38°C
27/04/2026
Budaya

Menelusuri Jejak Pionir dan Filosofi Barong Sae Trisula dari Tagogapu

  • Desember 18, 2025
  • 4 min read
Menelusuri Jejak Pionir dan Filosofi Barong Sae Trisula dari Tagogapu

INFO BANDUNG BARAT — Di tengah geliat pelestarian seni tradisi Sunda, Barong Sae Trisula hadir bukan sekadar sebagai tontonan budaya, melainkan sebagai jejak panjang sejarah, spiritualitas, dan perlawanan ingatan kolektif masyarakat Tagogapu – Campakamekar, Kabupaten Bandung Barat.

Menurut Nida, anggota Barong Sae Trisula, lahirnya Trisula tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang kesenian Barong dan Barong Sae Sunda yang telah hidup sejak pertengahan abad ke-20. “Barong Sunda itu sudah ada jauh sebelum istilah barongsai dikenal luas. Di Tagogapu, barong sudah menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat,” ujarnya.

Pionir Barong Sae Sunda di Bandung Barat

Sejarah Barong Sae Sunda di wilayah Tagogapu dan Campakamekar ditelusuri sejak 1948, dengan tokoh pionir bernama Abah Saud. Ia dikenal sebagai sosok perintis Barong Sae Sunda pertama di wilayah tersebut. Barong-barong awal diberi nama Si Manis, Si Bunga, dan Si Bintang, yang masing-masing lahir pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an.

Namun perjalanan seni ini tidak selalu mulus. Pada pertengahan 1960-an, Barong Sae Sunda sempat berhenti dipentaskan akibat situasi politik nasional. Bahkan salah satu barong, Si Bintang, disebut harus dimusnahkan karena dianggap “galak” dan dikhawatirkan membawa malapetaka.

“Barong sempat disimpan, disembunyikan, bahkan ditinggalkan. Tapi ingatan tentangnya tidak pernah benar-benar hilang,” kata Nida.

Tongkat estafet kemudian diteruskan oleh Abah Oom, putra Abah Saud, yang hingga kini menjadi sesepuh dan saksi hidup perjalanan Barong Sae Sunda. Dari garis inilah Barong Sae Trisula kemudian lahir.

Lahir dari Mimpi, Dibentuk oleh Ritual

Berbeda dengan barong sebelumnya yang bertanduk satu, Barong Sae Trisula memiliki ciri khas tiga tanduk. Nama “Trisula” merujuk langsung pada bentuk tersebut. Nida menuturkan, Trisula lahir bukan dari perencanaan biasa, melainkan dari mimpi berulang yang dialami oleh Fuad Taufik Rizal atau yang akrab disapa A Opik—suaminya—sekitar satu dekade lalu.

“Dari dulu, barong itu memang sering berawal dari mimpi. Sama seperti dulu di tahun 1950-an, barong juga lahir dari mimpi,” jelasnya.

Proses pembuatannya pun sarat ritual adat. Pemilihan bambu tidak sembarangan, harus melalui puasa, sesajen, hingga penentuan hari tertentu. Bahkan bambu yang digunakan disebut berbeda dari bambu pada umumnya, harus yang berdiri tunggal, keras seperti kayu jati, dan sulit ditebang.

Pembuatan kerangka Trisula disebut hanya memakan waktu satu malam, jauh lebih singkat dibanding barong lain yang biasanya membutuhkan waktu hingga satu bulan. Peristiwa ini disaksikan langsung oleh Nida, yang menyebut prosesnya terjadi dalam kondisi setengah sadar, seolah ada kekuatan lain yang menggerakkan.

Filosofi Trisula: Tiga Tanduk, Tiga Nilai

Secara filosofis, tiga tanduk Barong Sae Trisula melambangkan konsep Tritangtu dalam kosmologi Sunda buhun, yaitu keseimbangan antara alam, manusia, dan kekuasaan. Dalam tafsir lain, ia juga merepresentasikan Rama, Prabu, dan Resi, simbol tatanan sosial-politik Sunda kuno.

Warna putih dan merah pada Trisula dan Cumeti (pasangannya) melambangkan pertarungan batin manusia, antara kesabaran dan nafsu, kebaikan dan kejahatan. Sementara sayap di bagian belakang barong menjadi simbol harapan dan cita-cita setinggi langit.

“Barong bukan sekadar topeng atau bentuk. Ia karakter. Ada nilai yang bisa diambil manusia, keseimbangan, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap alam,” kata Nida.

Menjaga yang Bukan Sekadar Seni

Hari ini, Barong Sae Trisula telah tampil di berbagai acara daerah, masuk dokumentasi TV Nasional, dan menjadi rujukan utama setiap kegiatan budaya di Bandung Barat. Namun bagi Nida, yang terpenting bukan panggung atau popularitas.

“Barong ini bukan milik kami saja. Ini titipan sejarah. Kalau tidak dijaga, ia bisa hilang lagi seperti dulu,” tutupnya.

Di tengah arus modernisasi, Barong Sae Trisula berdiri sebagai pengingat bahwa seni tradisi Sunda bukan hasil adopsi, melainkan warisan panjang yang lahir dari mimpi, ritual, dan keyakinan masyarakatnya sendiri.***


Penulis & Editor: Ayu Diah Nur’azizah

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *