38°C
10/05/2026
Budaya

Teknologi Pertanian Tradisional Sunda Kuno dan Keberlanjutannya hingga Kini

  • Desember 18, 2025
  • 4 min read
Teknologi Pertanian Tradisional Sunda Kuno dan Keberlanjutannya hingga Kini

INFO BANDUNG BARAT — Naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian yang ditulis pada tahun 1518 menjadi salah satu sumber penting untuk memahami kehidupan masyarakat Sunda pada masa lampau. Naskah ini tidak hanya memuat ajaran moral dan tata kehidupan sosial, tetapi juga menjabarkan berbagai aspek keseharian masyarakat, salah satunya praktik pertanian. Menariknya, dalam naskah tersebut tercatat sejumlah peralatan bertani tradisional yang hingga kini masih dikenal dan bahkan digunakan oleh masyarakat Sunda.

Beberapa peralatan pertanian yang disebutkan dalam naskah tersebut antara lain kujang, baliung, patik, kored, dan sadap. Keberlanjutan penggunaan alat-alat ini hingga masa kini mencerminkan pengetahuan dan keyakinan masyarakat Sunda yang diwariskan secara turun-temurun.

Pada awalnya, kujang berfungsi sebagai alat pertanian yang bersifat praktis. Kujang digunakan sebagai pamangkas, sejenis congrang, untuk membersihkan semak, rumput, dan ranting di wilayah huma. Alat ini berperan penting dalam tahap awal pengolahan lahan sebelum benih ditanam. Selain itu, kujang juga berfungsi sebagai alat perlindungan diri bagi petani dari ancaman hewan liar atau gangguan lain saat bekerja di ladang.

Seiring waktu, fungsi kujang mengalami pergeseran makna. Dari alat yang bersifat semi profan dan sakral, kujang kemudian dipandang sepenuhnya sakral. Pada masa kini, kujang lebih dikenal sebagai simbol budaya Sunda dan digunakan dalam berbagai upacara adat, khususnya sebagai media permohonan izin sebelum membuka lahan pertanian.

Baliung merupakan peralatan pertanian berikutnya yang disebutkan dalam Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian. Pada masa Kerajaan Sunda Kuno, baliung digunakan sebagai alat perimbas tanah, serupa dengan cangkul, sekaligus untuk memotong perdu agar lahan huma bersih dari semak belukar. Hingga kini, baliung masih dimanfaatkan, meskipun mengalami perubahan bahan, bentuk, dan ukuran. Fungsinya pun meluas, tidak hanya untuk keperluan pertanian, tetapi juga untuk memipih kayu sebagai bahan bangunan rumah serta pembuatan peralatan dapur, seperti dulang atau tempat nasi.

Golok atau bedog, memiliki perjalanan fungsi yang menarik. Dalam naskah kuno Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian, bedog disebut sebagai pusaka para raja. Namun, seiring dinamika kehidupan masyarakat pendukungnya, bedog mengalami peralihan fungsi menjadi alat perkakas sehari-hari. Dalam konteks pertanian dan perkebunan, bedog dinilai efektif untuk menebas batang kayu yang tebal dan membersihkan lahan huma. Hingga kini, bedog tetap menjadi alat andalan petani karena kepraktisan dan ketajamannya.

Kored merupakan salah satu alat pertanian tradisional Tatar Sunda yang masih digunakan hingga sekarang. Alat ini dimanfaatkan untuk kegiatan nyacar, yakni membersihkan huma dari rerumputan dan perdu liar. Selain itu, kored juga digunakan untuk menyiangi rumput di sekitar tanaman padi.

Seiring berkembangnya pengetahuan masyarakat mengenai pertanian, tumbuh pula pemahaman bahwa rerumputan liar dapat menyerap nutrisi tanah dan menghambat pertumbuhan padi. Oleh karena itu, penggunaan kored menjadi penting untuk menjaga kualitas dan hasil panen, khususnya pada pertanian lahan kering atau huma.

Penggunaan sadap yang kemudian berkembang menjadi etem atau ani-ani dalam proses panen padi berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat Sunda terhadap padi sebagai tanaman yang harus diperlakukan dengan penuh kehati-hatian. Padi diyakini “takut” terhadap benda tajam, sehingga alat panen dibuat kecil dan tersembunyi dalam genggaman tangan. Etem umumnya terbuat dari kayu dan bambu, dengan mata pisau kecil di salah satu sisinya. Saat memanen, petani menjepit etem di antara jari tengah dan jari manis, lalu menggesekkannya ke batang padi hingga terpotong dengan rapi. Cara ini dipercaya dapat menjaga keutuhan dan kesakralan padi.

Selain alat-alat yang disebutkan dalam naskah kuno, terdapat pula garu dan waluku yang menjadi bagian penting dari pertanian tradisional Sunda. Garu digunakan untuk menggemburkan dan membelah tanah yang masih keras agar siap ditanami. Meskipun tidak tercatat dalam Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian, penggunaan garu telah menjadi pengetahuan pertanian yang menyebar luas dan tetap dipertahankan hingga kini.

Sementara itu, waluku merupakan alat bajak tradisional yang menggunakan tenaga kerbau sebagai penggeraknya. Alat ini digunakan pada pertanian lahan basah, khususnya dalam proses turun ngambut. Menariknya, penggunaan waluku secara tidak langsung turut menyuburkan tanah, karena kotoran kerbau yang dihasilkan selama proses pembajakan berfungsi sebagai pupuk alami.

Secara keseluruhan, peralatan pertanian tradisional Sunda mencerminkan hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan kepercayaan. Naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian menjadi bukti bahwa pengetahuan pertanian leluhur tidak hanya tersimpan sebagai catatan sejarah, tetapi juga terus hidup dan beradaptasi hingga masa kini.***


Penulis: Anggie Baeduri Aulia R

About Author

Tim Redaksi

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *