38°C
11/03/2026
Bhineka

Mengapa Awal Ramadan Berbeda Setiap Tahun? Memahami Mekanisme Kalender Hijriah

  • Februari 9, 2026
  • 2 min read
Mengapa Awal Ramadan Berbeda Setiap Tahun? Memahami Mekanisme Kalender Hijriah

INFO BANDUNG BARAT — Setiap tahun, umat Muslim di seluruh dunia menyambut bulan suci Ramadan. Namun, ada satu fenomena yang selalu berulang dan kerap menimbulkan pertanyaan: mengapa tanggal 1 Ramadan dalam kalender Masehi selalu “maju” atau bergeser setiap tahunnya? Fenomena ini bukan tanpa alasan, melainkan berkaitan dengan perbedaan sistem penanggalan antara kalender Hijriah dan kalender Masehi.

Perbedaan mendasar ini berakar pada objek langit yang dijadikan patokan. Kalender Masehi atau Syamsiah didasarkan pada pergerakan Bumi mengelilingi Matahari (solar system), dengan durasi satu tahun sekitar 365,24 hari. Di sisi lain, kalender Hijriah atau Qamariah yang digunakan sebagai acuan penentuan awal Ramadan sepenuhnya bergantung pada siklus peredaran Bulan mengelilingi Bumi (lunar system).

Menurut ahli astronomi dan astrofisika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, satu siklus sinodis Bulan memakan waktu sekitar 29,5 hari. Ketika 12 siklus Bulan tersebut diakumulasikan, total panjang satu tahun Hijriah hanya mencapai rata-rata 354 hari.

Dengan demikian, tercipta selisih waktu sekitar 10 hingga 12 hari setiap tahunnya dibandingkan kalender Masehi. Perbedaan inilah yang menyebabkan kalender Hijriah seolah “bergerak maju” dalam penanggalan Masehi. Fenomena pergeseran tanggal ini kerap dimaknai sebagai bentuk keadilan Allah, yang memungkinkan umat Islam merasakan pengalaman berpuasa di berbagai musim, baik saat musim panas yang panjang dan melelahkan maupun musim hujan atau musim dingin dengan waktu puasa yang lebih pendek. Hal ini menghindarkan ibadah puasa dari rasa berat yang terus-menerus di satu musim tertentu.

Proses penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah pun memiliki kekhasan, yakni mengandalkan kemunculan hilal (bulan sabit muda). Di Indonesia, hal ini menjadi tantangan tersendiri dan melahirkan dua metode utama, yaitu rukyat (pengamatan langsung) dan hisab (perhitungan astronomis yang kini semakin presisi melalui komputasi). Kedua metode tersebut terkadang menghasilkan perbedaan awal puasa, yang kemudian disatukan melalui Sidang Isbat oleh Kementerian Agama untuk penetapan resmi.

Dampak dari pergeseran tahunan ini sangat nyata. Sebagai contoh, karena siklus kalender Hijriah, umat Islam diprediksi akan menjalankan ibadah puasa Ramadan sebanyak dua kali dalam kalender Masehi pada tahun 2030 mendatang. Sementara itu, metode hisab yang semakin canggih memungkinkan prediksi posisi Bulan hingga ratusan tahun ke depan, bahkan menawarkan solusi penentuan waktu ibadah dalam kondisi ekstrem, seperti bagi para astronaut di luar angkasa.

Perbedaan tanggal Ramadan setiap tahun merupakan hal yang alami karena umat Islam mengikuti siklus lunar (Bulan), bukan solar (Matahari). Selisih sekitar 11 hari per tahun memastikan Ramadan tidak terpaku pada satu bulan Masehi, melainkan terus bergerak sepanjang tahun.***

About Author

Anggie Baeduri Aulia

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *