38°C
10/03/2026
Sejarah

Mandalawangi: Tapak Landasan Udara Kolonial yang Hilang di Tanah Priangan

  • Juli 8, 2025
  • 4 min read
Mandalawangi: Tapak Landasan Udara Kolonial yang Hilang di Tanah Priangan

INFO BANDUNG BARAT–Di tengah perubahan lanskap pedesaan Jawa Barat, tak banyak yang menyadari bahwa Desa Mandalawangi, Kecamatan Cipatat, pernah menjadi bagian dari strategi besar pertahanan udara Hindia Belanda. Jejak itu kini nyaris hilang, namun catatan sejarah menyimpan detail menarik tentang sebuah landasan pacu darurat kolonial yang pernah berdiri di wilayah ini.

Infrastruktur Udara di Masa Kolonial

Pada dekade 1920-an hingga awal 1940-an, Pemerintah Hindia Belanda aktif membangun jaringan noodlandingterreinen (landasan pendaratan darurat) sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan mobilitas udara, baik untuk militer maupun sipil. Salah satu titik yang dibangun berada di kawasan Rajamandala, yang kini masuk dalam wilayah administratif Mandalawangi, Kabupaten Bandung Barat.

Proyek ini dijalankan oleh Departement van Gouvernementsbedrijven, lembaga kolonial yang menangani sektor-sektor strategis pemerintah, termasuk penerbangan. Dokumen resmi tahun 1931 mencatat bahwa landasan Rajamandala memiliki ukuran sekitar 600 meter panjang dan 100 meter lebar, berada di ketinggian ±310 meter di atas permukaan laut. Lokasi ini juga dipilih karena kedekatannya dengan Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) dan Stasiun Rajamandala, yang saat itu aktif melayani jalur Bandung–Cianjur.

Rajamandala dalam Rantai Logistik Udara Hindia Belanda

Rajamandala bukan satu-satunya titik. Hingga awal 1930-an, tercatat ada setidaknya 29 titik landasan darurat yang dibangun di wilayah Jawa, termasuk di Sukamiskin, Lembang, Cimahi, Karawang, dan Cileunca. Keberadaan jaringan ini memungkinkan pesawat untuk melakukan pendaratan tak terjadwal jika kondisi cuaca atau mesin tidak memungkinkan melanjutkan penerbangan.

Landasan-landasan ini tidak dibangun sekompleks bandara, melainkan cukup berupa tanah padat yang diratakan dan dijaga agar tetap bebas dari hambatan besar seperti batu, lubang, atau tumbuhan tinggi. Meski sederhana, fungsinya krusial dalam sistem pertahanan dan logistik udara kolonial.

Catatan Insiden yang Terdokumentasi

Salah satu peristiwa penting terkait landasan Rajamandala terjadi pada September 1939, ketika sebuah pesawat ringan yang dioperasikan oleh klub penerbangan sipil mendarat darurat akibat kendala teknis. Insiden ini tercatat dalam surat kabar kolonial seperti De Locomotief dan De Sumatra Post, yang melaporkan bahwa badan pesawat mengalami kerusakan ringan, namun seluruh awak selamat.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa meskipun Rajamandala bukan bandara utama, fungsinya tetap relevan dalam keadaan darurat. Setelah insiden, pesawat tersebut dibongkar dan dipindahkan ke Bandara Andir (kini Bandara Husein Sastranegara) untuk proses perbaikan.

Transformasi Lahan Pasca-Kolonial

Setelah Indonesia merdeka, fungsi lahan di Rajamandala mengalami transformasi total. Bekas landasan pacu tidak lagi digunakan, dan secara perlahan berubah menjadi area pertanian, perkebunan, serta permukiman. Seiring waktu, tidak ada lagi sisa fisik yang mencolok dari eksistensinya sebagai fasilitas penerbangan.

Kondisi ini sejalan dengan banyak jejak infrastruktur kolonial lain di Indonesia yang terhapus tanpa dokumentasi fisik, terkubur di bawah pembangunan baru, atau dilupakan karena minimnya literasi sejarah lokal.

Mengungkap Sejarah dari Arsip dan Peta Lama

Meski jejak visualnya menghilang, eksistensi landasan ini dapat ditelusuri lewat dokumen kolonial, arsip maskapai, dan studi akademik. Peneliti aeperti Wicaksono dan Wahid (2022) mencatat bahwa banyak titik noodlanding seperti Rajamandala dibangun dengan pertimbangan strategis yang matang, dekat dengan jalur kereta, jalan utama, serta cukup jauh dari pemukiman padat.

Sementara itu, peta-peta topografi lama dan foto udara arsip KNILM menunjukkan kesamaan bentuk antara lokasi Mandalawangi dengan desain standar landasan pendaratan darurat pada era 1930-an.


Sumber:

  1. Ayobandung.com. Landasan Pacu Pesawat Warisan Belanda di Rajamandala Bandung Barat. Diakses 8 Juli 2025 dari: https://www.ayobandung.com/umum/799026886/landasan-pacu-pesawat-warisan-belanda-di-rajamandala-bandung-barat
  2. Wicaksono, D.A. & Wahid, A. (2022). Kolaborasi dan Intervensi: Maskapai Penerbangan Hindia Belanda 1928–1940-an. Lembaran Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.
  3. Colombijn, Freek. (2010). Under Construction: The Politics of Urban Space and Housing during the Decolonization of Indonesia. KITLV Press.
  4. Van Haselen, G. (2005). Catatan Perintisan Penerbangan Militer Hindia Belanda. Arsip KNILM, Den Haag.
  5. Reid, Anthony. (1997). War, Nationalism and Peasants: Java under the Japanese 1942–1945. Leiden: KITLV Press.
  6. Nas, Peter J.M. (2002). The Indonesian Town Revisited. Münster: LIT Verlag.
  7. De Locomotief, 5 September 1939.
  8. De Sumatra Post, 9 September 1939.
  9. Peta topografi dan arsip noodlanding KNILM 1930-an (KITLV Leiden).
  10. Google Maps, citra udara Rajamandala – Diakses 8 Juli 2025.
About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *