INFO BANDUNG BARAT — Masyarakat Sunda dikenal memiliki kebiasaan khas dalam menikmati teh. Berbeda dengan sebagian besar daerah lain di Indonesia yang cenderung menyukai teh manis, warga Jawa Barat lebih identik dengan minum teh tawar. Bagi masyarakat Sunda, teh tawar bukan sekadar minuman penghilang dahaga, melainkan bagian dari identitas budaya yang telah mengakar selama berabad-abad.
Kebiasaan ini kerap memunculkan pertanyaan. Helen Saberi dalam Tea: A Global History (2010) menduga bahwa tradisi tersebut berkaitan erat dengan sejarah kolonial. Pada masa penjajahan Belanda, wilayah Priangan menjadi lokasi utama pembukaan perkebunan teh secara besar-besaran. Tanah vulkanik yang subur dan udara pegunungan yang sejuk menjadikan Jawa Barat sebagai salah satu penghasil teh utama di Indonesia.
Ketersediaan daun teh berkualitas langsung dari sumbernya membuat masyarakat Sunda terbiasa menikmati aroma dan rasa getir teh tanpa tambahan gula. Hal ini berbeda dengan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dikenal sebagai pusat perkebunan tebu, sehingga minuman manis lebih akrab dalam budaya setempat. Dalam buku Ragam Minuman Khas Indonesia (2024) karya Murdjiati dkk., disebutkan bahwa masyarakat Jawa Barat lebih menyukai teh bening dan tawar, sementara warga Yogyakarta dan Solo cenderung memilih teh panas yang kental dan manis.
Selain faktor sejarah dan ketersediaan bahan, kebiasaan minum teh tawar juga berkaitan dengan karakter kuliner Sunda yang kaya rasa. Hidangan Sunda umumnya pedas, gurih, dan berlemak, seperti sambal dadak, gorengan, serta masakan bersantan dan berbahan daging. Dalam konteks ini, teh tawar berperan sebagai palate cleanser atau pembersih langit-langit mulut. Rasa sepat alami dari tanin dalam teh membantu meluruhkan sisa lemak dan menetralkan rasa pedas, sehingga mulut terasa lebih segar setelah makan.
Yetti Haryati dkk. dalam Makanan: Wujud, Variasi dan Fungsinya serta Cara Penyajiannya pada Orang Sunda di Jawa Barat (1993) mencatat bahwa teh yang dikonsumsi masyarakat Sunda umumnya tanpa gula. Minuman ini dikenal dengan sebutan citeh.
Selain fungsi kuliner, teh tawar juga memiliki nilai sosial yang kuat. Dalam budaya Sunda dikenal tradisi nyaneut, singkatan dari nyandeutkeun kadeudeuh, yang berarti mendekatkan kasih sayang. Nyaneut merupakan kebiasaan minum teh bersama pada sore atau malam hari untuk menghangatkan tubuh sekaligus mempererat hubungan antaranggota keluarga atau tetangga.
Tradisi ini juga menjadi bagian dari etika menjamu tamu. Menyuguhkan teh tawar atau citeh dipandang sebagai bentuk keramahan yang tulus. Di banyak warung nasi Sunda, teh tawar bahkan disajikan secara gratis sebagai bagian dari pelayanan.
Selain aspek budaya dan sosial, teh tawar juga dinilai memiliki manfaat kesehatan. Tanpa tambahan gula, teh kaya akan antioksidan, membantu pencernaan, menjaga berat badan, serta memberikan energi. Bagi petani yang bekerja di sawah, minum teh tawar hangat pada pagi hari dipercaya dapat meningkatkan stamina tanpa menimbulkan rasa kantuk akibat lonjakan gula darah.
Bagi masyarakat Sunda, menikmati teh tawar adalah pengalaman yang menyatukan rasa, budaya, dan kehangatan dalam satu cangkir, menjadikannya lebih dari sekadar minuman sehari-hari.***
Penulis: Anggie Baeduri Aulia R
Editor: Ayu Diah Nur’azizah