengan Alexander von Humboldt.

Namun, besarnya jasa Junghuhn tidak sepenuhnya sebanding dengan kondisi kawasan yang menyimpan jejak sejarahnya. Lahan yang ditetapkan sebagai cagar alam Taman Junghuhn melalui ketetapan pemerintah kolonial pada 21 Februari 1919 kini tampak kurang terawat. Kawasan tersebut cenderung terbengkalai, ditumbuhi semak belukar, serta terdesak oleh permukiman warga di sekitarnya.

Di bagian belakang tugu Junghuhn, terdapat pula makam J.E. de Vrij, seorang farmakolog yang turut berperan dalam penelitian dan pengembangan kina untuk pengobatan malaria. Bersama Junghuhn, de Vrij menjadi bagian dari mata rantai ilmiah yang menghubungkan Lembang dengan sejarah kesehatan dunia.

Kisah Junghuhn dan Taman Junghuhn menjadi pengingat bahwa Lembang bukan hanya destinasi wisata alam, tetapi juga lanskap sejarah yang merekam peran penting ilmu pengetahuan dalam perjalanan sejarah tanah Priangan.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *