38°C
16/01/2026
Climate

Melihat Kelompok Rentan di Tengah Bencana

  • Desember 17, 2025
  • 3 min read
Melihat Kelompok Rentan di Tengah Bencana

INFO BANDUNG BARAT — Bencana alam seperti banjir dan tanah longsor yang kerap terjadi akhir-akhir ini membawa dampak yang sangat merugikan bagi masyarakat. Kerugian tersebut tidak hanya bersifat fisik, seperti rusaknya tempat tinggal dan fasilitas umum, tetapi juga mencakup dampak psikologis dan sosial. Dalam situasi darurat, rasa takut, kehilangan, serta ketidakpastian menjadi beban yang harus dihadapi para korban. Namun, perlu disadari bahwa tidak semua orang memiliki kapasitas yang sama untuk bertahan atau menyelamatkan diri ketika bencana terjadi.

Meskipun bencana tidak memilih korban, dampaknya tidak pernah dirasakan secara merata. Kelompok rentan kerap berada pada posisi paling terdampak karena keterbatasan fisik, kesehatan, maupun sosial yang mereka miliki. Sayangnya, dalam banyak kasus, kebutuhan kelompok rentan justru luput dari perhatian, padahal merekalah yang paling membutuhkan perlindungan dan penanganan khusus.

Salah satu kelompok yang sangat rentan dalam situasi bencana adalah penyandang disabilitas. Keterbatasan akses informasi menjadi tantangan besar, terutama bagi penyandang disabilitas rungu dan netra yang kesulitan menerima peringatan dini. Hambatan dalam proses evakuasi dan transportasi juga sering terjadi akibat fasilitas yang tidak ramah disabilitas. Selain itu, tempat pengungsian kerap tidak dirancang secara aksesibel, sehingga membatasi mobilitas mereka. Penyandang disabilitas mental bahkan sering disalahpahami, yang berisiko memunculkan perlakuan kasar atau penanganan yang keliru selama masa tanggap darurat.

Kelompok lansia juga menghadapi risiko yang tidak kalah besar. Banyak lansia hidup dengan penyakit kronis yang memerlukan pengobatan rutin, sementara kondisi bencana sering kali memutus akses terhadap layanan kesehatan. Mobilitas yang terbatas serta daya tahan tubuh yang menurun membuat lansia lebih sulit mengevakuasi diri. Di sisi lain, tekanan psikologis akibat bencana dapat memicu stres dan trauma mendalam, terutama ketika mereka kehilangan rasa aman dan rutinitas sehari-hari.

Perempuan, terutama ibu hamil dan ibu menyusui, merupakan kelompok lain yang membutuhkan perhatian khusus. Dalam kondisi bencana, perempuan rentan mengalami kekerasan dan pelecehan, serta memikul tanggung jawab ganda terhadap anak-anak dan anggota keluarga lainnya. Risiko medis pada ibu hamil dan menyusui juga cenderung meningkat. Kehilangan rekam medis, obat-obatan, serta akses terhadap tenaga kesehatan dapat memperburuk kondisi mereka. Lingkungan pengungsian yang padat dan kurang higienis turut meningkatkan risiko infeksi. Kurangnya pemahaman mengenai kebutuhan spesifik ibu hamil dan menyusui berpotensi berujung pada kesalahan penanganan, termasuk pemberian obat atau vaksin yang tidak sesuai.

Anak-anak termasuk kelompok paling rentan dalam situasi bencana. Tubuh mereka lebih mudah mengalami cedera dan penyakit, serta cepat mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Selain dampak fisik, anak-anak sangat rentan terhadap trauma psikologis akibat kehilangan, ketakutan, dan perubahan lingkungan secara tiba-tiba. Keterbatasan tenaga medis dan fasilitas kesehatan khusus anak sering kali membuat kebutuhan mereka tidak tertangani secara optimal.

Melihat berbagai kerentanan tersebut, penanganan bencana tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Diperlukan kebijakan dan respons yang inklusif serta berperspektif kelompok rentan agar tidak ada pihak yang tertinggal dalam situasi darurat.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *