Longsoran Gunungan Sampah di Bantar Gebang Menimpa Truk yang Sedang Mengantre
INFO BANDUNG BARAT — Longsoran gunungan sampah kembali terjadi di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, pada Kamis [7/11]. Insiden ini diduga dipicu oleh kelebihan kapasitas (overload) yang membuat tumpukan sampah menjadi tidak stabil hingga akhirnya runtuh dan menimpa truk sampah yang sedang mengantre.
Dalam kejadian tersebut, seorang sopir truk dilaporkan mengalami luka setelah tertimpa material longsoran dan segera dilarikan ke klinik terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.
Longsoran terjadi di Zona Dua, sebagaimana terlihat dalam rekaman video amatir yang menunjukkan gunungan sampah bergerak cepat sebelum menghantam truk hingga kendaraan itu terbalik. Gunungan sampah di TPST Bantar Gebang dilaporkan telah mencapai ketinggian sekitar 60 meter, setara gedung 16 lantai, yang memperbesar risiko longsor.
Kondisi TPST yang rentan ini semakin mengkhawatirkan, terutama pada musim hujan ketika curah hujan ekstrem dapat memperburuk kestabilan timbunan sampah. Situasi tersebut tidak hanya membahayakan pengemudi dan pekerja, tetapi juga menimbulkan potensi risiko bencana bagi masyarakat sekitar. Ratusan warga di sekitar TPST berisiko terdampak apabila longsor terjadi dalam skala lebih besar.
Hingga kini, pengelolaan sampah di TPST Bantar Gebang masih menggunakan sistem open dumping, di mana sampah ditumpuk terus-menerus tanpa penutupan lapisan tanah. Sistem ini menyulitkan proses penguraian, apalagi karena sampah organik dan nonorganik tercampur. Penanganan yang tidak tepat dapat meningkatkan produksi gas metana yang berpotensi memicu ledakan, seperti tragedi TPA Leuwigajah pada 21 Februari 2005 yang menewaskan 157 orang dan menjadi salah satu bencana landfill terburuk di dunia.
Dua dekade setelah tragedi tersebut, pertanyaan besar kembali muncul, sejauh mana kemajuan pengelolaan sampah di Indonesia? Faktanya, masih banyak TPS dan TPA yang tetap menggunakan sistem open dumping alih-alih metode cover soil atau sanitary landfill yang lebih aman dan ramah lingkungan.***
Penulis: Anggie Baeduri
Editor: Ayu Diah Nur’azizah